Jambiday.com, JAMBI — Musibah yang menimpa sejumlah jurnalis dan awak kapal saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengetuk rasa kemanusiaan banyak pihak. Dari balik tembok Lapas Kelas IIA Jambi, doa pun dipanjatkan untuk mereka yang hingga kini masih dinyatakan hilang kontak.
Keluarga besar Lapas Kelas IIA Jambi bersama warga binaan menggelar salat dan doa bersama sebagai bentuk kepedulian serta solidaritas terhadap lima orang jurnalis dan tiga awak kapal yang dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Dalam suasana khusyuk, para warga binaan berdiri dalam satu saf. Tidak ada sekat profesi, status maupun tempat. Yang ada hanya doa dan harapan agar mereka yang tengah berada dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP) Kelas IIA Jambi, Riko Hamdan, mengatakan doa bersama tersebut merupakan bentuk empati dan solidaritas keluarga besar Lapas Jambi terhadap para korban maupun keluarga yang sedang menanti kabar.

“Kami mungkin tidak berada di lokasi dan tidak bisa terlibat langsung dalam proses pencarian. Tetapi kami bisa memberikan dukungan melalui doa. Dari dalam Lapas, kami bersama warga binaan mendoakan agar saudara-saudara kita yang hilang segera ditemukan dalam keadaan selamat,” ujar Riko usai doa bersama, Jumat (11/9/26).
Menurutnya, jurnalis merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena memiliki tugas menyampaikan informasi kepada publik. Musibah yang terjadi saat menjalankan tugas tersebut menjadi keprihatinan bersama.
“Mereka sedang menjalankan tugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Karena itu, ketika ada rekan-rekan jurnalis yang mengalami musibah, tentu kita semua ikut prihatin. Mudah-mudahan ikhtiar tim SAR dan seluruh pihak yang terlibat dalam pencarian diberikan kemudahan,” katanya.
Riko juga menyampaikan doa khusus bagi keluarga korban yang saat ini tengah menunggu dengan penuh kecemasan.
“Kami mendoakan keluarga yang menunggu agar diberikan kekuatan dan ketabahan. Semoga segera ada kabar baik dan seluruh korban dapat ditemukan dalam keadaan selamat,” ucapnya.
Ia menambahkan, salat dan doa bersama yang dilakukan warga binaan menjadi pesan bahwa rasa kemanusiaan dan kepedulian tidak mengenal batas tempat maupun status seseorang.
Dari balik tembok pemasyarakatan, warga binaan turut mengetuk langit dengan doa. Sebuah doa sederhana, namun sarat harapan, agar pencarian segera menemukan titik terang dan delapan orang yang tengah dinantikan kepulangannya dapat kembali berkumpul bersama keluarga. Sebab di tengah musibah, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya ikhtiar, tetapi juga doa yang terus dipanjatkan tanpa henti. (OYI)








Discussion about this post