Jambiday.com, JAMBI — Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menunjukkan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat. Bukan hanya mengganggu kesehatan dan kegiatan belajar anak-anak, kualitas udara yang memburuk juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan.
Seorang penumpang, Khotib Syarbini, mengeluhkan kondisi tersebut setelah penerbangan yang ditumpanginya dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menuju Bandara Sultan Thaha Jambi mengalami penundaan akibat kondisi cuaca dan asap. Khotib mengaku harus menunggu kepastian keberangkatan bersama penumpang lainnya. Kondisi tersebut tentu tidak mudah, terlebih bagi penumpang yang memiliki agenda dan keperluan di Jambi.
“Kita tentu berharap penerbangan bisa segera diberangkatkan. Tapi yang lebih penting, kondisi asap seperti ini segera berakhir. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban dari persoalan karhutla setiap tahun,” keluhnya di bandara YIA, Minggu (4/10/26).
Menurutnya, penundaan penerbangan menjadi gambaran bahwa persoalan asap Karhutla bukan lagi sekadar masalah lingkungan. Dampaknya telah merembet ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, mobilitas masyarakat hingga aktivitas ekonomi. Ia berharap seluruh pihak, baik pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan maupun masyarakat, dapat semakin serius melakukan pencegahan dan penanganan Karhutla.

“Mudah-mudahan asap di Jambi segera hilang. Kita ingin masyarakat bisa kembali beraktivitas normal, anak-anak bisa sekolah, pesawat bisa terbang tanpa terganggu asap dan masyarakat tidak lagi harus menghadapi kondisi seperti ini setiap tahun,” harap Khotib.
Anak-anak Jambi Kembali Belajar dari Rumah
Di tengah persoalan asap yang belum sepenuhnya teratasi, Pemerintah Kota Jambi juga mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik.
Berdasarkan pemberitahuan Dinas Pendidikan Kota Jambi yang merujuk Surat Edaran Kemendikdasmen Nomor 20 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan layanan pendidikan di daerah terdampak asap kebakaran hutan serta Surat Edaran Wali Kota Jambi Nomor 29 Tahun 2026, pembelajaran tatap muka untuk TK/PAUD, SD dan SMP di Kota Jambi diperpanjang untuk dilaksanakan secara Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), mulai Senin, 5 Oktober 2026, hingga kondisi kualitas udara dinyatakan aman.
Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa keputusan diambil setelah hasil pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menunjukkan kondisi kualitas udara Kota Jambi berada pada kategori sangat tidak sehat. Selama PJJ, kepala satuan pendidikan, tenaga kependidikan dan guru tetap melaksanakan tugas dari sekolah untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif melalui pembelajaran daring.

Orang tua dan wali peserta didik juga diminta memberikan pendampingan serta memastikan anak mengikuti pembelajaran dengan baik. Peserta didik juga diminta tidak melakukan aktivitas di ruang terbuka, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau berbahaya.
Ketentuan pembelajaran tatap muka selanjutnya akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan hasil pemantauan kondisi lingkungan. Asap Jangan Menjadi Rutinitas Tahunan
Penundaan penerbangan dan kembali diperpanjangnya pembelajaran jarak jauh menjadi pengingat bahwa karhutla memiliki konsekuensi nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Di satu sisi, anak-anak harus kembali belajar dari rumah demi menghindari paparan udara yang tidak sehat. Di sisi lain, masyarakat yang bepergian harus menghadapi ketidakpastian perjalanan akibat kondisi atmosfer yang tidak mendukung penerbangan.
Harapannya, persoalan Karhutla di Jambi tidak berhenti pada penanganan asap setelah terjadi. Pencegahan harus diperkuat sejak awal, titik api harus cepat ditangani, dan seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap terjadinya kebakaran harus ditindak sesuai aturan. Sebab, masyarakat tidak seharusnya terus-menerus hidup dalam siklus yang sama: hutan terbakar, asap datang, sekolah diliburkan atau belajar daring, aktivitas terganggu, penerbangan tertunda, lalu semua kembali normal setelah hujan turun.
Jambi membutuhkan solusi yang lebih permanen.
Masyarakat ingin menghirup udara bersih, anak-anak ingin kembali bersekolah dengan aman, dan para penumpang ingin bepergian tanpa harus dihantui kabut asap. Semoga karhutla dan asap di Jambi segera berakhir, bukan hanya untuk hari ini, tetapi tidak kembali menjadi persoalan yang sama pada tahun-tahun mendatang. (OYI)



Discussion about this post