Jambiday.com, JAMBI- Di tengah gegap gempita Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan pelukan hangat keluarga dan riuh silaturahmi, ada sudut sunyi di balik tembok Lapas Kelas IIA Jambi yang menyimpan kisah berbeda. Tentang rindu yang tak sempat tersampaikan, dan keteguhan hati dalam keterbatasan.
Redo Setiawan (RS) adalah salah satunya. Sudah lima tahun berlalu sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di balik jeruji pada 2021 silam karena tersandung kasus pembangunan auditorium UIN Jambi . Namun selama itu pula, tak sekali pun ia merasakan kunjungan keluarga. Baik di hari biasa, apalagi di momen besar seperti Idul Fitri.

Istri dan keempat anaknya berada jauh di Lampung. Jarak, keterbatasan ekonomi, serta kondisi keluarga membuat pertemuan itu seakan menjadi kemewahan yang tak mudah dijangkau. Meski demikian, Redo memilih untuk menerima semuanya dengan ikhlas.
“Saya sudah berusaha menerima. Memang tidak ada daya dan upaya yang bisa saya lakukan dalam kondisi seperti ini,” ungkapnya lirih, dengan mata yang menyiratkan kerinduan mendalam.
Sebagai seorang ayah, pikirannya tak pernah lepas dari anak-anaknya. Ia menyadari, sang istri yang tidak bekerja harus berjuang sendiri membesarkan empat buah hati mereka. Namun di balik keterbatasan itu, Redo meyakini ada campur tangan Tuhan yang menjaga keluarganya.

“Saya percaya Allah yang membantu menjaga mereka,” katanya penuh keyakinan.
Hari-hari di dalam Lapas tidak ia jalani dengan keputusasaan. Justru, Redo berusaha bangkit melalui berbagai kegiatan pembinaan. Ia aktif dalam Band Q, grup musik binaan Lapas, yang kerap menjadi ruang pelarian dari rindu yang menumpuk. Melalui alunan musik, ia menyalurkan perasaan yang tak mampu ia ucapkan.
Tak hanya itu, Redo juga terlibat dalam kegiatan kerja, membantu produksi kaos yang digunakan oleh warga binaan dan petugas. Baginya, aktivitas itu bukan sekadar rutinitas, melainkan cara untuk tetap merasa berguna di tengah keterbatasan.
Perjalanan hukumannya masih panjang. Dari total 13 tahun masa pidana, ia baru menjalani lima tahun. Namun, harapan tetap ia genggam, sembari terus memperbaiki diri.
Di sisi lain, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka KPLP) Riko Hamdan menjelaskan bahwa pihak Lapas telah berupaya maksimal memfasilitasi komunikasi antara warga binaan dan keluarga.
“Kami menyediakan wartelsuspas agar warga binaan tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga. Namun untuk kunjungan langsung, itu sepenuhnya kami kembalikan kepada keluarga masing-masing, kami tidak bisa mengintervensi,” jelasnya.
Meski demikian, pihak Lapas tetap memberikan ruang seluas-luasnya bagi keluarga yang ingin datang, khususnya pada momen Lebaran. Bahkan, layanan kunjungan dibuka hingga hari kelima Idul Fitri tanpa membedakan antara tahanan dan narapidana.
Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah kunjungan yang terus meningkat. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 1.100 pengunjung datang bersilaturahmi. Bahkan pada hari ketiga Idul Fitri, Senin (23/04/2026), terjadi lonjakan signifikan dengan jumlah mencapai sekitar 1.200 orang.
Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama, pihak Lapas juga menerapkan prosedur tetap (protap) yang wajib dipatuhi seluruh pengunjung.
Di balik ramainya kunjungan itu, kisah seperti Redo menjadi pengingat—bahwa tidak semua orang merayakan Lebaran dengan kebahagiaan yang utuh. Ada yang hanya bisa menatap dari kejauhan, memeluk keluarga dalam doa, dan merayakan kemenangan dengan cara yang paling sunyi.
Namun dari kesunyian itulah, tumbuh keteguhan. Bahwa harapan tak pernah benar-benar hilang, selama seseorang masih percaya dan terus berusaha menjadi lebih baik. (OYI)







Discussion about this post