Sunday, October 18, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home PARLEMEN

Rocky Candra Dorong Penguatan 30 ProKlim di Jambi, Adaptasi Iklim Harus Dimulai dari Kampung

by Redaksi
17/10/2026
in PARLEMEN
0
Rocky Candra Dorong ProKlim Jambi Perkuat Ketahanan Pangan dan Lingkungan. FOTO: IST

Rocky Candra Dorong ProKlim Jambi Perkuat Ketahanan Pangan dan Lingkungan. FOTO: IST

1
VIEWS
PostTweetShareScan

Jambiday.com,JAMBI — Ancaman perubahan iklim yang semakin nyata menuntut keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan memperkuat ketahanan wilayah. Di Provinsi Jambi, pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim) menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong masyarakat tidak hanya memahami dampak perubahan iklim, tetapi juga mengambil tindakan nyata melalui adaptasi dan mitigasi di lingkungan masing-masing.

Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jambi, Rocky Candra, mendorong penguatan program ProKlim yang saat ini berjumlah 30 lokasi di Provinsi Jambi. Menurutnya, keberadaan ProKlim harus menjadi momentum untuk memperluas gerakan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim, terutama di wilayah yang rentan terhadap banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan ketahanan pangan.

Bacajuga

DPRD Jambi Desak Kejelasan Aturan Perubahan RPJMD 2025–2029

Kebakaran Berulang di Area Konsesi Disorot, DPRD Jambi Kaji Pansus Karhutla

DPRD Jambi Tekankan Penertiban PETI, Pengawasan Stockpile, dan Reklamasi Tambang

DPRD Jambi Desak Data IUP Dibuka, Reklamasi Tambang Batubara Harus Terukur

Defisit Rp314,853 Miliar, Rencana Pinjaman Pemprov Jambi Rp250 Miliar Jadi Sorotan DPRD

Target Jaminan Kesehatan Dipangkas 23 Persen, DPRD Desak Pemprov Jambi Buka Data

“Keberadaan 30 ProKlim di Provinsi Jambi harus menjadi titik awal untuk memperluas gerakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Program ini jangan berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, mulai dari menjaga sumber air, memperkuat ketahanan pangan, mengurangi sampah, hingga mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak bersama agar ProKlim tumbuh menjadi gerakan yang berkelanjutan,” kata Rocky Candra, Sabtu (17/10/26).

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar Sosialisasi ProKlim di Kota Jambi, Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim melalui Sekretariat ProKlim KLH/BPLH tersebut menekankan pentingnya aksi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim, mulai dari tingkat rumah tangga hingga komunitas dan kampung.

Dalam sosialisasi dijelaskan bahwa perubahan iklim berkaitan erat dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Emisi karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O) berasal dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembangkit listrik konvensional, kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan lahan, pengelolaan sampah yang tidak tepat, pertanian konvensional, peternakan, penggunaan pupuk kimia, hingga limbah industri.

Peningkatan gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global yang berpengaruh terhadap perubahan pola cuaca dan meningkatnya risiko bencana. Dampaknya meliputi banjir, longsor, kekeringan, peningkatan muka air laut, penurunan kualitas dan kuantitas air, gangguan produksi pertanian, serta meningkatnya risiko penyakit yang berkaitan dengan kondisi lingkungan.

Adaptasi iklim dimulai dari Pengelolaan Air dan Pangan

ProKlim mendorong dua pendekatan utama, yakni adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Adaptasi dilakukan untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, sedangkan mitigasi bertujuan menekan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon.

Dalam aspek adaptasi, terdapat tiga komponen kegiatan utama yang menjadi perhatian, yakni pengendalian kekeringan, banjir dan longsor; peningkatan ketahanan pangan; serta pengendalian penyakit terkait iklim.

Pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor dapat dilakukan melalui pemanenan air hujan, pembuatan biopori, lubang resapan, sumur resapan, serta perlindungan mata air. Masyarakat juga didorong membangun sarana pengendalian banjir, seperti tanggul, drainase, dan jalur evakuasi, serta melakukan penanaman vegetasi di kawasan rawan longsor.

Rocky Candra Dorong ProKlim Jambi Perkuat Ketahanan Pangan dan Lingkungan. FOTO: IST
Rocky Candra Dorong ProKlim Jambi Perkuat Ketahanan Pangan dan Lingkungan. FOTO: IST

Pemanenan air hujan menjadi salah satu aksi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga. Air yang ditampung melalui drum, ember, bak, atau tangki dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari sesuai kualitas dan peruntukannya. Sementara itu, sumur resapan dan biopori membantu meningkatkan peresapan air ke dalam tanah serta mengurangi limpasan permukaan.

Pada sektor ketahanan pangan, masyarakat didorong menerapkan pola tanam yang lebih adaptif, sistem pertanian terpadu, diversifikasi tanaman pangan, serta pemanfaatan teknologi seperti hidroponik dan pertanian perkotaan.

Kegiatan lainnya mencakup pengembangan sistem irigasi, kelompok petani pengguna air, pertanian terpadu di daerah pesisir, serta pemanfaatan potensi pangan lokal. Langkah tersebut penting untuk menjaga produksi pangan ketika pola hujan dan musim tanam mengalami perubahan.

Sementara itu, pengendalian penyakit terkait iklim dilakukan melalui pengendalian vektor, sanitasi, dan pola hidup bersih dan sehat. Kegiatan seperti pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan kesehatan, serta penguatan peran posyandu dan puskesmas menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko penyakit yang dipengaruhi perubahan lingkungan.

Mitigasi: Kurangi emisi, perkuat tutupan vegetasi

Selain adaptasi, ProKlim mendorong masyarakat melakukan mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan sampah dan limbah, penggunaan energi rendah emisi, budidaya pertanian rendah emisi, peningkatan tutupan vegetasi, serta pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Pengelolaan sampah menjadi salah satu aksi yang dapat dimulai dari rumah. Pemilahan sampah organik dan anorganik, pengomposan sampah rumah tangga, pengembangan bank sampah, serta penerapan prinsip guna ulang dan daur ulang dapat mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Masyarakat juga didorong mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, menghemat listrik, memanfaatkan energi terbarukan, serta menanam dan memelihara pohon untuk meningkatkan tutupan vegetasi dan penyerapan karbon.

Dalam konteks Jambi, pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi bagian penting dari upaya mitigasi. Penguatan kesadaran masyarakat, pengelolaan lahan tanpa pembakaran, pemantauan kawasan rawan, dan kolaborasi antarpihak diharapkan dapat membantu menekan risiko kebakaran yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

ProKlim membutuhkan kelembagaan dan keberlanjutan

ProKlim merupakan program nasional yang mendorong masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam pengendalian perubahan iklim di tingkat lokal. Pelaksanaannya membutuhkan kelembagaan masyarakat yang kuat, dukungan kebijakan pemerintah daerah, partisipasi warga, peningkatan kapasitas, dukungan sumber daya eksternal, pengembangan kegiatan, serta pengelolaan data dan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Kelompok masyarakat yang dapat terlibat antara lain kelompok tani, kelompok wanita tani, kelompok tani nelayan, kelompok masyarakat adat, kelompok keagamaan, PKK, karang taruna, kelompok pecinta alam, hingga masyarakat peduli api.

Kampung Iklim merupakan lokasi di tingkat dusun, rukun warga, atau wilayah setempat yang menjalankan aksi pengendalian perubahan iklim secara berkesinambungan. Adapun Komunitas Iklim merupakan kelompok individu atau masyarakat yang melaksanakan kegiatan serupa.

Dalam pengembangan lokasi ProKlim, masyarakat perlu memiliki kelompok yang aktif, menjalankan kegiatan adaptasi dan mitigasi minimal selama dua tahun, serta menjamin keberlanjutan program. Pemerintah daerah berperan sebagai pembina, sementara dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, organisasi, dan perguruan tinggi dapat mendukung pendanaan, pendampingan, serta penguatan kapasitas masyarakat.

Keberhasilan ProKlim juga dapat dinilai melalui tahapan peningkatan kualitas, mulai dari Pratama, Madya, Utama, hingga Lestari. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap konsistensi dan keberlanjutan aksi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

Dengan penguatan 30 lokasi ProKlim di Provinsi Jambi, program ini diharapkan mampu berkembang menjadi gerakan yang semakin luas. Tantangannya bukan sekadar menambah jumlah lokasi, tetapi memastikan setiap kampung memiliki aksi nyata, kelembagaan yang kuat, dan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Perubahan iklim membutuhkan respons bersama. Dari pengelolaan air hujan, penguatan ketahanan pangan, pengurangan sampah, hingga pencegahan karhutla, ProKlim menjadi ruang bagi masyarakat Jambi untuk membangun ketahanan lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. Terlihat hadir dari DLH Kota Jambi, Dadan Rudiana menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH). (OYI)

Previous Post

Relawan Prabu Jambi Soroti Ancaman MSCI, Singgung Pola Tekanan Ekonomi Mirip Krisis 1998

Discussion about this post

Iklan

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK