Jambiday.com, JAMBI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi merilis sejumlah indikator strategis perekonomian daerah periode Oktober 2026 dan September 2026. Hasilnya menunjukkan dinamika ekonomi Jambi yang cukup beragam, mulai dari kenaikan inflasi, penurunan Nilai Tukar Petani (NTP), peningkatan ekspor dan impor, hingga perkembangan sektor pariwisata.
Dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan Senin (2/11/2026), Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, S.E., M.E., memaparkan empat indikator utama, yakni perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor-impor, serta perkembangan pariwisata.
Dari sisi inflasi, Provinsi Jambi pada Oktober 2026 tercatat mengalami inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 3,51 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,62.
Inflasi tertinggi terjadi di Muara Bungo sebesar 3,89 persen dengan IHK 115,18. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kota Jambi sebesar 3,40 persen dengan IHK 112,22.
Secara bulanan, inflasi Jambi pada Oktober 2026 mencapai 0,50 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 2,82 persen.
“Kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi meningkatnya indeks harga pada 10 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang kenaikan terbesar dengan inflasi mencapai 6,18 persen,” jelas Aidil Adha.
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 4,73 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 4,42 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 3,74 persen, serta transportasi sebesar 3,12 persen.

Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan 2,61 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 2,50 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,72 persen, pendidikan 1,30 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 0,85 persen.
Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah pakaian dan alas kaki, yakni sebesar 4,03 persen.
NTP Petani Turun, Daya Beli Perlu Dicermati
Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada Oktober 2026 sebesar 194,01 atau mengalami penurunan 1,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,33 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani justru meningkat sebesar 0,76 persen.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati karena NTP merupakan ukuran untuk melihat daya beli dan kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap barang maupun jasa yang dikonsumsi petani serta kebutuhan biaya produksi.
Meski mengalami penurunan secara bulanan, secara tahunan NTP Provinsi Jambi masih menunjukkan peningkatan sebesar 11,17 persen dibandingkan Oktober 2025.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Oktober 2026 tercatat sebesar 199,13 atau turun 0,45 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami kenaikan sebesar 0,93 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan biaya konsumsi rumah tangga petani pada Oktober 2026.
Ekspor Jambi Tembus US$232,22 Juta
Berbeda dengan pergerakan inflasi dan NTP, kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Jambi menunjukkan perkembangan positif dari sisi ekspor.
Nilai ekspor asal Provinsi Jambi pada September 2026 mencapai US$232,22 juta. Angka tersebut meningkat 17,26 persen dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar US$198,04 juta.
Lima negara tujuan ekspor terbesar Jambi pada September 2026 adalah Singapura, Malaysia, Jepang, India, dan Amerika Serikat.
Berdasarkan kelompok sektor, industri masih menjadi penyumbang terbesar terhadap total ekspor Jambi hingga September 2026 dengan kontribusi mencapai 51,89 persen.
Selanjutnya, kelompok pertambangan memberikan kontribusi sebesar 43,98 persen, sedangkan sektor pertanian menyumbang 4,13 persen.
Namun, peningkatan ekspor juga diikuti lonjakan impor. Nilai impor Provinsi Jambi pada September 2026 mencapai US$13,80 juta atau meningkat tajam 176,47 persen dibandingkan Agustus 2026 yang hanya sebesar US$4,99 juta.
Lima negara asal impor terbesar Jambi adalah Tiongkok, Kanada, Malaysia, Finlandia, dan Singapura.
Dari sisi komoditas, kelompok mesin dan alat angkutan mendominasi impor dengan kontribusi sebesar 63,73 persen. Disusul hasil industri dan lainnya sebesar 29,75 persen serta bahan kimia dan sejenisnya sebesar 5,90 persen.
Hunian Hotel Meningkat, Jumlah Tamu Menurun
Sementara itu, perkembangan sektor pariwisata Jambi pada September 2026 memperlihatkan pergerakan yang berbeda antara tingkat hunian hotel dan jumlah kunjungan tamu.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat sebesar 55,40 persen, meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang berada pada angka 53,43 persen.
Namun, jumlah tamu yang menginap justru mengalami penurunan. Pada September 2026, jumlah tamu hotel berbintang tercatat sebanyak 57.028 orang, turun 4,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 59.755 orang.
Dari total tamu tersebut, rasio tamu mancanegara terhadap tamu nusantara tercatat sebesar 0,008. Artinya, dari setiap 1.000 tamu yang menginap di hotel berbintang di Provinsi Jambi, terdapat sekitar delapan tamu yang berasal dari luar negeri.
Adapun rata-rata lama menginap tamu mancanegara dan nusantara pada hotel berbintang selama September 2026 tercatat 1,58 hari.
Empat Indikator Jadi Gambaran Ekonomi Jambi
Rilis BPS Provinsi Jambi kali ini memberikan gambaran bahwa perekonomian daerah bergerak dengan dinamika yang berbeda di setiap sektor.
Inflasi tahunan sebesar 3,51 persen menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Di sisi lain, penurunan NTP sebesar 1,08 persen secara bulanan menjadi catatan tersendiri bagi kondisi ekonomi rumah tangga petani.
Sementara itu, peningkatan ekspor sebesar 17,26 persen menunjukkan penguatan aktivitas perdagangan luar negeri, meskipun impor juga mengalami kenaikan signifikan. Pada sektor pariwisata, tingkat hunian hotel meningkat, tetapi jumlah tamu yang menginap mengalami penurunan.
Data-data tersebut menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah dalam membaca perkembangan ekonomi Jambi, khususnya dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing produk ekspor, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. (OYI)





Discussion about this post