Jambiday.com, KUALA TUNGKAL — Pemasyarakatan tidak hanya berbicara tentang keamanan dan ketertiban di dalam lembaga pemasyarakatan, tetapi juga tentang bagaimana setiap warga binaan mendapatkan hak pelayanan, pembinaan, serta kesempatan untuk mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Semangat tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan monitoring dan evaluasi yang dipimpin Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, di Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal, Jumat (11/9).
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pengawasan sekaligus memastikan seluruh proses Pemasyarakatan berjalan sesuai ketentuan, mulai dari pemenuhan hak warga binaan, kualitas pelayanan, program pembinaan, hingga langkah deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban.


Kakanwil didampingi Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan, KB Siregar, serta Tim Satuan Operasional Kepatuhan Internal Pemasyarakatan (Satopspatnal). Kedatangan rombongan disambut Kepala Lapas Kuala Tungkal, Iwan Darmawan, bersama jajaran pejabat struktural.
Monitoring diawali dengan meninjau dapur sehat Lapas Kuala Tungkal. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan makanan yang diberikan kepada warga binaan dikelola dengan memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, kelayakan dan kebutuhan gizi.
Langkah tersebut menjadi penting karena pemenuhan kebutuhan dasar merupakan bagian dari pelayanan yang harus diberikan secara layak kepada warga binaan selama menjalani masa pidana.
Pengawasan kemudian berlanjut melalui tes urine secara acak terhadap petugas dan warga binaan yang dilaksanakan Tim Satopspatnal. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pencegahan sekaligus deteksi dini terhadap penyalahgunaan narkoba di lingkungan Pemasyarakatan. Hasilnya, seluruh peserta yang menjalani tes urine dinyatakan negatif.
Tidak berhenti pada aspek pengawasan, Kakanwil juga menyempatkan diri berdialog langsung dengan warga binaan di blok hunian. Komunikasi tersebut dilakukan untuk melihat kondisi mereka secara lebih dekat sekaligus mendengarkan berbagai hal yang berkaitan dengan pelayanan dan pembinaan.
Dari interaksi tersebut terlihat bahwa pendekatan Pemasyarakatan tidak semata-mata menempatkan warga binaan sebagai objek pengawasan, tetapi juga sebagai manusia yang sedang menjalani proses pembinaan dan membutuhkan ruang untuk memperbaiki diri.
Monitoring selanjutnya diarahkan pada berbagai program pembinaan kemandirian yang dikembangkan di area brandgang Lapas. Di antaranya perikanan, perkebunan, peternakan hingga pembuatan pakan ikan yang dilakukan secara mandiri oleh warga binaan.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Kakanwil karena memberikan pengalaman dan keterampilan praktis yang dapat menjadi modal ketika warga binaan nantinya kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Irwan juga memberikan perhatian terhadap keberadaan barbershop di Lapas Kuala Tungkal yang dimanfaatkan sebagai sarana pelatihan keterampilan.
Menurutnya, pembinaan akan memiliki nilai yang lebih besar apabila keterampilan yang diperoleh selama berada di Lapas dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi setelah warga binaan bebas.
“Pembinaan yang diberikan harus benar-benar memberikan manfaat dan menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat. Kita ingin mereka memiliki keterampilan, kemandirian, dan kepercayaan diri untuk memulai kehidupan yang lebih baik,” ujar Irwan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Pemasyarakatan tidak hanya dapat dilihat dari kondisi Lapas yang aman dan tertib, tetapi juga dari sejauh mana proses pembinaan mampu memberikan perubahan positif bagi warga binaan.
Sementara itu, Kepala Lapas Kuala Tungkal, Iwan Darmawan, menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti arahan Kakanwil dengan terus meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan dan program pembinaan.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan, menjaga keamanan dan ketertiban, serta mengoptimalkan program pembinaan kemandirian. Berbagai keterampilan yang diberikan kami harapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan agar nantinya mampu mandiri dan memiliki kegiatan positif setelah kembali ke masyarakat,” ujar Iwan.
Menurutnya, penguatan pengawasan internal juga akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga integritas petugas dan menciptakan lingkungan Pemasyarakatan yang aman dan kondusif. Tes urine secara berkala, pengawasan rutin serta deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban akan terus diperkuat.
Melalui monitoring dan evaluasi tersebut, Lapas Kuala Tungkal diharapkan tidak hanya mampu menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga semakin konsisten menghadirkan pelayanan yang manusiawi, pemenuhan hak yang layak dan pembinaan yang benar-benar memberikan bekal kehidupan bagi warga binaan. Sebab, pada akhirnya, tujuan Pemasyarakatan bukan sekadar menjalani masa pidana, melainkan mempersiapkan manusia untuk kembali ke masyarakat dengan sikap yang lebih baik, keterampilan yang lebih kuat dan harapan untuk menjalani kehidupan secara mandiri. (OYI)








Discussion about this post