Saturday, October 3, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home OPINI

Racun Digital: Segera Sediakan Rumah sakit Khusus

Oleh: Bahren Nurdin (Akademisi UIN STS Jambi dan Pengamat Sosial)

by Redaksi
01/05/2026
in OPINI
0
1
VIEWS
PostTweetShareScan

DULU, di kampung saya, orang-orang sering bercerita tentang racun godam. Tak ada yang benar-benar tahu bahan dasarnya, tetapi konon siapa pun yang terkena akan muntah darah, perlahan melemah, lalu mati—kadang seketika. Cerita itu hidup sebagai peringatan: bahwa racun bisa datang tanpa terlihat, namun dampaknya nyata dan mematikan.

Memasuki zaman modern, kita mengenal racun yang lebih ilmiah—seperti sianida dan zat kimia lainnya. Kasus-kasus pembunuhan dengan racun bahkan menjadi berita besar. Ada korban, ada pelaku, ada proses hukum. Racun-racun ini jelas bentuknya, jelas bahayanya, dan jelas pula cara menghindarinya.

Bacajuga

Ketika Asap Menutup Langit Jambi

UNGA KE-81: Catatan Dosen Hukum Internasional dari Tengah Krisis Multilateralisme

Presiden (Juga) Pendidik

Asap dan Keadilan

Dilema Penegakan Hukum Karhutla: Antara “Kasihan Rakyat Kecil”, “Segera Hukum Perusahaan”, dan Tanggung Jawab Negara

Maulid Nabi SAW: Ketika Semua Mengejar Viral, Siapa yang Menjadi Teladan?

Namun hari ini, di era digital, muncul jenis ‘racun’ baru yang jauh lebih halus, nyaris tak terasa, tetapi dampaknya tidak kalah berbahaya: media sosial.

Racun digital ini tidak membunuh secara instan. Ia bekerja perlahan, merasuk ke dalam kebiasaan, membentuk ketergantungan, dan pada akhirnya melumpuhkan produktivitas serta kualitas hidup. Siapa saja bisa menjadi korban—anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun. Dari rakyat biasa hingga pejabat, dari santri hingga ulama, tak ada yang benar-benar kebal.

Gejalanya tampak jelas. Orang yang “teracuni” menjadi lalai, kecanduan, dan kehilangan fokus terhadap tanggung jawabnya. Anak-anak kehilangan minat belajar, lebih tertarik pada layar daripada buku. Aktivitas motorik menurun drastis. Mereka tidak lagi bermain, bergerak, atau berinteraksi secara sehat.

Lebih jauh lagi, konsumsi konten digital—terutama video pendek—telah membentuk pola pikir instan. Otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi perubahan cara berpikir.

Dampak psikologisnya pun tidak kalah serius. Media sosial seringkali menjadi ajang perbandingan hidup. Orang melihat kesuksesan orang lain tanpa memahami proses di baliknya. Akibatnya muncul rasa tidak cukup, stres, iri, bahkan dengki. Penyakit hati ini menyebar tanpa disadari, menggerogoti kesehatan mental masyarakat.

Bayangkan jika kondisi ini terus berlanjut. Negeri ini bisa dipenuhi oleh generasi yang “keracunan” gawai dan media sosial. Hari-hari mereka dihabiskan untuk menggulir layar tanpa tujuan. Produktivitas menurun, kreativitas melemah, dan daya saing bangsa ikut tergerus.

Lebih mengkhawatirkan lagi, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor kehidupan. Aparatur negara yang kecanduan media sosial bisa kehilangan fokus dalam bekerja. Ibu rumah tangga lalai mengurus keluarga. Para ayah kehilangan semangat mencari nafkah. Siswa berhenti belajar, guru dan dosen kehilangan dedikasi mengajar.

Jika ini terjadi secara masif, maka bukan hanya individu yang rusak, tetapi sistem sosial secara keseluruhan.
Inilah racun digital—tidak berwarna, tidak berbau, tetapi perlahan mematikan. Ia tidak menyerang tubuh secara fisik, melainkan pikiran, kebiasaan, dan karakter manusia.

Maka, kesadaran menjadi kunci. Kita tidak bisa sepenuhnya menghindari teknologi, tetapi kita harus mampu mengendalikannya. Menggunakan media sosial secara bijak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun, bagi mereka yang sudah terlanjur “terminum” racun ini, pendekatan personal saja tidak cukup. Negara harus hadir secara serius. Pemerintah perlu mendirikan pusat-pusat pemulihan—semacam “rumah sakit digital”—yang secara khusus menangani kecanduan gawai dan media sosial. Di sana tersedia tenaga profesional, mulai dari dokter, psikolog, hingga konselor yang memahami dampak neurologis dan mental dari paparan digital berlebihan.

Selain itu, perlu ada pengembangan “obat” dalam dua bentuk: kimia dan mental. Obat kimia dapat berupa terapi medis untuk kasus kecanduan berat yang telah memengaruhi fungsi otak. Sementara itu, “obat mental” berupa terapi perilaku, pendidikan literasi digital, serta pembentukan ulang kebiasaan hidup sehat. Ini bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang harus segera diwujudkan.

Racun digital tidak boleh lagi dianggap remeh. Tingkat bahayanya kini sudah setara dengan narkoba—bahkan dalam beberapa aspek bisa lebih luas dampaknya karena menyerang semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Jika negara lambat bertindak, korban akan terus berjatuhan secara perlahan. Dan pada akhirnya, bukan hanya individu yang runtuh, tetapi juga masa depan bangsa yang terancam bangkrut. (***)

Previous Post

May Day !! ” Pekerja Prempuan, Merenggut Setara Kesempatan dan Upah.”

Next Post

Serahkan SK Golkar Muaro Jambi, Cek Endra: Konsolidasi Total dan Bidik Kursi Pimpinan

Next Post
H Asikin dan anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi Saat Menerima SK Kepengurusan Partai Golkar Kabupaten Muaro Jambi. FOTO: UCUP

Serahkan SK Golkar Muaro Jambi, Cek Endra: Konsolidasi Total dan Bidik Kursi Pimpinan

Sekretaris Partai Golkar Provinsi Jambi Ivan Wirata saat memimpin rapat internal. FOTO: UCUP

Golkar Jambi Revitalisasi Pengurus, Perkuat Mesin Partai Menuju Agenda Politik

Warga Sungai Gelam Curhat Soal Keamanan dan Gas Mahal, Cek Endra Turun Tangan

Oplus_16908288

​Bilik Suara Pendidikan sebagai Akar Demokrasi, Catatan Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Rocky Candra Saat Sidak ke Gudang Bulog Kanwil  Jambi. FOTO : IST

Stok Pangan Jambi Aman hingga 2027, Rocky Candra Dorong Ketepatan Bantuan dan Serapan Jagung

Discussion about this post

Iklan

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK