Jambiday.com, JAMBI- Malam kedua bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M menjadi momen yang sarat makna di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jambi. Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi yang terkunci, cahaya ibadah justru terasa semakin hangat. Kamis malam, 29 Februari 2026, puluhan warga binaan khusyuk menunaikan shalat tarawih berjamaah di Masjid At-Taubah, menghadirkan suasana religius yang meneduhkan hati.
Sejak usai shalat Isya, suasana masjid di dalam lapas tampak berbeda. Deretan saf terisi rapi, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema lembut, dan wajah-wajah penuh harap tertunduk dalam doa. Sebanyak 98 narapidana mengikuti shalat tarawih sesuai mekanisme dan pengaturan keamanan yang berlaku. Di tengah keterbatasan ruang gerak, Ramadhan menjadi ruang kebebasan spiritual yang tak berbatas.
Kehadiran Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, semakin menambah kekhidmatan malam itu. Ia tak sekadar hadir, tetapi menyapa langsung warga binaan, memberikan motivasi serta tausiah yang menyentuh hati.

“Kita harus mengucap syukur kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Bulan ini penuh keberkahan, di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan. Mari manfaatkan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah dan membaca Al-Qur’an,” pesan Irwan.
Di samping itu, Kepala Lapas Kelas IIA Jambi, Syahroni Ali, bersama KA KPLP Riko Hamdan dan jajaran petugas Lapas turut mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Kehadiran pimpinan di tengah warga binaan menjadi simbol pembinaan yang humanis—bahwa proses pemasyarakatan bukan sekadar menjalani hukuman, melainkan perjalanan memperbaiki diri.
Selama kegiatan berlangsung, pengamanan dilakukan secara optimal untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif. Namun di balik pengawasan yang ketat, malam itu terasa hangat oleh kebersamaan. Doa-doa dipanjatkan, harapan-harapan disematkan, dan air mata penyesalan bercampur dengan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Ramadhan di dalam Lapas bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan. Ia menjadi momentum refleksi, penguatan iman, sekaligus penyemai harapan baru bagi warga binaan dalam menapaki proses pembinaan. Di bawah cahaya lampu masjid dan lantunan doa, terselip keyakinan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali pada jalan kebaikan. (OYI)








Discussion about this post