Jambiday.com, JAMBI– Menjawab maraknya kejahatan yang terjadi di tengah pelajar SMA belakangan ini. SMA Adhiyaksa Jambi jambi melakukan sosialisasi pencegahan perundungan di sekolahnya.
Lolyta, Kepala SMA Adhiyaksa Jambi menyampaikan, pihaknya mencoba merespon apa yang terjadi di tengah tengah pelajar.
“Kemungkinan sebuah kenakalan atau kejahatan itu terjadi karena anak anak tidak mengetahui. Di anggap hal biasa sehingga di lakukan terus menerus oleh anak anak. Perundungan atau bully atau mengolok olok ini kan makanan sehari hari anak anak. Tapi kita perlu memberi batasan. Cara nya dengan terus melakukan kegiatan kegiatan sosialisasi dan pembelajaran mengenai perundungan,” jelas Lolly.
Menurutnya, kejadian di Kabupaten Kerinci yang viral di tanggal 11 Desember 2022 lalu, pihaknya sangat tidak berharap itu juga terjadi di SMA Adhiyaksa.
” Sehingga penting sekali melakukan pencegahan dengan melibatkan pekerja sosial anak Dinsos Jambi untuk sosialisasi. Guna menekan kejahatan seperti bully di sekolah,” papar kepala sekolah di tengah acara.
Kegiatan sosialisasi ini bertujuan memberi pengetahuan dan informasi terhadap anak anak. Bahwa bully itu mampu merusak masa depan anak. Karena mayoritas korban bully bisa trauma berkepanjangan. Dan memberi informasi lain seperti perlunya keterlibatan guru. Orang tua dan masyarakat terhadap pemutusan mata rantai bully atau perundungan di tengah tengah masyarakat.
Sementara itu, Tutie, pekerja sosial anak Dinsos Jambi jambi menyampaikan dalam materinya bahwa biasanya perundungan ini di anggap hal biasa saja oleh anak anak. Padahal korban sudah sangat tersakiti. Sehingga perlu ada kesadaran diri untuk memahami siapa dia dan mengenai otonomi tubuhnya. Anak anak harus mampu mengungkapkan perasaannya dan ketidak terimaannya ketika di olok-olok.
” Apalagi ketika di lakukan perundungan berupa fisik. Anak anak harus mampu mengatakan dan menceritakan apa yang dia alami kepada guru atau orang tuanya. Anak yang berpotensi untuk menjadi pelaku perundungan juga harus menimbulkan empati tersendiri di dirinya. Untuk berhenti menyakiti orang lain walau hanya secara verbal,” ujar Tutie.
Kegiatan seperti ini diharapkan mampu menekan angka keinginan anak anak untuk mengolok-olok. Membully dan menyakiti teman atau orang lain. Setidaknya di Jambi sudah terjadi beberapa kali kasus bully yang viral dan bahkan sampai di laporkan ke tingkat penyidikan.
“Kita sangat tidak berharap terus ada kasus kasus bully di tengah pelajar. Baik anak sebagai pelaku, ataupun orang dewasa lain,” pungkas Tutie. (RED)








Discussion about this post