Jambiday.com, JAMBI — Transformasi industri media berlangsung semakin cepat seiring perubahan perilaku audiens, perkembangan media sosial, algoritma, hingga hadirnya kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut menuntut perusahaan media dan jurnalis untuk tidak hanya mampu menghasilkan berita, tetapi juga memahami bagaimana sebuah konten didistribusikan, dikonsumsi, hingga menghasilkan nilai ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Rahmadin Ismail dari Tirto.id dalam agenda Capacity Building Forweb bertajuk “Transformasi Jurnalistik di Era Multiplatform”. Dalam pemaparannya, Rahmadin menjelaskan bahwa industri media saat ini telah mengalami disrupsi besar. Jika sebelumnya media memiliki posisi kuat sebagai pintu utama distribusi informasi, kehadiran media sosial membuat pola tersebut berubah.
“Tidak ada lagi monopoli informasi oleh media dari hulu ke hilir sejak hadirnya media sosial. Semua orang bisa menjadi pemberi informasi, terutama sebagai bagian dari amplifikasi atau awareness,” diterangkan Rahmadin dengan dipandu oleh Ketua ForWeb Jambi, Yusnaini, Jumat (2/10/26).
Menurutnya, perubahan tersebut membuat media tidak cukup hanya mengandalkan satu platform. Sebuah cerita jurnalistik harus mampu dikembangkan menjadi berbagai bentuk dan disesuaikan dengan karakter masing-masing platform.

Satu cerita dapat melahirkan banyak produk. Berita yang diproduksi di website, misalnya, dapat dikembangkan menjadi konten media sosial, video pendek, infografis, maupun produk jurnalistik lainnya. Strategi multiplatform menjadi penting agar satu karya jurnalistik dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Rahmadin juga menyoroti perubahan pola konsumsi konten. Audiens kini bergerak dari konten yang bersifat umum atau generalis menuju konten yang semakin spesifik, personal dan dekat dengan kehidupan mereka. Konsep “semakin lokal, semakin spesifik” menjadi salah satu kunci dalam memenangkan perhatian audiens.
Konten yang memiliki kedekatan dengan pembaca dinilai lebih relevan. Karena itu, topik yang dibahas media dituntut semakin spesifik sekaligus memiliki kedalaman. Perubahan ini juga membawa konsekuensi terhadap cara media menentukan topik. Tidak cukup hanya mengetahui isu apa yang sedang ramai, tetapi juga memahami siapa audiensnya, apa kebutuhannya, dan platform mana yang paling tepat untuk menjangkaunya.
AI dan Algoritma, Mengubah Format Jurnalistik
Perubahan format menjadi bagian lain yang tidak bisa dihindari. Jika sebelumnya website menjadi pusat distribusi konten, kini algoritma dan AI ikut mengubah cara audiens menemukan dan mengonsumsi informasi. Konten media sosial dengan format visual pendek semakin mendapatkan perhatian.
Dalam materi yang dipaparkan, transformasi tersebut digambarkan dari web menuju AI dan algoritma, kemudian berkembang ke media sosial, dengan kecenderungan konsumsi konten yang semakin singkat dan visual.
Bahkan, perkembangan AI overview berpotensi membuat kunjungan langsung ke website menurun, sementara konsumsi konten melalui platform media sosial semakin tinggi.
Kondisi itu membuat media perlu memikirkan ulang strategi distribusi. Jurnalisme tidak berhenti ketika berita dipublikasikan di website, tetapi harus dilanjutkan dengan strategi bagaimana informasi tersebut ditemukan, dikonsumsi, dibagikan, dan diperbincangkan publik.
Bisnis Media Tak Lagi Sekadar Mengandalkan Iklan
Transformasi juga terjadi pada model bisnis. Rahmadi menjelaskan, iklan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pendapatan media. Industri media mulai bergerak menuju model bisnis yang lebih beragam, termasuk pengembangan intellectual property (IP), program, event, produk, dan berbagai layanan turunan dari kekuatan konten yang dimiliki. Dengan kata lain, satu karya jurnalistik tidak berhenti sebagai berita, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
“Program, event, produk” menjadi bagian dari arah baru model bisnis media di tengah perubahan industri. Karena itu, media dituntut membangun kekuatan bukan hanya pada jumlah berita yang diproduksi, tetapi juga pada brand, kreativitas, komunitas, kualitas konten, serta kemampuan mengembangkan IP,” tambahnya.
Jurnalis Harus Berubah
Transformasi multiplatform pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga perubahan kompetensi sumber daya manusia.
Jurnalis dituntut memahami lebih banyak aspek: mulai dari produksi konten, karakter audiens, strategi platform, visualisasi informasi, hingga perkembangan AI dan algoritma. Di era ini, kemampuan jurnalistik tetap menjadi fondasi utama.
Namun, kemampuan tersebut perlu diperkuat dengan pemahaman digital agar karya jurnalistik tidak kehilangan relevansi di tengah perubahan perilaku masyarakat. Pesan penting dari transformasi ini sederhana: media tidak bisa lagi hanya bertanya “apa yang ingin kita beritakan?”, tetapi juga harus bertanya “di mana audiens berada, bagaimana mereka mengonsumsi informasi, dan bagaimana satu cerita dapat memberikan manfaat serta nilai yang lebih besar?”
Melalui agenda Capacity Building Forweb tersebut, transformasi jurnalistik di era multiplatform menjadi pengingat bahwa media yang mampu bertahan bukan sekadar yang cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi yang mampu menjaga kualitas jurnalistik sekaligus memahami perubahan audiens dan model bisnis. (OYI)



Discussion about this post