Jambiday.com, MUARA SABAK- Dari balik tembok pemasyarakatan, sebuah proses pembelajaran kembali menunjukkan hasil nyata. Sebanyak 500 butir telur ayam berhasil dipanen dalam panen perdana budidaya ayam petelur di Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Narkotika Muara Sabak, Senin (5/10).
Panen tersebut dihadiri langsung Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, didampingi Kepala Bidang Pembinaan dan Pengentasan Anak (PK) Dimas Krisna. Kehadiran Kakanwil disambut Kepala Lapas Narkotika Muara Sabak, M. Askari Utomo, bersama jajaran pejabat struktural.
Tidak sekadar memanen hasil peternakan, kegiatan ini menjadi gambaran bagaimana program pembinaan kemandirian diarahkan untuk memberikan pengalaman nyata kepada Warga Binaan.
Sebanyak 1.000 ekor ayam petelur selama ini dipelihara secara rutin dengan melibatkan Warga Binaan dan berada dalam pendampingan petugas. Dari proses tersebut, panen perdana menghasilkan 500 butir telur.
Setiap tahapan dilakukan dengan memperhatikan kebersihan kandang, kesehatan ayam, pemberian perawatan secara rutin hingga pemantauan produktivitas. Langkah tersebut menjadi bagian penting agar kegiatan peternakan tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Kakanwil Ditjenpas Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, mengapresiasi jajaran Lapas Narkotika Muara Sabak yang telah mengembangkan budidaya ayam petelur sebagai bagian dari pembinaan.
Menurutnya, nilai penting dari kegiatan tersebut bukan hanya terletak pada jumlah telur yang berhasil dipanen, tetapi juga pada proses pembelajaran yang dijalani Warga Binaan.

“Saya mengapresiasi jajaran Lapas Narkotika Muara Sabak yang telah menjalankan program pembinaan ayam petelur ini hingga menghasilkan panen perdana. Ini merupakan bukti bahwa pembinaan kemandirian dapat memberikan hasil yang nyata sekaligus membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang bermanfaat,” ujar Irwan.
Di balik 500 butir telur yang terkumpul, terdapat proses panjang berupa disiplin, ketekunan dan tanggung jawab. Warga Binaan tidak hanya menjadi penerima pembinaan, tetapi ikut terlibat langsung dalam kegiatan produktif yang dapat menjadi pengalaman berharga untuk kehidupan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Kalapas Narkotika Muara Sabak, M. Askari Utomo, mengatakan panen perdana tersebut menjadi motivasi bagi jajarannya untuk terus mengembangkan pengelolaan peternakan ayam petelur.
“Panen perdana ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pengelolaan peternakan ayam petelur. Warga Binaan dilibatkan dalam proses pemeliharaan sehingga mereka mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ungkap Askari.
Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan di dalam Lapas dapat diarahkan pada kegiatan yang produktif dan memiliki manfaat berkelanjutan. Dari merawat ayam, menjaga kebersihan kandang hingga memanen telur, Warga Binaan belajar bahwa hasil tidak datang secara instan, melainkan melalui proses yang membutuhkan konsistensi dan tanggung jawab.

Lapas Narkotika Muara Sabak berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan pembinaan kemandirian yang melibatkan Warga Binaan. Selain mendukung ketahanan pangan, budidaya ayam petelur diharapkan mampu menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, keterampilan dan kemandirian.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembinaan bukan hanya tentang apa yang dihasilkan selama berada di dalam Lapas, tetapi tentang bekal yang dibawa Warga Binaan ketika kembali ke masyarakat. Agar mereka memiliki keterampilan, kepercayaan diri dan kesempatan untuk menata kembali kehidupan secara lebih baik. (OYI)



Discussion about this post