Saturday, June 6, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home OPINI

Bedah Gaya Public Speaking Seskab vs Sesneg

Oleh: Dr. Mochammad Farisi, LL.M.

by Redaksi
06/06/2026
in OPINI
0
Oplus_16908288

Oplus_16908288

1
VIEWS
PostTweetShareScan

DI era media sosial, pejabat publik tidak hanya dinilai dari kebijakan yang mereka hasilkan, tetapi juga dari cara mereka berkomunikasi. Satu kalimat yang diucapkan dalam hitungan detik dapat direkam, dipotong, disebarluaskan, lalu membentuk persepsi publik yang bertahan jauh lebih lama daripada substansi kebijakan yang sedang dibahas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam dunia modern, komunikasi bukan lagi sekadar alat menyampaikan kebijakan, melainkan bagian dari kebijakan itu sendiri. Cara seorang pejabat berbicara dapat memperkuat kepercayaan publik, tetapi juga dapat memunculkan kontroversi yang mengaburkan substansi pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.

Bacajuga

Hilirisasi Sawit dan Jalan Besar Transformasi Ekonomi Jambi

Dampak Ekonomi Pengembangan UMKM Desa Penyangga Wisata

Kampus dan Libidus: Krisis Legitimasi Moral

​Bilik Suara Pendidikan sebagai Akar Demokrasi, Catatan Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Racun Digital: Segera Sediakan Rumah sakit Khusus

May Day !! ” Pekerja Prempuan, Merenggut Setara Kesempatan dan Upah.”

Dalam konteks ini, kemampuan public speaking bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan bagian penting dari kepemimpinan.

Belakangan ini, publik menyaksikan perbedaan menarik dalam gaya komunikasi dua pejabat penting di lingkungan Istana, yakni Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Keduanya sama-sama berada di lingkaran strategis pemerintahan, sama-sama sering berinteraksi dengan media, dan sama-sama menjadi wajah pemerintah di ruang publik. Namun, gaya komunikasi yang mereka tampilkan menunjukkan karakter yang berbeda.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan siapa yang lebih baik, melainkan untuk mengambil pelajaran mengenai bagaimana gaya komunikasi memengaruhi persepsi publik terhadap seorang pemimpin.

Ethos, Pathos, dan Logos

Dalam ilmu komunikasi, pesan yang diterima publik tidak hanya ditentukan oleh isi atau substansi, tetapi juga oleh cara penyampaian, ekspresi, pilihan kata, intonasi, dan konteks ketika pesan tersebut disampaikan.

Lebih dari dua ribu tahun lalu, Aristoteles menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif dibangun oleh tiga unsur utama, yaitu ethos, pathos, dan logos. Ethos berkaitan dengan kredibilitas pembicara. Pathos berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi audiens. Sementara logos berkaitan dengan kekuatan argumentasi dan logika yang digunakan.

Ketiga unsur tersebut harus berjalan seimbang. Pesan yang benar secara substansi belum tentu diterima publik apabila disampaikan dengan cara yang menimbulkan resistensi. Sebaliknya, gaya komunikasi yang baik dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap pesan yang disampaikan.

Dalam komunikasi politik modern, publik sering kali tidak mengingat seluruh isi konferensi pers. Yang diingat justru satu kalimat, satu ekspresi, atau satu momen yang dianggap menarik, kontroversial, atau emosional. Karena itu, bagi pejabat publik, cara berbicara sering kali sama pentingnya dengan isi pembicaraan itu sendiri.

Gaya Teddy: Spontan, Cepat, dan Responsif

Seskab Teddy memperlihatkan gaya komunikasi yang relatif spontan, cepat merespons, dan tidak terlalu formal. Karakter seperti ini memiliki sejumlah kelebihan. Komunikasi yang spontan dapat memberikan kesan percaya diri, energik, dan dekat dengan masyarakat. Dalam situasi tertentu, pendekatan tersebut mampu membuat komunikasi terasa lebih hidup dan tidak birokratis.
Namun spontanitas juga memiliki risiko.

Beberapa pernyataan Teddy yang kemudian menjadi perbincangan publik menunjukkan bagaimana sebuah komentar yang mungkin dimaksudkan sebagai candaan atau respons spontan dapat ditafsirkan berbeda oleh audiens yang lebih luas.

Ketika sebuah celetukan seperti “yang penting ada” menjadi viral, misalnya, publik tidak lagi melihat konteks lengkap percakapan. Yang tersisa hanyalah potongan kalimat yang kemudian ditafsirkan menurut sudut pandang masing-masing. Akibatnya, perhatian publik bergeser dari substansi ke kontroversi.

Dalam ilmu komunikasi, pesan tidak hanya dibentuk oleh kata-kata, tetapi juga oleh bahasa nonverbal. Bahkan dalam banyak kasus, publik lebih mempercayai ekspresi wajah dan nada suara dibandingkan kalimat yang diucapkan.

Ketika kata-kata dan ekspresi mengirimkan pesan yang sama, audiens cenderung menganggap pesan tersebut autentik. Sebaliknya, ketika seorang komunikator berusaha menjelaskan sesuatu tetapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang berbeda, publik biasanya lebih percaya pada bahasa tubuhnya.

Contoh lain dapat dilihat ketika merespons kritik dari diplomat senior Dino Patti Djalal. Dalam komunikasi politik, jawaban yang menselipkan sindiran pada sosok pengkritik sering kali membuat diskusi bergeser dari substansi menuju personalisasi. Akibatnya, publik lebih sibuk membahas siapa yang berbicara daripada apa yang sedang dibicarakan.

Dari perspektif public speaking, pengalaman-pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa spontanitas adalah kekuatan, tetapi spontanitas juga memerlukan disiplin komunikasi yang tinggi.

Gaya Prasetyo Hadi: Kalem, Terukur, dan Institusional

Berbeda dengan Teddy, Sesneg Prasetyo Hadi tampil dengan gaya komunikasi yang lebih tenang dan terukur. Dalam berbagai kesempatan, ia cenderung menggunakan kalimat yang ringkas, fokus pada substansi, dan relatif menghindari komentar yang berpotensi memunculkan polemik baru.

Nada bicara yang rendah, ekspresi yang stabil, serta kecenderungan untuk tidak bereaksi secara emosional memberikan kesan bahwa ia sedang berbicara atas nama institusi, bukan atas nama dirinya sendiri.

Gaya seperti ini mungkin tidak selalu menghasilkan kutipan yang viral atau menjadi perbincangan publik. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Fokus audiens tetap berada pada substansi pesan, bukan pada pribadi komunikator.

Dalam jabatan publik yang sangat strategis, kemampuan menjaga stabilitas komunikasi sering kali lebih penting dibandingkan kemampuan menghasilkan respons yang cepat. Publik cenderung melihat ketenangan sebagai simbol penguasaan diri, kematangan, dan kepemimpinan.

Prasetyo Hadi menunjukkan bahwa wibawa tidak selalu lahir dari suara yang keras atau respons yang cepat. Wibawa dapat muncul dari kemampuan mengendalikan diri, menjaga konsistensi pesan, dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan.

Spontanitas dan Ketenangan: Dua Kekuatan yang Berbeda

Sebenarnya, baik spontanitas maupun ketenangan memiliki tempat masing-masing dalam komunikasi publik. Spontanitas membuat seorang komunikator terlihat autentik dan dekat dengan audiens. Sebaliknya, ketenangan menciptakan kesan matang, stabil, dan dapat dipercaya.

Masalah muncul ketika spontanitas tidak lagi terkendali atau ketika emosi mulai memengaruhi pilihan kata. Pada titik inilah risiko kesalahpahaman meningkat. Sebaliknya, ketenangan yang berlebihan juga dapat membuat komunikasi terasa kaku dan kurang membumi.

Karena itu, tantangan terbesar seorang pejabat publik bukan memilih salah satu di antara keduanya, melainkan menemukan keseimbangan antara spontanitas dan kehati-hatian.

Mengapa Pejabat Tidak Boleh Baper?

Jabatan publik adalah jabatan yang hidup di bawah sorotan. Kritik, sindiran, tudingan, bahkan serangan personal merupakan bagian yang hampir tidak dapat dihindari. Karena itu, kemampuan mengendalikan respons emosional merupakan salah satu indikator penting kedewasaan kepemimpinan.

Dalam komunikasi politik modern, publik cenderung lebih menghargai pejabat yang mampu merespons kritik secara tenang daripada pejabat yang terlihat tersinggung atau reaktif. Ketika seorang pejabat menunjukkan kemarahan, ketersinggungan, atau kecenderungan menyerang balik pengkritiknya, fokus publik biasanya bergeser dari substansi persoalan menuju emosi pejabat tersebut.

Inilah sebabnya mengapa para pemimpin besar dunia selalu menjaga disiplin komunikasi yang ketat. Mereka memahami bahwa setiap respons bukan hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga mewakili institusi yang mereka pimpin.

Seorang pejabat boleh tidak setuju terhadap kritik, tetapi ia harus tetap mampu menunjukkan ketenangan dalam menyampaikan ketidaksetujuannya. Sebab dalam komunikasi publik, pengendalian diri sering kali lebih menentukan daripada kecerdasan argumentasi.

Pelajaran dari Barack Obama

Salah satu figur yang sering dijadikan rujukan dalam studi komunikasi politik adalah Barack Obama. Banyak analis komunikasi menilai bahwa kekuatan utama Obama bukan hanya pada kefasihan berbicara, melainkan pada kemampuannya memadukan ethos, pathos, dan logos secara seimbang.

Ketika menghadapi kritik yang keras, Obama jarang memberikan respons spontan yang emosional. Ia cenderung menjawab dengan tenang, menggunakan argumentasi yang terstruktur, dan sesekali menyisipkan humor yang terukur.

Ia memahami bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula konsekuensi dari setiap kata yang diucapkan. Karena itu, disiplin komunikasi menjadi bagian dari kepemimpinannya. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa kemampuan berbicara yang baik bukan semata-mata kemampuan merangkai kata-kata. Kemampuan berbicara yang baik adalah kemampuan mengendalikan diri ketika berbicara.

Komunikasi adalah Kepemimpinan

Perbedaan utama antara Seskab dan Sesneg sesungguhnya bukan terletak pada apa yang mereka katakan, melainkan pada bagaimana mereka mengelola emosi ketika berbicara di ruang publik.

Dari Teddy, kita belajar bahwa spontanitas dapat membuat komunikasi terasa hidup, energik, dan dekat dengan media. Namun spontanitas membutuhkan kehati-hatian karena satu kalimat yang keluar tanpa pertimbangan dapat menggeser perhatian publik dari substansi menuju kontroversi.

Dari Prasetyo Hadi, kita belajar bahwa ketenangan sering kali menjadi bentuk komunikasi yang paling efektif. Dalam banyak situasi, kemampuan menahan diri justru lebih kuat daripada kemampuan membalas.

Pada akhirnya, publik tidak hanya menilai kebijakan pemerintah, tetapi juga cara para pejabat menjelaskan kebijakan tersebut. Dalam dunia yang serba digital, setiap kata, ekspresi, dan respons memiliki makna politik yang tidak kecil.

Karena itu, public speaking bukan lagi sekadar keterampilan berbicara di depan kamera. Public speaking adalah seni mengelola pesan, emosi, dan persepsi publik secara bersamaan. Dan bagi seorang pemimpin, kemampuan tersebut bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. (***)

Previous Post

Lapas Kelas IIA Jambi Mulai Kosongkan Hunian Lama, Warga Binaan Diberangkatkan ke Bukit Baling

Next Post

106 Pejabat Dilantik, Fadhil Arief Perkuat Birokrasi Profesional dan Pelayanan Publik di Batang Hari

Next Post

106 Pejabat Dilantik, Fadhil Arief Perkuat Birokrasi Profesional dan Pelayanan Publik di Batang Hari

Lengkap! Ini 106 Nama Pejabat yang Dilantik dan Diambil Sumpah Jabatan Oleh Bupati Batang Hari

Kanwil Ditjenpas Jambi Irwan Rahmat Gumilar didampingi KA KPLP Riko Hamdan Saat Memberikan pengarahan ke warga binaan sebelum dipindahkan. FOTO: IST

Relokasi Warga Binaan Tuntas, Lapas Kelas IIA Jambi Resmi Tempati Gedung Baru

Discussion about this post

Iklan

Kalender

June 2026
SMTWTFS
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930 
« May    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK