Jambiday.com,JAMBI – Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari yang terus menghadapi tekanan akibat sedimentasi, kerusakan kawasan hulu, pencemaran, hingga aktivitas pertambangan ilegal, dinilai memerlukan perhatian lebih serius dari pemerintah pusat. Untuk itu, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jambi mendorong agar DAS Batanghari ditetapkan sebagai Daerah Aliran Sungai Prioritas Nasional, sehingga penanganannya dapat dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Ketua MTI Wilayah Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, menegaskan bahwa Sungai Batanghari bukan sekadar bentang alam yang membelah Provinsi Jambi, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat. Sungai terpanjang di Sumatera tersebut menjadi sumber air baku, penopang sektor pertanian, jalur transportasi, pengendali banjir dan kekeringan, sekaligus penyangga ekosistem yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi sangat besar.
Menurut Ivan Wirata, berbagai persoalan yang kini terjadi di Batanghari tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengerukan sungai atau penanganan di wilayah hilir. Solusi yang berkelanjutan harus dimulai dari kawasan hulu dengan mengembalikan fungsi ekologis DAS secara menyeluruh.

“Kalau hulunya tidak dibenahi, maka sedimentasi akan terus terjadi. Air baku akan semakin keruh, biaya pengolahan air bersih meningkat, alur pelayaran terganggu, dan masyarakatlah yang akhirnya merasakan dampaknya. Karena itu rehabilitasi DAS harus menjadi agenda bersama yang dimulai dari kawasan hulu,” ujar Ivan Wirata, Kamis (6/08/26).
Ia menjelaskan, terdapat tiga langkah strategis yang perlu menjadi prioritas dalam penyelamatan DAS Batanghari.
Pertama, memperkuat penataan ruang melalui penegakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), menjaga kawasan lindung, mengendalikan alih fungsi lahan, serta memperluas kawasan resapan air sebagai upaya menjaga keseimbangan hidrologi.
Kedua, melakukan penertiban secara konsisten terhadap Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) maupun aktivitas pertambangan ilegal lainnya yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya sedimentasi, kerusakan morfologi sungai, serta pencemaran lingkungan.
Ketiga, mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan melalui reboisasi, pemulihan lahan kritis, restorasi sempadan sungai, serta pengembangan sistem agroforestri yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Ivan menilai, keberhasilan rehabilitasi DAS tidak mungkin hanya mengandalkan kemampuan anggaran pemerintah daerah. Oleh karena itu diperlukan kolaborasi lintas sektor dengan mengintegrasikan pendanaan dari APBN, APBD, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta dukungan perguruan tinggi dan lembaga riset.
“Penyelamatan Batanghari membutuhkan gotong royong semua pihak. Pemerintah pusat harus hadir melalui kebijakan dan dukungan anggaran, pemerintah daerah melakukan sinkronisasi program, dunia usaha berkontribusi melalui CSR, sementara perguruan tinggi dan organisasi profesi memberikan kajian ilmiah agar setiap kebijakan berbasis data dan berorientasi jangka panjang,” katanya.
Sebagai organisasi profesi yang menghimpun para ahli transportasi dan infrastruktur, MTI Wilayah Jambi menyatakan siap berperan sebagai think tank yang memberikan rekomendasi kebijakan, kajian teknis, sekaligus menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.
Menurut Ivan, rehabilitasi DAS Batanghari sejatinya bukan hanya menyangkut persoalan lingkungan hidup, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan air bersih, keberlanjutan transportasi sungai, produktivitas pertanian, mitigasi bencana, hingga pertumbuhan ekonomi daerah.

Untuk mewujudkan upaya tersebut, MTI Jambi mengusulkan penyusunan Roadmap Rehabilitasi DAS Batanghari 2027–2045 sebagai dokumen strategis yang memuat tahapan penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang. Roadmap tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama seluruh pemangku kepentingan dalam mengembalikan fungsi ekologis DAS Batanghari sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sungai tersebut.
Ivan Wirata optimistis, apabila rehabilitasi dilakukan secara konsisten dengan dukungan pemerintah pusat dan kolaborasi semua pihak, DAS Batanghari akan kembali menjadi sumber kehidupan yang mampu menopang pembangunan Jambi secara berkelanjutan.
“Menyelamatkan Batanghari bukan hanya menyelamatkan sebuah sungai. Ini adalah ikhtiar menjaga ketersediaan air, melestarikan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” tegasnya. (OYI)








Discussion about this post