Jambiday.com,JAMBI – Penyusutan debit Sungai Batanghari pada musim kemarau 2026 menjadi perhatian serius berbagai pihak. Berdasarkan hasil briefing pemantauan Sungai Batanghari yang membandingkan kondisi sepanjang 2024 hingga 2026, penurunan tinggi muka air tahun ini terjadi lebih cepat dari perkiraan awal. Fenomena tersebut mulai berdampak pada kehidupan masyarakat di Kota Jambi, Muaro Jambi, hingga Kabupaten Batang Hari, mulai dari terganggunya ketersediaan air bersih, sektor perikanan keramba, transportasi sungai, hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dalam dokumen pemantauan tersebut dijelaskan, Jambi telah memasuki fase puncak musim kemarau sejak akhir Juli 2026, lebih cepat dibandingkan proyeksi awal yang memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus–September. Penurunan curah hujan yang drastis serta panjangnya periode tanpa hujan menyebabkan penguapan meningkat sehingga debit Sungai Batanghari terus mengalami penyusutan. Kondisi tersebut terlihat dari munculnya hamparan pasir seluas sekitar lima hektare di sejumlah titik tepian Sungai Batanghari, mulai dari wilayah Kota Jambi, Muaro Jambi hingga Batang Hari. Aktivitas masyarakat yang bergantung pada sungai pun mulai terganggu.

Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST., MM., MT., mengatakan fenomena penyusutan Sungai Batanghari tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian musiman semata. Menurutnya, data historis menunjukkan pola yang terus berulang sehingga membutuhkan penanganan yang lebih komprehensif.
“Penyusutan Sungai Batanghari sudah menunjukkan pola yang berulang dari tahun ke tahun. Ini merupakan sinyal bahwa kita menghadapi persoalan yang bersifat struktural. Karena itu, langkah yang dibutuhkan bukan hanya penanganan ketika air sudah surut, tetapi membangun sistem mitigasi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Ivan, Sabtu 25/07/26).
Ia menilai Sungai Batanghari merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Jambi karena menopang berbagai sektor strategis, mulai dari penyediaan air baku, perikanan, transportasi sungai hingga keseimbangan ekosistem.
“Batanghari bukan sekadar aliran sungai. Ini adalah sumber kehidupan masyarakat Jambi. Ketika debit air turun drastis, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, mulai dari sektor ekonomi, lingkungan hingga kesehatan. Karena itu kita harus menjaga sungai ini secara bersama-sama,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, sektor perikanan menjadi salah satu yang paling terdampak. Di Desa Sungai Duren dan Desa Sarang Burung, Kabupaten Muaro Jambi, penyusutan debit air menyebabkan kadar oksigen menurun sehingga terjadi kematian ikan secara massal di keramba milik warga. Akibatnya, produksi ikan keramba apung diperkirakan turun sekitar 30 persen.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai mulai menghadapi persoalan air bersih. Sejumlah sumur warga mengalami penyusutan debit, bahkan sebagian mengeluarkan air yang berbau dan tidak lagi layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi kemarau yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Provinsi Jambi telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla untuk periode April hingga November 2026 dengan membentuk 81 posko terpadu di kawasan rawan. Hingga akhir semester pertama 2026 tercatat 1.463 titik panas, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 451 titik dan Muaro Jambi sebanyak 339 titik. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 137,72 hektare, sementara di Kabupaten Muaro Jambi sendiri telah terjadi 12 kejadian karhutla sejak Januari, terutama di wilayah Kecamatan Kumpeh yang didominasi lahan gambut.
Perbandingan historis selama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa penyusutan Sungai Batanghari terus berulang. Pada 2024, tinggi muka air di Pos Ancol sempat turun hingga sekitar 7,99 meter dari kondisi normal sekitar 9 meter. Saat itu tongkang batu bara tidak dapat melintas selama lebih dari tiga bulan, banyak sumur warga mengering, sementara hamparan pasir muncul hingga ke tengah sungai.
Pada musim kemarau 2025, kondisi bahkan lebih ekstrem. Tinggi muka air di Pos Tanggo Rajo turun lebih dari satu meter hanya dalam waktu dua minggu, dari sekitar 8,50 meter menjadi 7,65–8,05 meter. Hamparan pasir mencapai sekitar 10 hektare, sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih, bahkan Sungai Batanghari di kawasan Penyengat Rendah sempat dapat diseberangi dengan berjalan kaki.
Sementara pada 2026, meskipun luas hamparan pasir yang terpantau baru sekitar lima hektare, musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober sehingga potensi penyusutan debit air masih terbuka. Dokumen pemantauan juga mengingatkan bahwa karakter penyusutan Sungai Batanghari merupakan pola tahunan yang berulang, bukan kejadian sesaat. Ivan Wirata menilai kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jambi bersama pemerintah kabupaten dan kota untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini.
“Pemerintah harus memastikan distribusi air bersih kepada masyarakat tetap terjaga, memperkuat patroli dan pengendalian Karhutla, membantu para pembudidaya ikan keramba yang terdampak, serta melakukan pemantauan tinggi muka air sungai secara real time agar setiap perubahan dapat segera diantisipasi,” tegasnya
Selain penanganan jangka pendek, Ivan juga menekankan pentingnya kebijakan jangka panjang melalui rehabilitasi daerah aliran Sungai (DAS) Batanghari, konservasi kawasan hulu, pembangunan embung dan infrastruktur penampung air, penguatan sistem peringatan dini, serta pengelolaan Sungai Batanghari secara terpadu.
“Kita tidak boleh hanya sibuk merespons ketika sungai sudah surut. Yang jauh lebih penting adalah membangun ketahanan sumber daya air melalui rehabilitasi DAS, konservasi kawasan hulu, pembangunan embung, penguatan sistem peringatan dini, dan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi serta masyarakat. Dengan kolaborasi itu, Sungai Batanghari akan tetap menjadi sumber kehidupan masyarakat Jambi sekaligus lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim di masa depan,” pungkasnya. (OYI)








Discussion about this post