ALHAMDULILLAH setiap tahun, sepanjang tahun, setiap ketika dan saat, kita umat Islam masih dihadiahkan untuk mengeksperesikan rasa cinta, kerinduan kepada Baginda Junjungan Agung Muahmmad saw. Setidaknya melalui munasabah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini, dengan ucapan cinta, gema selawat, ceramah, tausiah, tabligh akbar dan berbagai ungkapan kegembiraan dan kerinduan. Namun di tengah suasana peringatan itu, ada satu pertanyaan yang barangkali lebih penting daripada kemeriahan acara. Iaitu seberapa jauh Nabi Muhammad SAW benar-benar menjadi teladan dalam kehidupan kita?
Persaoalan ini terasa semakin mendesak ketika kita hidup di zaman digital, ketika hampir semua orang berlomba untuk terlihat, dikenal, dibicarakan, dan menjadi viral.
Penomenanya, hari ini, manusia bukan hanya ingin melakukan sesuatu yang baik. Kadang-kadang, ia juga ingin kebaikan itu dilihat. Bukan hanya ingin berbicara, tetapi ingin didengar banyak orang. Bukan hanya ingin berkarya, tetapi ingin segera mendapat likes, komentar, followers, dan jutaan tayangan ulang.
Tidak salah dikenal. Tidak salah memiliki pengaruh. Tidak pula salah menggunakan media sosial. Teknologi hanyalah alat. Persoalannya muncul ketika ukuran nilai hidup perlahan-lahan bergeser: dari benar atau salah menjadi viral atau tidak viral. Kita mulai hidup dalam zaman ketika popularitas kadang-kadang lebih cepat dipercaya daripada integritas.
Orang yang banyak pengikut dianggap lebih layak didengar. Orang yang videonya ditonton jutaan kali dianggap lebih benar. Bahkan sesuatu yang salah, jika terus diulang, dibagikan, dan diviralkan, perlahan dapat terlihat seperti kebenaran. Di tengah suasana inilah Maulid Nabi SAW seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan arah.
*Nabi Tidak Mengejar Popularitas*
Baginda Nabi Muhammad SAW tidak pernah membangun kehidupannya di atas tepuk tangan manusia. Sebelum menjadi Rasul, beliau dikenal sebagai al-Amīn, orang yang dapat dipercaya. Kemuliaannya lahir dari kejujuran, amanah, kesetiaan, keberanian, kesabaran, dan kasih sayang.
Baginda tidak menjadi mulia karena memiliki banyak pengikut pada awal dakwah. Bahkan pada masa-masa awal, pengikutnya sangat sedikit. Baginda tidak menjadi benar karena ramai yang mendukungnya. Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun hanya sedikit yang mempertahankannya. Inilah pelajaran besar bagi manusia zaman digital.
Hari ini, kita sering menilai sesuatu berdasarkan jumlah. Berapa pengikutnya? Berapa views-nya? Berapa banyak yang menyukai? Berapa banyak yang membagikan?. Padahal akhlak tidak pernah diukur dengan statistik. Kejujuran tidak membutuhkan satu juta likes untuk menjadi mulia. Amanah tidak perlu viral untuk menjadi berharga.
*Ketika Teladan Berganti Menjadi Idola*
Salah satu persoalan besar generasi hari ini bukan kekurangan tokoh, tetapi kebingungan memilih teladan. Setiap hari layar telepon menghadirkan ratusan wajah. Selebritas, influencer, motivator, politisi, penceramah, atlet, pengusaha, dan berbagai tokoh digital berlomba merebut perhatian. Tidak semuanya buruk. Banyak yang memberikan inspirasi dan manfaat. Namun bahaya muncul ketika seseorang dipuja hanya karena terkenal, bukan karena akhlaknya.
Ketika gaya hidup lebih dikagumi daripada integritas. Ketika kemewahan lebih menarik daripada kesederhanaan. Ketika keberanian menghina orang dianggap ketegasan. Ketika kontroversi dianggap kecerdasan. Ketika membuka aib menjadi hiburan. Di sinilah Maulid Nabi SAW mengajarkan kita untuk kembali bertanya: siapa sebenarnya yang layak dijadikan teladan? Teladan bukan sekadar orang yang membuat kita ingin menjadi terkenal. Teladan adalah orang yang membuat kita ingin menjadi lebih baik.
*Akhlak di Dunia Digital*
Sesungguhnya mencintai Rasulullah SAW pada zaman ini juga harus terlihat dalam cara kita menggunakan teknologi. Jangan sampai seseorang rajin berselawat, tetapi jarinya ringan menyebarkan fitnah. Jangan sampai mengaku mencintai Nabi, tetapi gemar mencaci di kolom komentar. Jangan sampai mengagungkan akhlak Rasulullah, tetapi menjadikan aib orang sebagai bahan tontonan. Semamang kita sadar bahwa hari ini, lidah bukan satu-satunya alat yang dapat melukai manusia.
*Jempol pun dapat menjadi sumber dosa.*
Satu klik dapat menyebarkan ilmu.Namun satu klik juga dapat menyebarkan kebohongan. Satu unggahan dapat menguatkan orang yang sedang lemah. Tetapi satu unggahan juga dapat menghancurkan marwah seseorang. Karena itu, akhlak Nabi SAW perlu hadir bukan hanya di masjid, di atas sajadah, tetapi juga di WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan seluruh ruang digital yang kita gunakan.
*Maulid Bukan Hanya Tentang Mengenang*
Seyogyanya Maulid Nabi SAW akan kehilangan maknanya jika hanya menjadi agenda tahunan. Kita boleh menghias masjid. Kita boleh mengadakan majelis selawatan. Kita boleh membaca sejarah kelahiran Nabi. Barzanjian. Marhabanan. Tetapi semua itu semestinya berujung pada satu hal, iaitu lahirnya kembali akhlak Nabi dalam diri kita.
Jika setelah Maulid kita masih mudah memfitnah, apa yang berubah? Jika masih merendahkan orang lain, apa yang kita teladani? Jika masih mengejar popularitas dengan mengorbankan kehormatan manusia, siapa sebenarnya yang kita ikuti? Mungkin inilah saatnya kita berhenti sejenak dari kegaduhan dunia yang selalu ingin viral. Sebab tidak semua yang viral itu bernilai. Tidak semua yang ramai itu benar. Tidak semua yang terkenal itu layak diteladani.
Dunia hari ini sesungguhnya tidak kekurangan manusia populer. Tetapi Dunia sedang kekurangan manusia yang jujur. Justeru dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Tetapi dunia kekurangan mereka yang amanah, bertanggungjawab dan layak diteladani. Tidak kekurangan manusia yang ingin dilihat. Tetapi semakin membutuhkan manusia yang tetap berbuat baik meskipun tidak seorang pun melihatnya. Maka pada Maulid Nabi SAW ini, pertanyaannya bukan sekadar seberapa banyak selawat yang kita lantunkan.
Pertanyaannya adalah “Ketika semua orang berlomba mengejar viral, siapakah yang tetap kita jadikan teladan?” Jika jawabannya Baginda Nabi Muhammad SAW, maka biarlah jawabannya terlihat bukan hanya pada ucapan kita semata-mata, tetapi juga pada akhlak, pilihan, dan jejak digital kita setiap hari. Wallahu a’lam.. (***)
Rusli Abdul Roni
Email: rusli@uniten.edu.my








Discussion about this post