Jambiday.com, JAMBI – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) turut menjadi perhatian serius Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jambi. Di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik, dan Indeks standar pencemaran udara membahayakan. Lapas memperkuat langkah pencegahan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan warga binaan, khususnya untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk deteksi dini sekaligus perlindungan terhadap kesehatan 1.791 warga binaan yang saat ini menjalani pembinaan di Lapas Kelas IIA Jambi.
Pemeriksaan dilakukan secara langsung oleh petugas kesehatan dengan memperhatikan kondisi masing-masing warga binaan. Pemeriksaan tidak hanya diarahkan kepada mereka yang mengeluhkan sakit, tetapi juga menjadi bagian dari upaya preventif agar kondisi kesehatan warga binaan tetap terpantau selama situasi kabut asap akibat Karhutla.

Kasubsi Bimkesmaswat Lapas Kelas IIA Jambi, Doddy, mengatakan kondisi kesehatan warga binaan menjadi perhatian khusus di tengah dampak asap Karhutla yang dapat memengaruhi kesehatan, terutama saluran pernapasan.
Menurutnya, sejauh pemeriksaan dilakukan, tanda dan gejala yang ditemukan pada warga binaan masih relatif ringan dan terbatas pada keluhan seperti batuk dan flu.

“Untuk saat ini, tanda dan gejala yang kami temukan masih terbatas pada batuk dan flu. Belum ada yang mengarah kepada gangguan pernapasan akut. Namun kondisi ini tetap kami waspadai karena asap akibat Karhutla bisa berdampak terhadap kesehatan saluran pernapasan,” ujar Doddy, Kamis (8/10/26).
Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan diturunkan. Pemeriksaan kesehatan terus dilakukan untuk memastikan setiap perubahan kondisi warga binaan dapat diketahui sedini mungkin.
“Prinsipnya kami melakukan pencegahan. Jangan sampai keluhan yang awalnya ringan berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius. Karena itu, warga binaan yang mengalami keluhan kami pantau dan kami lakukan pemeriksaan sesuai kondisi kesehatannya,” katanya.
1.791 Warga Binaan, Kesehatan Jadi Perhatian
Dengan jumlah penghuni mencapai 1.791 warga binaan, pengendalian risiko kesehatan menjadi tantangan tersendiri bagi Lapas Kelas IIA Jambi. Paparan asap dalam waktu tertentu dapat menimbulkan keluhan pada saluran pernapasan, sehingga pemeriksaan kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi warga binaan tetap terkendali. Lapas juga mendorong warga binaan agar tidak mengabaikan keluhan kesehatan sekecil apa pun, terutama apabila mengalami batuk, flu atau gejala lain yang dirasakan setelah terpapar kondisi udara berasap. Pemeriksaan dilakukan untuk membedakan keluhan ringan yang masih dapat ditangani dengan pemantauan dan penanganan dasar dengan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
“Kami mengimbau warga binaan untuk tidak menyepelekan batuk atau flu. Kalau ada keluhan, segera sampaikan kepada petugas. Lebih baik diperiksa lebih awal daripada terlambat,” tegas Doddy.
Lansia Mendapat Perhatian Khusus
Perhatian lebih juga diberikan kepada kelompok warga binaan lanjut usia (lansia). Dari total 1.791 warga binaan, terdapat 33 orang warga binaan lansia yang membutuhkan perhatian lebih dalam menjaga kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh. Setelah menjalani pemeriksaan secara komprehensif, warga binaan Lansia tersebut juga mendapatkan bantuan suplemen makanan bergizi sebagai bagian dari dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan nutrisi dan menjaga kondisi tubuh.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan di Lapas tidak berhenti pada pemeriksaan ketika warga binaan mengalami keluhan, tetapi juga diarahkan pada upaya menjaga kebugaran dan daya tahan tubuh, terutama bagi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
KA KPLP: Jangan Tunggu Sampai Kondisi Memburuk
Sementara itu, KA KPLP Lapas Kelas IIA Jambi, Riko Hamdan, menegaskan bahwa kondisi kesehatan warga binaan menjadi bagian penting dari pengelolaan keamanan dan pembinaan di dalam Lapas. Menurutnya, dengan jumlah warga binaan yang cukup besar, setiap potensi gangguan kesehatan harus diantisipasi sejak awal.
“Kami tidak ingin menunggu sampai ada warga binaan yang mengalami gangguan kesehatan serius baru bertindak. Pencegahan harus dilakukan sejak awal, apalagi kondisi udara akibat asap Karhutla memang menjadi perhatian,” ujar Riko disela memberikan bantuan masker kepada keluarga pengunjung warga binaan.
Riko memastikan jajaran pengamanan mendukung penuh langkah petugas kesehatan dalam melakukan pemeriksaan terhadap warga binaan.
“Keamanan dan kesehatan harus berjalan bersama. Kami memastikan kegiatan pemeriksaan dapat berlangsung tertib dan warga binaan yang membutuhkan perhatian kesehatan bisa segera mendapatkan penanganan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara petugas pengamanan, petugas kesehatan dan warga binaan agar setiap keluhan dapat segera dilaporkan.
Waspada, tetapi Tidak Panik
Lapas Kelas IIA Jambi mengambil pendekatan waspada tanpa menimbulkan kepanikan. Sampai pemeriksaan dilakukan, keluhan yang ditemukan masih berupa gejala ringan seperti batuk dan flu, serta belum ditemukan tanda yang mengarah pada gangguan pernapasan akut.
Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena kualitas udara akibat Karhutla dapat berubah sewaktu-waktu.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan akan terus diperkuat sebagai langkah deteksi dini. Terlebih dengan jumlah penghuni mencapai 1.791 orang, pencegahan menjadi jauh lebih penting daripada menunggu munculnya kasus kesehatan yang lebih berat.
Bagi Lapas Kelas IIA Jambi, kesehatan warga binaan merupakan bagian dari tanggung jawab pemasyarakatan.
Di tengah kepungan asap Karhutla, langkahnya jelas: kesehatan dipantau, keluhan ditangani sejak dini, kelompok rentan mendapat perhatian khusus, dan kondisi warga binaan tidak boleh dibiarkan menghadapi risiko kesehatan tanpa perlindungan. (OYI)



Discussion about this post