Jambiday.com, JAMBI — Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Pemilahan sampah sejak dari sumber, pembiasaan hidup bersih dalam keluarga, hingga gerakan bersama di lingkungan Rukun Tetangga (RT) menjadi langkah penting untuk mengurangi timbulan sampah dan mewujudkan Kota Jambi yang bersih serta berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI, Rocky Candra, dalam kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penanganan Sampah, Kedaruratan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), serta Pengelolaan Limbah B3 di Kota Jambi.
Rocky menekankan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau petugas kebersihan. Perubahan harus dimulai dari kebiasaan masyarakat sehari-hari, terutama dalam mengelola sampah yang dihasilkan di rumah.
Menurutnya, langkah awal yang paling sederhana adalah membiasakan pemilahan sampah basah atau organik dengan sampah plastik dan anorganik lainnya.
“Indonesia sudah darurat sampah, begitu juga di Jambi. Pengelolaan sampah itu harus dimulai dari rumah tangga. Kita biasakan dulu memilah sampah, mana sampah basah dan mana sampah plastik. Jangan semuanya dicampur menjadi satu, kemudian baru diserahkan kepada petugas kebersihan,” jelas Rocky saat menyampaikan kata sambutan.
Ia menilai, kebiasaan memilah sampah perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama untuk membangun kesadaran bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang, melainkan harus dikelola dengan benar.
Anak-anak, orang tua, dan seluruh anggota keluarga dapat mengambil peran masing-masing. Orang tua memberikan contoh, anak-anak dibiasakan membuang dan memilah sampah sesuai jenisnya, sementara anggota keluarga lainnya menjaga agar kebiasaan tersebut berlangsung secara konsisten.
Rocky juga mendorong agar gerakan pemilahan sampah tidak berhenti di dalam rumah. Kesadaran itu harus meluas ke tetangga dan lingkungan sekitar, termasuk melalui kegiatan bersama di tingkat RT.
“Kalau sudah dimulai dari rumah, kemudian tetangga ikut melakukan hal yang sama, lalu seluruh warga di tingkat RT bergerak bersama, dampaknya akan jauh lebih besar. Kita ingin pemilahan sampah menjadi kebiasaan masyarakat, bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan sosialisasi,” tegas Rocky di hadapan peserta sosialisasi yang terdiri dari karyawan MBG di Jambi.
Gerakan Sampah Harus Menjadi Kebiasaan, Bukan Seremonial
Rocky berpandangan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan sosialisasi atau aksi bersih-bersih sesaat. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, pengurus RT, komunitas, serta masyarakat untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber.
Pemilahan sampah basah dan plastik, misalnya, perlu diikuti dengan mekanisme pengumpulan yang jelas. Sampah organik dapat diarahkan untuk pengolahan menjadi kompos, sedangkan sampah plastik yang masih memiliki nilai guna dapat dikumpulkan melalui bank sampah atau saluran daur ulang.
Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya membantu mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga berpotensi memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang dapat dimanfaatkan kembali.
Rocky juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan dukungan dan fasilitas yang memadai. Edukasi kepada masyarakat harus disertai sistem pengangkutan yang mendukung pemilahan, sehingga sampah yang sudah dipisahkan dari rumah tidak kembali tercampur ketika diangkut.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat perlu dibangun melalui pendekatan yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan dapat dilakukan oleh semua kalangan.
Gerakan di tingkat RT dapat menjadi titik awal, misalnya dengan membangun kesepakatan warga mengenai pemilahan sampah, mengaktifkan bank sampah, mengadakan edukasi kepada anak-anak, serta mengembangkan kegiatan pengolahan sampah organik di lingkungan masing-masing.
Desi Florina: Pengelolaan Sampah Dimulai dari Sumber
Sementara itu, Ahli Madya Kementerian Lingkungan Hidup, Desi Florina, yang mewakili Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, menyampaikan apresiasi kepada Rocky Candra, Pemerintah Kota Jambi, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Desi menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat diselesaikan melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan penduduk, perkembangan wilayah, serta meningkatnya pola konsumsi masyarakat menyebabkan timbulan sampah terus bertambah.
“Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, meningkatkan risiko banjir, mengganggu kesehatan masyarakat, bahkan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim,” kata Desi
Karena itu, pemerintah terus mendorong transformasi sistem pengelolaan sampah. Paradigma lama yang hanya mengandalkan pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan ke tempat pemrosesan akhir dinilai tidak lagi memadai.
Pengelolaan sampah harus dimulai dari pengurangan, pemilahan, pemanfaatan kembali, dan pengolahan, sehingga hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dibawa ke TPA.
Desi juga mendorong masyarakat menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), memanfaatkan bank sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, mengurangi plastik sekali pakai, serta membiasakan membawa tas belanja, tumbler, dan wadah makanan sendiri.

Selain pengelolaan sampah rumah tangga, kewaspadaan terhadap bahan berbahaya dan beracun serta limbah B3 juga menjadi perhatian penting. Penanganan yang tidak tepat berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, sehingga edukasi mengenai cara penanganan yang aman perlu terus diperkuat.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat untuk Kota Jambi Bersih
Rocky Candra berharap kegiatan sosialisasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.


Menurutnya, perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Ketika keluarga terbiasa memilah sampah, anak-anak memahami pentingnya menjaga kebersihan, tetangga saling mengingatkan, dan pengurus RT menggerakkan warganya, maka pengelolaan sampah akan menjadi budaya bersama.
Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat dukungan melalui penyediaan fasilitas pemilahan, pengembangan bank sampah, edukasi berkelanjutan, serta sistem pengangkutan yang mendukung pengelolaan sampah dari sumber.
Dengan keterlibatan seluruh unsur, Kota Jambi diharapkan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, mengurangi beban TPA, sekaligus menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman bagi generasi mendatang.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga perubahan perilaku. Gerakan yang dimulai dari rumah, diperluas ke tetangga, dan diperkuat hingga tingkat RT menjadi fondasi penting untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

Pada kesempatan sosialisasi, Rocky Candra juga memberikan bantuan sembako kepada peserta. Harapannya bisa membantu kebutuhan sehari-hari di tengah kesulitan ekonomi saat ini. (OYI)






Discussion about this post