Jambiday.com, KERINCI – Di balik gemuruh Air Terjun Telun Berasap yang memecah sunyi kaki Gunung Kerinci, tersimpan harapan besar bagi masyarakat Desa Kayu Aro. Keindahan alam yang selama ini memikat ribuan wisatawan dinilai belum sepenuhnya didukung oleh fasilitas yang layak dan sistem pengelolaan wisata yang profesional.
Sebab ini lah, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT mendorong pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan segera melakukan rehabilitasi sarana-prasarana sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata berbasis masyarakat (Community-Based Tourism). Menurut Ivan, Telun Berasap bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan aset daerah yang mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikelola secara aman, nyaman, profesional, dan berkelanjutan.
“Alam Telun Berasap sudah dianugerahi keindahan yang luar biasa. Yang menjadi tugas kita sekarang adalah menghadirkan rasa aman, kenyamanan, pelayanan yang baik, serta memastikan masyarakat sekitar menjadi penerima manfaat utama dari berkembangnya sektor pariwisata ini,” ujar Ivan.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu segera ditangani. Mulai dari tangga menuju lokasi air terjun yang licin dan berlumut, handrail atau pegangan yang berkarat, sistem drainase jalur yang belum memadai, dek pandang yang basah dan rawan terpeleset, pagar pengaman yang perlu diperkuat, hingga masih terbatasnya rambu keselamatan, fasilitas P3K, serta titik evakuasi darurat.
Ivan menjelaskan, pembenahan harus diawali dengan prinsip keselamatan. Akses menuju lokasi wisata harus diselamatkan, tebing dan dek pandang diperkuat, operasional kawasan ditata lebih tertib, sehingga pengalaman wisata menjadi lebih aman dan menyenangkan bagi seluruh pengunjung. Untuk itu, ia mengusulkan paket rehabilitasi prioritas yang mencakup pembangunan tangga aman dengan permukaan anti-slip, pemasangan handrail dan pagar pengaman antikarat, perbaikan drainase serta pengendalian aliran air hujan, pembangunan dek pandang berlantai anti-slip, mitigasi lereng melalui perkuatan dan penghijauan, penyediaan sistem keselamatan wisata berupa rambu, titik evakuasi dan perlengkapan P3K, hingga penataan kebersihan kawasan melalui penyediaan toilet yang layak, tempat sampah terpilah dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Tahapan pelaksanaannya pun disusun secara bertahap. Dalam 0–30 hari, dilakukan pembersihan lumut, pemangkasan vegetasi, pemasangan rambu darurat serta perbaikan ringan. Selanjutnya pada 1–4 bulan, difokuskan pada rehabilitasi tangga, handrail, drainase, dek pandang dan pagar pengaman. Memasuki 4–8 bulan, dilakukan penataan kawasan meliputi toilet, area foto, titik istirahat dan lanskap, kemudian dilanjutkan secara berkelanjutan melalui penerapan SOP, pembatasan kapasitas pengunjung, inspeksi rutin serta pencatatan insiden sebagai bagian dari sistem keselamatan wisata.
Ivan menilai keberhasilan pembangunan wisata tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan sumber daya manusia di sekitar kawasan wisata. Karena itu, ia mengusulkan penyelenggaraan Pelatihan Pengelolaan Layanan Wisata Berbasis Masyarakat selama tiga hari bagi warga Desa Kayu Aro bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Kerinci.
Pelatihan tersebut ditujukan kepada pengelola warung, petugas parkir, calon pemandu wisata lokal, Pokdarwis, BUMDes serta pemerintah desa dengan jumlah peserta sekitar 30–40 orang.
Pada hari pertama peserta akan mendapatkan materi mengenai dasar keramahan pelayanan (hospitality), konsep pelayanan wisata, kebersihan dan kerapian warung, keamanan makanan dan minuman, hingga teknik komunikasi dan penanganan keluhan wisatawan. Hari kedua difokuskan pada manajemen lahan parkir profesional, mulai dari fungsi parkir wisata, klasifikasi kendaraan, sistem satu arah, pengaturan zona parkir, pemasangan rambu, sistem tiket dan pencatatan, hingga pengamanan kendaraan dan penanganan insiden.
Sementara hari ketiga membahas protokol keselamatan pemandu wisata, pengenalan risiko kawasan Telun Berasap, teknik pendampingan wisatawan saat melewati jalur tangga, pertolongan pertama (P3K), mitigasi risiko, simulasi evakuasi darurat hingga penyusunan rantai komando ketika terjadi keadaan darurat.
Metode pelatihan dirancang dengan komposisi 40 persen teori, 40 persen praktik lapangan dan simulasi, serta 20 persen diskusi kelompok, sehingga peserta tidak hanya memahami materi tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung. Ivan juga mengusulkan agar peserta yang memenuhi syarat memperoleh Sertifikat Agen Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism Agent) yang berlaku selama dua tahun dan dapat diperpanjang melalui proses sertifikasi ulang.
Program tersebut diharapkan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Pemerintah Desa Kayu Aro, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kerinci, Dinas PUPR, BPBD, Puskesmas, Polsek, BUMDes, akademisi, Pokdarwis serta dukungan DPRD dan sektor CSR.
Selain pembenahan fisik dan peningkatan SDM, Ivan turut mengusulkan rehabilitasi sejumlah fasilitas pendukung seperti area parkir dan loket tiket, toilet umum, tempat sampah terpilah, gazebo dan area istirahat, papan informasi, lampu penerangan tenaga surya, drainase permanen, pos pengamanan, serta perlengkapan keselamatan wisata.
Estimasi kebutuhan anggaran rehabilitasi tahap awal tersebut mencapai sekitar Rp1,025 miliar, yang nantinya akan disempurnakan melalui survei teknis dan penyusunan Detail Engineering Design (DED) serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) resmi. Menurut Ivan, seluruh upaya tersebut bertujuan menghadirkan kawasan wisata yang lebih aman, lebih tertib, lebih bersih, lebih nyaman dan dikelola secara profesional, sehingga mampu meningkatkan kepuasan wisatawan sekaligus mendongkrak pendapatan masyarakat dan desa.
“Kita ingin masyarakat Kayu Aro tidak hanya melihat wisatawan datang lalu pulang. Mereka harus menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi dari sektor ini. Ketika warung tertata, parkir profesional, pemandu memiliki sertifikat, kawasan bersih dan aman, maka wisatawan akan datang kembali. Itulah pariwisata yang sesungguhnya, memberi manfaat bagi alam, masyarakat, dan daerah secara berkelanjutan,” tegas Sekretaris Golkar Provinsi Jambi ini.
Ia berharap Telun Berasap dapat menjadi model pengembangan wisata alam berbasis masyarakat di Provinsi Jambi, yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga mengedepankan keselamatan, kualitas pelayanan, pemberdayaan warga, dan tata kelola yang profesional sehingga mampu menjadi ikon pariwisata unggulan Kabupaten Kerinci dan Provinsi Jambi. (OYI)



Discussion about this post