Jambiday.com, JAMBI- Suasana berbeda tampak di lingkungan Lapas Kelas IIA Jambi saat ratusan warga binaan mulai diberangkatkan menuju lokasi baru lembaga pemasyarakatan di Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Perpindahan ini menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah pemasyarakatan di Provinsi Jambi, sekaligus menandai dimulainya operasional hunian baru yang lebih luas dan representatif.
Sejak pagi hari, petugas pemasyarakatan bersama unsur pengamanan gabungan dari TNI dan Polri telah bersiaga penuh. Setiap tahapan perpindahan dilakukan berdasarkan prosedur tetap (protap) yang telah disusun secara matang guna memastikan keamanan, ketertiban, dan keselamatan seluruh warga binaan maupun petugas pengawal.

Kepala Lapas Kelas IIA Jambi, Syahroni Ali, menjelaskan bahwa jumlah penghuni lapas saat ini mencapai 1.555 warga binaan. Kondisi tersebut membuat tingkat hunian mengalami kelebihan kapasitas hingga sekitar 80 persen dari daya tampung ideal.
“Perpindahan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembinaan, pelayanan kesehatan, serta memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi warga binaan. Di lokasi baru, fasilitas jauh lebih luas dan mendukung proses pembinaan yang lebih optimal,” ujar Syahroni.
Menurutnya, proses perpindahan dilakukan secara bertahap dalam beberapa kloter. Pada kloter pertama, sebanyak 499 warga binaan yang masuk kategori maksimum security dipindahkan lebih dahulu ke Bukit Baling.
“Kloter pertama berjumlah 499 orang. Mereka merupakan warga binaan yang masuk dalam perhitungan maksimum security. Untuk kloter berikutnya akan menyusul warga binaan lainnya secara bertahap sesuai klasifikasi dan pengamanan yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Syahroni menambahkan, pemindahan tidak hanya menyangkut warga binaan, tetapi juga seluruh sarana pendukung kehidupan di dalam lapas. Pada tahap berikutnya akan dilakukan pengangkutan perlengkapan, peralatan, hingga kasur-kasur hunian.
Sementara untuk warga binaan yang berada di blok medium security akan ditempatkan pada dua blok khusus yang telah disiapkan. Sedangkan narapidana tindak pidana korupsi dijadwalkan menjadi kelompok terakhir yang dipindahkan, bersama warga binaan yang masih menjalani perawatan di klinik Lapas.
“Kita lakukan secara bertahap dan terukur. Yang sakit di klinik menjadi prioritas terakhir setelah kondisi memungkinkan. Begitu juga warga binaan tipikor yang akan dipindahkan pada tahap akhir,” katanya.
Proses perpindahan tersebut mendapat dukungan penuh dari aparat keamanan. Personel TNI AD, Brimob, Gegana, serta jajaran Polres Muaro Jambi dan Polres Sengeti diterjunkan untuk mengawal jalannya pemindahan.
Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jambi, Kompol Ginda Silalahi, mengatakan pengamanan dilakukan secara berlapis mulai dari titik keberangkatan hingga lokasi tujuan.
“Kami menurunkan satu pleton personel. Setiap bus yang mengangkut warga binaan dikawal oleh dua hingga tiga anggota Brimob. Rangkaian pertama telah sampai di lokasi dengan aman dan lancar,” ujarnya.
Selain personel Brimob dan Gegana, sekitar 10 personel TNI AD turut dilibatkan dalam pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian perpindahan berjalan sesuai rencana.
Di sepanjang proses perjalanan, petugas tampak melakukan pengawasan ketat terhadap setiap kendaraan yang keluar dari Lapas.
Bus-bus pengangkut warga binaan bergerak secara beriringan dengan pengawalan kendaraan patroli di depan dan belakang rombongan. Meski berlangsung dalam pengamanan maksimal, suasana perpindahan tetap mengedepankan pendekatan humanis. Para warga binaan diarahkan secara tertib, menjalani pemeriksaan berlapis, kemudian menaiki kendaraan sesuai daftar dan klasifikasi yang telah ditentukan.
Perpindahan menuju Lapas Bukit Baling bukan sekadar memindahkan penghuni dari satu bangunan ke bangunan lain. Lebih dari itu, langkah ini menjadi simbol harapan baru bagi sistem pemasyarakatan yang lebih manusiawi, lebih aman, dan lebih layak.
Dengan fasilitas yang lebih luas, layanan kesehatan yang lebih baik, serta ruang pembinaan yang lebih memadai, diharapkan proses pembentukan kembali warga binaan menjadi pribadi yang siap kembali ke tengah masyarakat dapat berjalan semakin optimal.

Di tengah ketatnya pengamanan dan panjangnya konvoi kendaraan yang bergerak menuju Bukit Baling, tersimpan harapan besar bahwa tempat baru tersebut akan menjadi ruang perubahan, tempat di mana pembinaan tidak hanya dijalankan, tetapi benar-benar memberi kesempatan kedua bagi mereka yang tengah menjalani masa pidana. Hingga saat ini perpindahan masih berlangsung. (OYI)







Discussion about this post