Wednesday, October 28, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home OPINI

Sumpah Pemuda dan Ujian Demokrasi: Berbeda Pilihan, Tetap Satu Tujuan

Oleh: Anugrah Mulia

by Redaksi
28/10/2026
in OPINI
0
Oplus_16908288

Oplus_16908288

1
VIEWS
PostTweetShareScan

SETIAP 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Namun, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, pengibaran bendera, atau pengulangan ikrar yang telah diwariskan sejak 1928. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda harus menjadi momentum untuk menguji kembali sejauh mana kita menjaga persatuan di tengah dinamika demokrasi yang semakin kompleks.

Sumpah Pemuda bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah fondasi kebangsaan, sebuah kesadaran kolektif bahwa Indonesia hanya dapat berdiri kokoh apabila perbedaan dirajut menjadi kekuatan bersama. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia merupakan bukti bahwa para pemuda kala itu mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas identitas kelompok, suku, maupun golongan.

Bacajuga

Beringin Berusia 62, Integritas Jangan Tumbang

Jelang Putusan Kasus Ijazah Gibran di MK

Ketika Asap Menutup Langit Jambi

UNGA KE-81: Catatan Dosen Hukum Internasional dari Tengah Krisis Multilateralisme

Presiden (Juga) Pendidik

Asap dan Keadilan

Semangat inilah yang semestinya menjadi pegangan dalam kehidupan demokrasi Indonesia hari ini.

Demokrasi Bukan Alat untuk Memecah Belah

Demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, menentukan pilihan politik, mengkritik kebijakan, serta memperjuangkan kepentingannya. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam negara demokratis. Bahkan, perbedaan merupakan bagian penting dari proses menemukan keputusan terbaik bagi kepentingan masyarakat.

Namun, persoalan muncul ketika perbedaan pilihan berubah menjadi permusuhan, kritik dianggap sebagai ancaman, dan lawan politik diperlakukan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Demokrasi kehilangan maknanya ketika kebebasan digunakan untuk menyebarkan kebencian, memelihara prasangka, atau merendahkan kelompok lain.

Demokrasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai perebutan kekuasaan melalui pemilihan umum. Demokrasi juga menuntut kedewasaan dalam menerima hasil, keberanian dalam mengakui kekurangan, kesediaan untuk mendengarkan kritik, serta komitmen untuk menghormati hak setiap warga negara.

Di sinilah semangat Sumpah Pemuda menemukan relevansinya. Persatuan bukan berarti seluruh rakyat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan berarti kita tetap mengakui diri sebagai satu bangsa, meskipun berbeda pilihan, kepentingan, dan cara pandang.

Perbedaan Politik Jangan Meruntuhkan Persaudaraan

Dalam setiap kontestasi politik, masyarakat kerap terbelah oleh dukungan terhadap tokoh, partai, maupun kelompok tertentu. Perbedaan yang semestinya menjadi bagian dari dinamika demokrasi terkadang merembet ke lingkungan keluarga, persahabatan, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Jangan sampai hubungan persaudaraan rusak hanya karena perbedaan pilihan politik. Jangan pula kepentingan kelompok sesaat mengalahkan kepentingan bangsa yang jauh lebih besar.

Politik seharusnya menjadi jalan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan sarana untuk menanamkan kebencian. Kekuasaan semestinya digunakan untuk menghadirkan keadilan dan pelayanan publik, bukan untuk mempertajam sekat-sekat sosial.

Karena itu, para elite politik memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan teladan. Perbedaan pandangan di antara para pemimpin tidak boleh berubah menjadi konflik yang diwariskan kepada masyarakat. Persaingan harus berlangsung secara sehat, kritik harus disampaikan berdasarkan fakta, dan setiap keputusan harus tetap berpijak pada konstitusi serta kepentingan publik.

Masyarakat pun harus semakin kritis dalam menyaring informasi, terutama di ruang digital. Berita bohong, provokasi, dan ujaran kebencian tidak boleh dibiarkan merusak kepercayaan antarsesama warga negara. Kebebasan berekspresi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, etika, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Pemuda Harus Menjadi Penjaga Akal Sehat Demokrasi

Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan demokrasi Indonesia. Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton, apalagi sekadar pengikut arus politik tanpa sikap kritis.

Pemuda harus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu mengawal proses demokrasi, mengawasi kebijakan publik, melawan penyebaran informasi palsu, serta menyuarakan kepentingan masyarakat secara konstruktif.

Keberanian pemuda tidak cukup diukur dari lantangnya menyampaikan kritik. Keberanian juga terlihat dari kesediaan mengakui kebenaran, meskipun datang dari pihak yang berbeda pilihan politik. Begitu pula loyalitas terhadap bangsa tidak ditentukan oleh kesetiaan kepada tokoh tertentu, melainkan oleh komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, keadilan, dan kepentingan rakyat.

Semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata: membangun dialog, menghargai perbedaan, menolak politik kebencian, serta memperkuat partisipasi publik dalam kehidupan bernegara.

Pemuda harus menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, bukan tembok yang memperlebar perpecahan.

Persatuan Harus Dibuktikan, Bukan Sekadar Diucapkan

Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini hendaknya menjadi pengingat bahwa persatuan bukan sesuatu yang diwariskan untuk diterima begitu saja. Persatuan harus terus dirawat melalui sikap, kebijakan, dan tindakan nyata.

Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari upaya memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, kritik juga tidak boleh kehilangan arah hingga berubah menjadi kebencian yang merusak tatanan sosial.

Indonesia membutuhkan demokrasi yang kuat sekaligus beradab. Demokrasi yang memberi ruang bagi perbedaan, tetapi tidak membiarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan. Demokrasi yang memungkinkan pergantian kekuasaan, tetapi tetap menjaga keberlanjutan pembangunan dan kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, pesan Sumpah Pemuda tetap relevan: kita boleh berbeda dalam pilihan, berseberangan dalam pandangan, bahkan bersaing dalam kontestasi politik. Namun, kita tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa kita berdiri di atas tanah air yang sama, membawa identitas kebangsaan yang sama, dan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap masa depan Indonesia.

Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bagaimana bangsa ini bersatu pada masa lalu, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk tetap bersatu hari ini dan pada masa depan.

Sebab, demokrasi yang sehat tidak menuntut semua orang untuk sepakat. Demokrasi yang sehat menuntut setiap orang untuk menghormati perbedaan tanpa kehilangan rasa kebangsaan.

Berbeda pilihan bukan alasan untuk bermusuhan. Berbeda pendapat bukan alasan untuk terpecah. Dan berbeda jalan politik bukan alasan untuk melupakan bahwa kita semua adalah bagian dari Indonesia.

Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Persatuan adalah fondasi, demokrasi adalah jalan, dan kesejahteraan rakyat adalah tujuan. (***)

Previous Post

Pengusaha Perkebunan Tak Bisa Lepas Tangan, Pansus Karhutla Jambi Kaji Penguatan Regulasi dan Sanksi

Next Post

Hadiri Forum Konsultasi Publik PTUN Jambi, Komisioner KI Tekankan Digitalisasi Harus Inklusif

Next Post
Hadiri Forum Konsultasi Publik PTUN Jambi, Komisioner KI Tekankan Digitalisasi Harus Inklusif. FOTO: IST

Hadiri Forum Konsultasi Publik PTUN Jambi, Komisioner KI Tekankan Digitalisasi Harus Inklusif

Discussion about this post

Iklan

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK