Jambiday.com, MUARA BULIAN — Lapas Muara Bulian tak hanya menjadi tempat menjalankan pembinaan bagi warga binaan. Di tengah tembok pemasyarakatan, berbagai upaya untuk membangun kemandirian terus tumbuh dan perlahan memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Semangat itu terlihat dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Lapas Muara Bulian, Minggu (3/10). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, didampingi jajaran pejabat administrator Kanwil Ditjenpas Jambi.
Kehadiran Kakanwil disambut Kepala Lapas Muara Bulian beserta jajaran struktural, seluruh Kepala UPT Pemasyarakatan se-Wilayah Jambi, serta para pelaku UMKM yang ikut meramaikan kegiatan.


Namun, GPM kali ini tidak sekadar menghadirkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Ada cerita lain yang ikut dibawa ke tengah masyarakat: hasil pemberdayaan dan program ketahanan pangan yang dikembangkan Lapas Muara Bulian.
Bersama Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Batanghari dan pelaku UMKM di sekitar Lapas, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara hasil produksi, kreativitas masyarakat, dan kebutuhan pangan.
Beragam bahan pangan dan produk UMKM ditawarkan kepada masyarakat. Di sisi lain, hasil program ketahanan pangan Lapas Muara Bulian turut diperkenalkan, menunjukkan bahwa pembinaan di balik tembok Lapas dapat diarahkan menjadi kegiatan yang produktif dan memiliki nilai manfaat. Bagi Irwan Rahmat Gumilar, kegiatan seperti ini penting karena menghadirkan wajah Pemasyarakatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Saya mengapresiasi kegiatan ini karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Tidak hanya menghadirkan kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi juga memberikan ruang bagi UMKM untuk memasarkan produknya serta menunjukkan hasil program ketahanan pangan yang dilaksanakan oleh Lapas Muara Bulian,” ujar Irwan.
Ia menilai, keberadaan program ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi bagian penting dari proses pembinaan. Hasilnya bukan hanya tentang produksi, tetapi juga tentang bagaimana warga binaan mendapatkan pengalaman, keterampilan, dan kesempatan untuk berkontribusi secara positif.
Hal senada disampaikan Kalapas Muara Bulian, M. Ilham Santoso. Menurutnya, Lapas harus mampu hadir dan memberikan manfaat, tidak hanya bagi warga binaan, tetapi juga lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
“Kami ingin Lapas Muara Bulian tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan tugas Pemasyarakatan, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berkolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, pelaku UMKM, dan berbagai pihak untuk menghadirkan pangan dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus mempromosikan produk lokal,” ungkap M. Ilham Santoso.
Gerakan Pangan Murah tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan Pemasyarakatan tidak berhenti ketika warga binaan mengikuti berbagai kegiatan di dalam Lapas. Ada proses panjang untuk membangun keterampilan, produktivitas, rasa tanggung jawab, hingga membuka ruang agar hasil pembinaan dapat dikenal dan memberi manfaat.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang terjangkau, kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi UMKM lokal untuk memperkenalkan produk mereka. Sementara bagi Lapas Muara Bulian, momentum tersebut menjadi kesempatan menunjukkan bahwa program ketahanan pangan dapat tumbuh dari lingkungan Pemasyarakatan dan terhubung langsung dengan kehidupan masyarakat.
Lebih dari sekadar transaksi jual beli, GPM menjadi ruang kolaborasi. Pemerintah, Pemasyarakatan, UMKM dan masyarakat bertemu dalam satu kegiatan dengan tujuan yang sama: memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka lebih banyak ruang pemberdayaan. Dari balik tembok Lapas, sebuah pesan sederhana pun disampaikan: pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi tentang menyiapkan manusia agar kembali ke tengah masyarakat dengan keterampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk memberi manfaat.
Melalui kegiatan tersebut, Kanwil Ditjenpas Jambi terus mendorong agar program Pemasyarakatan memiliki dampak yang lebih luas. Bukan hanya membina warga binaan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi, sosial, dan kemanfaatan yang dapat dirasakan masyarakat. (OYI)




Discussion about this post