Jambiday.com, JAMBI – Sejumlah pemuda dan elemen masyarakat di Jambi menyampaikan sikap tegas terkait pernyataan yang dilontarkan oleh Tiyo Ardianto. Mereka menilai kritik dalam demokrasi merupakan hal yang wajar dan harus dihormati, namun tidak boleh bergeser menjadi provokasi maupun serangan personal yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Dalam pernyataannya, para pemuda menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan etika, data yang akurat, serta argumentasi yang konstruktif.
Mereka menilai demokrasi membutuhkan kritik sebagai instrumen pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Akan tetapi, kritik yang disampaikan harus memiliki tujuan untuk memperbaiki keadaan dan memberikan solusi, bukan sekadar menciptakan kegaduhan atau membangun narasi yang memicu konflik di tengah masyarakat.
“Demokrasi memang membutuhkan kritik, tetapi kritik juga membutuhkan argumentasi yang kuat, data yang utuh, dan bahasa yang mencerminkan intelektualitas,” ujar Muhlisin perwakilan pemuda Jambi.
Menurut mereka, kritik yang sehat seharusnya diarahkan pada kebijakan publik dan disertai dengan gagasan alternatif yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik yang lebih banyak berisi sindiran, ejekan, atau serangan terhadap pribadi dinilai tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.
Para pemuda tersebut juga menyoroti sejumlah pernyataan yang dinilai telah bergeser dari substansi kritik kebijakan menjadi narasi yang menyerang ranah personal Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Mereka menilai hal tersebut berpotensi mencederai etika komunikasi politik dan memperkeruh suasana kebangsaan.
“Kritik yang baik seharusnya menawarkan solusi, memberikan alternatif kebijakan, dan menghadirkan jalan keluar. Bukan hanya melontarkan sindiran yang dapat menimbulkan perpecahan,” tegasnya.
Atas dasar itu, mereka menyatakan penolakan terhadap kegiatan yang dinilai berpotensi menjadi ruang penyebaran narasi provokatif dan memperuncing polarisasi di tengah masyarakat. Sikap tersebut, menurut mereka, bukanlah bentuk penolakan terhadap kritik, melainkan upaya menjaga persatuan, ketertiban, serta kondusivitas daerah.
Pemuda Jambi berharap ruang demokrasi tetap berjalan sehat dengan mengedepankan dialog, adu gagasan, dan penyampaian kritik yang beretika. Mereka menegaskan bahwa Jambi harus tetap menjadi daerah yang damai dan terbuka terhadap berbagai pandangan, tanpa harus diwarnai narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat. (OYI)



Discussion about this post