Jambiday.com, MUARO JAMBI – Menjalani masa pidana bukan berarti seseorang kehilangan kesempatan untuk berubah. Di balik tembok pemasyarakatan, selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki diri dan menata kembali kehidupan. Semangat itulah yang dihadirkan melalui Program Piloting dan Implementasi Kurikulum Holistik Modul Aktivasi Ruhiologi (MAR) yang dilaksanakan di Lapas Jambi.
Kegiatan ini menghadirkan Prof Iskandar sebagai pemateri, didampingi Amin serta Psikolog Lapas Jambi, Eni Novalia, M.Psi.
Program MAR dirancang sebagai bagian dari pendekatan pembinaan yang menyentuh aspek manusia secara lebih utuh. Tidak hanya melihat seseorang dari kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi juga membuka ruang bagi proses mengenali diri, mengelola emosi, membangun kesadaran dan menumbuhkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Bagi warga binaan, kesempatan untuk mengikuti program seperti ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjang menuju perubahan. Sebab, pembinaan sejatinya bukan sekadar bagaimana seseorang menjalani hukuman, melainkan bagaimana ia mampu mengambil pelajaran dari masa lalu dan mempersiapkan diri ketika kembali ke tengah keluarga serta masyarakat.
Melalui pendampingan yang melibatkan pemateri dan psikolog, peserta diajak untuk melihat kembali perjalanan hidupnya dengan perspektif yang lebih positif.
“Masa lalu tidak harus menjadi akhir dari segalanya, tetapi dapat menjadi titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna. Program ini juga mengingatkan bahwa mereka manusia yang memang benar bersalah, tetapi bisa berubah jika mau dan niat berubah. Jalani sisa masa hukuman dengan perbanyak ibadah, menambah kemampau dan kreatifitas. Sehingga pas pulang ke rumah ada ilmu yang berguna untuk melanjutkan hidup,” jelas Eni, Psikolog Lapas Jambi.

Kehadiran Program MAR juga memperkuat pesan bahwa pemasyarakatan adalah proses memanusiakan manusia. Setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk bertumbuh, selama diberikan ruang, pendampingan dan kepercayaan untuk memperbaiki diri.
Dari balik tembok Lapas Jambi, harapan itu terus dirawat. Harapan agar ketika waktunya kembali ke masyarakat tiba, mereka tidak hanya membawa pengalaman menjalani masa pidana, tetapi juga membawa bekal kesadaran, keteguhan dan keyakinan bahwa hidup masih memiliki kesempatan kedua.
Karena pada akhirnya, perubahan tidak selalu dimulai dari tempat yang sempurna. Terkadang, perubahan justru lahir ketika seseorang berani melihat ke dalam dirinya dan memutuskan untuk memulai kembali. (OYI)



Discussion about this post