Wednesday, June 10, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home OPINI

Persimpangan Demokrasi Indonesia antara Politik Identitas dan Agenda Programatik

Oleh : Dr. Nuraida Fitri Habi, S.Ag, M.Ag (Dosen Fakultas Syariah UIN STS Jambi dan Koordinator Daerah Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Jambi)

by Redaksi
27/01/2026
in OPINI
0
Oplus_16908288

Oplus_16908288

1
VIEWS
PostTweetShareScan

PEMILU 2024 menegaskan bahwa politik identitas tetap menjadi catatan yang menjadi pekerjaan rumah demokrasi dalam kontestasi demokrasi Indonesia. Meskipun tidak lagi tampil sevulgar periode sebelumnya, variabel agama, etnis, dan kultural terus bekerja sebagai kekuatan laten yang membentuk preferensi pemilih, memengaruhi narasi kampanye, hingga menentukan pola koalisi.

Fenomena ini memperdalam perdebatan panjang dalam kajian politik mengenai apakah politik identitas merupakan strategi elektoral yang rasional dalam masyarakat majemuk, atau justru cerminan dari kegagalan ideologi politik dalam menawarkan visi kebangsaan yang substantif dan inklusif.

Bacajuga

Bedah Gaya Public Speaking Seskab vs Sesneg

Hilirisasi Sawit dan Jalan Besar Transformasi Ekonomi Jambi

Dampak Ekonomi Pengembangan UMKM Desa Penyangga Wisata

Kampus dan Libidus: Krisis Legitimasi Moral

​Bilik Suara Pendidikan sebagai Akar Demokrasi, Catatan Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Racun Digital: Segera Sediakan Rumah sakit Khusus

Secara teoritis, praktik ini sering kali berpijak pada pandangan esensialisme, sebuah teori yang meyakini bahwa identitas adalah esensi kodrati yang melekat tetap pada individu atau kelompok. Dalam logika esensialis, ikatan primordial dianggap sebagai entitas yang tidak berubah, sehingga sering kali dieksploitasi untuk mengunci loyalitas pemilih berdasarkan garis keturunan atau keyakinan yang dianggap saklek.

Padahal, jika merujuk pada cakrawala filsafat politik yang lebih luas seperti dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, politik identitas awalnya bersifat emansipatoris demi memperjuangkan keadilan bagi mereka yang termarjinalkan.

Namun, ketika berbenturan dengan kepentingan elektoral, esensi identitas tersebut sering kali mengalami komodifikasi. Kecenderungan ini kian jelas pasca-Pemilu 2024, di mana analisis terhadap polemik Partai Ummat dalam Jurnal Dinamika Politik Lokal (2025) menunjukkan bahwa identitas tetap digunakan sebagai penanda kedekatan simbolik ketika ideologi partai melemah.

Dalam konteks ini, identitas sosial berfungsi sebagai substitusi efektif untuk membangun loyalitas elektoral, sebuah dinamika yang juga terlihat dalam strategi salah satu calon presiden pilpres 2024 lalu yang didokumentasikan oleh Jurnal Audiens, di mana simbol kultural dikemas secara lebih moderat namun tetap hadir secara teknokratis untuk menyentuh basis massa tertentu.

Efektivitas ini kian nyata di tingkat lokal melalui pemanfaatan jaringan yang dianggap “alamiah” oleh penganut paham esensialisme. Studi kasus dalam Jurnal Noken memperlihatkan bahwa identitas keagamaan dan jaringan komunitas menjadi modal politik yang sangat efektif karena bekerja melalui relasi sosial yang telah mapan, melampaui sekadar persuasi programatik. Namun, keberhasilan elektoral tersebut tidak serta-merta meniadakan problem ideologis yang menyertainya.

Laporan Lemhannas mencatat bahwa praktik politik identitas yang lebih banyak beroperasi pada level simbolik dan emosional memicu terjadinya depolitisasi ideologi. Akibatnya, isu-isu struktural seperti ketimpangan ekonomi dan reformasi birokrasi kurang mendapatkan perdebatan mendalam karena tertutup oleh narasi identitas yang dianggap sebagai harga mati.

Dampak jangka panjangnya adalah residu polarisasi sosial yang masih terasa. Analisis dari Jurnal Ilmu Pemerintahan Balitbangda Lampung (2024) menunjukkan bahwa eksploitasi identitas—yang mempertegas batas-batas esensialis antara “kita” dan “mereka”—memperkuat logika in-group dan out-group yang melemahkan kohesi sosial.

Meskipun konsensus elite dapat meredam konflik terbuka, fragmentasi di tingkat akar rumput tetap membekas. Dari perspektif ideologi politik, sebagaimana ditegaskan dalam Governance: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan, ketika identitas menggantikan ideologi sebagai dasar kompetisi, demokrasi berisiko kehilangan fungsi deliberatifnya dan tereduksi menjadi sekadar arena mobilisasi simbolik.

Meski demikian, menilai politik identitas semata sebagai kegagalan adalah sebuah penyederhanaan realitas. Ia tetap memiliki potensi progresif apabila diintegrasikan ke dalam kerangka ideologis yang inklusif dan berorientasi pada kebijakan, bukan sekadar terjebak pada klaim esensialisme yang kaku.

Tantangan besar bagi demokrasi Indonesia ke depan adalah menggeser politik identitas dari sekadar strategi pemenangan suara menjadi instrumen representasi yang berakar pada kepentingan publik yang lebih luas. Pada akhirnya, masa depan demokrasi kita akan ditentukan oleh kemampuan aktor politik untuk melampaui pragmatisme elektoral dan kembali menegaskan kebijakan sebagai fondasi utama dalam kompetisi politik. (***)

Previous Post

Pengukuhan Kepala KPw BI Jambi, Perkuat Sinergi Dorong Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan

Next Post

Cek Endra: Musda V Momentum Konsolidasi dan Kebangkitan Golkar Muaro Jambi

Next Post
Oplus_16908288

Cek Endra: Musda V Momentum Konsolidasi dan Kebangkitan Golkar Muaro Jambi

Ivan Wirata: Musda Golkar Muaro Jambi Jadi Role Model, Asikin Resmi Pimpin dan Bidik Tujuh Kursi DPRD

Oplus_16908288

Cek Endra Kenang Jasa Presiden ke-2 RI di Haul ke-5 Haji Muhammad Soeharto di Butang Baru

Ketua DPRD Batang Hari Terima Silaturahmi Kapolres

Oplus_16908288

Transaksi Multilateral di Bursa Berjangka tumbuh 43,9%, Kontrak Berjangka Komoditas Emas mendominasi

Discussion about this post

Iklan

Kalender

June 2026
SMTWTFS
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930 
« May    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK