Jambiday.com, TANJAB BARAT- Kabupaten Tanjung Jabung Barat dinilai memiliki peluang besar untuk menjelma menjadi gerbang perdagangan agro-maritim di Pantai Timur Sumatera. Letaknya yang strategis di kawasan pesisir, akses langsung ke jalur pelayaran internasional, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah menjadi modal kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Dr. Faizal Riza, ST, MM, MT. Menurutnya, Tanjung Jabung Barat tidak hanya memiliki tiga sektor unggulan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah, yakni kelapa dalam, kelapa sawit, dan perikanan, tetapi juga memiliki satu komoditas strategis yang layak menjadi pilar ekonomi baru, yaitu Pinang Betara.
“Tanjung Jabung Barat memiliki semua syarat untuk menjadi kawasan ekonomi yang maju. Potensi yang ada harus dikembangkan secara terintegrasi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Faizal menjelaskan, selama ini sebagian besar komoditas unggulan daerah masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai ekonomi yang dinikmati petani dan masyarakat belum maksimal. Karena itu, langkah hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing daerah.
Di sektor kelapa dalam, misalnya, pengembangan industri Virgin Coconut Oil (VCO), coco fiber, cocopeat, arang aktif, hingga produk makanan dan minuman berbasis kelapa perlu menjadi prioritas. Sementara pada sektor sawit, produksi CPO dan PKO harus diarahkan menuju industri biodiesel, oleokimia, kosmetik, hingga industri pangan yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Sektor perikanan juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pembangunan cold storage, pabrik es, sentra pengolahan hasil laut, serta penguatan sistem logistik agar produk perikanan Tanjung Jabung Barat mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Namun di tengah tiga sektor unggulan tersebut, Faizal menilai Pinang Betara harus mendapat perhatian khusus. Komoditas yang telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (IG) itu memiliki kualitas khas yang diakui pasar internasional, dengan ciri biji berwarna putih, ukuran seragam, dan mutu yang baik.
Saat ini luas perkebunan pinang di Tanjung Jabung Barat mencapai sekitar 11 ribu hektare dengan produksi sekitar 22 ribu ton per tahun. Komoditas ini menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 8 ribu kepala keluarga petani yang tersebar di berbagai wilayah.
Keberhasilan ekspor perdana Pinang Betara ke Jeddah, Arab Saudi pada tahun 2021 menjadi bukti bahwa komoditas tersebut memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Bahkan permintaan dari pasar Timur Tengah terus meningkat, disusul negara-negara lain seperti India, Bangladesh, Pakistan, Uni Emirat Arab, Oman hingga sejumlah negara di Afrika.
“Karena itu saya berpandangan Pinang Betara harus ditempatkan sebagai pilar keempat ekonomi Tanjung Jabung Barat, sejajar dengan kelapa dalam, kelapa sawit, dan perikanan,” tegas Faizal.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah masih minimnya industri pengolahan pinang di daerah. Sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi belum maksimal. Ke depan, pemerintah perlu mendorong pembangunan rumah pengering modern, gudang penyimpanan, sentra pengolahan pinang, serta pengembangan produk turunannya.
Pinang tidak hanya bernilai sebagai komoditas ekspor mentah, tetapi juga memiliki potensi menjadi bahan baku industri herbal, farmasi, kosmetik, hingga ekstrak tanin untuk kebutuhan industri kimia. Bahkan pelepah pinang dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan seperti piring dan kemasan makanan yang kini semakin diminati pasar dunia.
Lebih jauh, Faizal menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi Tanjung Jabung Barat sangat bergantung pada dukungan infrastruktur pelabuhan yang modern dan terintegrasi. Karena itu, Pelabuhan Kuala Tungkal perlu diperkuat sebagai pusat distribusi dan perdagangan regional yang menghubungkan Jambi dengan Batam, Kepulauan Riau, Singapura, serta negara-negara ASEAN lainnya.
Ia juga mendorong integrasi antara Pelabuhan Kuala Tungkal dan Pelabuhan Ujung Jabung. Kuala Tungkal dapat berfungsi sebagai pusat perdagangan regional dan ekspor komoditas unggulan, sementara Ujung Jabung diproyeksikan menjadi hub industri dan ekspor internasional yang mampu melayani kapal-kapal berkapasitas besar.
Dengan strategi tersebut, Tanjung Jabung Barat diyakini mampu tumbuh menjadi pusat agro-maritim modern sekaligus pusat perdagangan komoditas unggulan yang berdaya saing global.
“Saya meyakini jika Pinang Betara dikembangkan secara serius dan terintegrasi, Tanjung Jabung Barat tidak hanya dikenal sebagai sentra pinang terbesar di Jambi, tetapi juga dapat berkembang menjadi Pusat Pinang Nasional dan hub ekspor pinang Indonesia ke Timur Tengah serta Asia Selatan,” katanya.
Menurut Faizal, masa depan Tanjung Jabung Barat terletak pada keberanian untuk bertransformasi dari daerah penghasil bahan mentah menjadi daerah yang mampu mengolah, memasarkan, dan mengekspor produk bernilai tambah tinggi.
“Jika kelapa adalah identitas pesisir, sawit adalah penggerak ekonomi, dan perikanan adalah kekuatan maritim, maka Pinang Betara adalah komoditas masa depan yang mampu menghubungkan Tanjung Jabung Barat dengan pasar dunia,” pungkasnya. (OYI)



Discussion about this post