Jambiday.com, MUARA SABAK– Di balik tembok tinggi Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak, malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah terasa begitu berbeda. Gema takbir yang biasanya berkumandang di jalanan kota, kali ini mengalun syahdu dari dalam lingkungan lapas, menghadirkan suasana haru yang menyentuh hati, Jumat malam (20/3/2026) kemarin
Kegiatan yang dipusatkan di Masjid At-Taubah itu diawali dengan tadarus Al-Qur’an oleh warga binaan. Lantunan ayat suci menggema lembut, menghadirkan ketenangan batin sekaligus menjadi pengantar menuju malam kemenangan yang penuh makna.

Selanjutnya, dilaksanakan pemberian zakat fitrah sebagai wujud kepedulian dan pembelajaran nilai keikhlasan. Secara simbolis, pihak lapas menyerahkan zakat fitrah kepada perwakilan narapidana. Total zakat yang terkumpul mencapai Rp11.560.000 dan disalurkan kepada 53 warga binaan yang berhak menerima. Dalam keterbatasan, semangat berbagi tetap tumbuh, menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan tetap hidup di balik jeruji.
Memasuki inti kegiatan, suasana berubah semakin hidup sekaligus menggetarkan jiwa. Petugas dan warga binaan bersama-sama melaksanakan takbir keliling di dalam area lapas dengan membawa rebana, bedug kecil, serta alat tabuh sederhana lainnya. Irama tabuhan yang berpadu dengan gema takbir menciptakan harmoni yang khas mengalun perlahan, lalu menguat, seolah membawa setiap hati larut dalam kebesaran Ilahi.
Langkah demi langkah mereka menyusuri lorong-lorong blok hunian, melantunkan takbir dengan penuh penghayatan. Didampingi oleh Ka KPLP, Yudhistira dan Kasi Binadik terdengar pula lantunan sholawat Nabi dan pujian kepada Baginda Rasulullah SAW yang menambah kekhusyukan suasana. Denting rebana yang ritmis dan tabuhan yang selaras seakan menjadi pengiring rindu yang lama terpendam.
Malam itu, takbir bukan sekadar lantunan, melainkan obat bagi hati. Bagi petugas yang tetap menjalankan tugas di saat orang lain berkumpul bersama keluarga, dan bagi warga binaan yang harus merayakan Idul Fitri jauh dari orang-orang tercinta, kebersamaan dalam takbiran ini menjadi penguat jiwa. Rindu yang tak bisa disampaikan, perlahan terobati melalui setiap gema takbir dan sholawat yang mereka lantunkan bersama.
Sejenak, batas antara petugas dan warga binaan terasa memudar. Yang tersisa hanyalah kebersamaan dalam doa, harapan, dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Di balik jeruji, mereka menemukan makna Idul Fitri yang sesungguhnya—kembali kepada fitrah, membersihkan hati, dan menyalakan harapan baru.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Malam takbiran di Lapas Narkotika Muara Sabak pun menjadi saksi, bahwa di tempat yang penuh keterbatasan sekalipun, gema takbir tetap mampu menghadirkan kehangatan, menyembuhkan rindu, dan menumbuhkan harapan akan hari esok yang lebih baik. (OYI)








Discussion about this post