Jambiday.com, JAMBI – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jambi saat penutupan kegiatan pesantren kilat (Sanlat) Ramadhan bagi warga binaan, Kamis (12/03/2026). Kegiatan yang berlangsung selama 21 hari tersebut ditutup secara langsung oleh Wakil Gubernur Jambi, Abdullah Sani.

Kehadiran orang nomor dua di Provinsi Jambi yang juga dikenal sebagai tokoh ulama ini menjadi momen istimewa bagi para warga binaan. Dalam kesempatan tersebut, Abdullah Sani turut memberikan tausiyah yang sarat makna tentang keindahan bulan suci Ramadhan dan pentingnya memperbaiki diri.
Di hadapan ratusan warga binaan, Kiyai Sani menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama di hadapan Allah SWT untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

“Di mata Allah semua manusia itu sama. Yang membedakan hanyalah siapa yang mau memperbaiki diri dan siapa yang terus mengulang kesalahan yang sama,” ujarnya dalam tausiyah yang disambut dengan penuh perhatian oleh para peserta Sanlat.
Menurutnya, bulan Ramadhan merupakan momentum terbaik bagi setiap insan untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki kesalahan masa lalu, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar mengaku bangga dengan terobosan yang dilakukan oleh Lapas Kelas IIA Jambi melalui program Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an (PBAQ) bagi warga binaan.
Ia menilai program tersebut merupakan langkah positif dalam membangun pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperkuat mental dan spiritual para warga binaan.

“Bagi warga binaan, tidak hanya fisik yang harus dijaga. Mental dan spiritual juga harus dibentengi dengan sesuatu yang positif, salah satunya melalui pembelajaran Al-Qur’an,” kata Irwan.
Ia menjelaskan, pesantren kilat yang digelar selama 21 hari tersebut diikuti oleh sekitar 400 warga binaan. Dari kegiatan tersebut lahir capaian yang cukup membanggakan. Sejumlah warga binaan bahkan berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an serta menghafal juz 29 dan juz 30. Sementara bagi warga binaan yang sebelumnya belum bisa membaca Al-Qur’an, kini mereka telah mulai memahami pola serta bacaan dasar melalui metode pembelajaran yang lebih ilmiah dan modern.
“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Artinya pembinaan spiritual benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata bagi warga binaan,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Lapas Kelas IIA Jambi, Syahroni Ali. Ia menegaskan bahwa program pembinaan keagamaan tersebut tidak hanya dilaksanakan selama bulan Ramadhan saja. Menurutnya, kegiatan tersebut akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan sebagai bagian dari program pembinaan mental dan spiritual warga binaan.
“Program ini tidak berhenti di bulan Ramadhan. Ke depan akan terus kita jalankan secara berkelanjutan,” ujar Syahroni.
Ia menambahkan, pembinaan yang diberikan tidak hanya sebatas membaca Al-Qur’an. Warga binaan juga dibimbing untuk menghafal ayat-ayat pendek, melantunkan azan, hingga berlatih menyampaikan pidato maupun ceramah agama Islam.
Dengan berbagai pembinaan tersebut, diharapkan para warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mampu memperbaiki diri dan kembali ke masyarakat dengan bekal keimanan, pengetahuan, serta semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Di akhir kegiatan, pasca sholat Magrib dan buka bersama suasana haru tampak ketika sejumlah warga binaan menunjukkan kemampuan mereka membaca dan menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an di hadapan para tamu undangan. Momen tersebut menjadi bukti bahwa di balik tembok penjara, harapan untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik tetap tumbuh dan menyala. (OYI)








Discussion about this post