Jambiday.com, JAMBI – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus kisaran Rp18.104 per dolar AS pada Senin (13/7/2026) mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT. Menurutnya, kondisi tersebut harus dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan yang membutuhkan respons kebijakan yang tepat dari pemerintah daerah.
Ivan Wirata mengatakan, sebagai daerah yang bertumpu pada sektor komoditas ekspor, Jambi berpotensi memperoleh keuntungan dari penguatan dolar. Komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, karet, migas, pinang, hingga hasil hutan akan menghasilkan nilai penerimaan yang lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
“Ini tentu menjadi peluang bagi Jambi karena struktur ekonomi kita masih didominasi komoditas ekspor. Nilai penerimaan perusahaan bisa meningkat, aktivitas produksi berpotensi bertambah, dan penerimaan negara maupun daerah juga dapat terdorong,” ujar Ivan.
Namun, politisi Partai Golkar itu mengingatkan bahwa keuntungan tersebut belum otomatis dirasakan masyarakat. Menurutnya, sebagian besar komoditas Jambi masih dijual dalam bentuk bahan mentah, sementara pusat operasional dan pengambilan keputusan banyak perusahaan masih berada di luar daerah.
“Nilai tambahnya belum banyak tinggal di Jambi. Karena itu, masyarakat belum tentu langsung menikmati keuntungan dari menguatnya dolar. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” katanya.
Di sisi lain, Ivan menilai pelemahan rupiah justru memberikan tekanan terhadap sektor-sektor yang masih bergantung pada barang impor. Kenaikan harga mesin, pupuk, bahan kimia, obat-obatan, suku cadang, hingga bahan baku industri akan meningkatkan biaya produksi yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga barang di masyarakat.

Ia menilai kelompok UMKM menjadi sektor yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut.
“Pelaku usaha kecil seperti industri tahu-tempe, roti, makanan olahan, perdagangan, hingga usaha lain yang masih menggunakan bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Kalau tidak ada intervensi pemerintah, mereka terpaksa menaikkan harga, mengurangi produksi, bahkan bisa menghentikan usahanya,” tegasnya.
Menurut Ivan, dampak berikutnya akan dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga pangan, transportasi, energi, dan berbagai kebutuhan pokok yang dapat menekan daya beli.
“Kalau daya beli masyarakat melemah, konsumsi rumah tangga ikut turun. Padahal konsumsi masyarakat merupakan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Dari sisi fiskal, Ivan juga mengingatkan bahwa penguatan dolar dapat meningkatkan biaya proyek pemerintah yang menggunakan material impor, sekaligus memperbesar beban subsidi dan kewajiban pemerintah yang berkaitan dengan valuta asing.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Provinsi Jambi segera menyiapkan langkah antisipatif. Dalam jangka pendek, pemerintah perlu fokus menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, memperkuat operasi pasar, memperlancar distribusi bahan pokok, serta memberikan dukungan pembiayaan kepada UMKM agar tetap bertahan.
“Jangan sampai gejolak kurs ini justru memukul pelaku usaha kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah harus hadir menjaga stabilitas ekonomi daerah,” katanya.
Lebih jauh, Ivan menegaskan bahwa kondisi ini harus dijadikan momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi Jambi melalui hilirisasi komoditas unggulan. Menurutnya, produk sawit, karet, batu bara, Migas, pinang, dan hasil hutan sudah saatnya diolah di dalam daerah agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia juga menyoroti pentingnya percepatan pembangunan kawasan industri, pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung, kawasan industri Kemingking, jalan khusus angkutan batu bara, serta penguatan sistem logistik untuk meningkatkan daya saing investasi.
Di sektor Migas, Ivan menilai percepatan penyelesaian Participating Interest (PI) 10 persen harus menjadi prioritas.
“Hak daerah atas PI Migas harus segera direalisasikan agar manfaat pengelolaan sumber daya alam benar-benar kembali kepada masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong agar perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Jambi tidak hanya melakukan aktivitas produksi, tetapi juga menempatkan kantor operasional, kegiatan hilirisasi, serta transaksi bisnisnya di daerah.
“Kalau pusat kegiatan ekonominya berada di Jambi, maka perputaran uang akan lebih besar, lapangan kerja bertambah, penerimaan pajak meningkat, dan manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Ivan.
Ia menegaskan, penguatan dolar bukan hanya persoalan nilai tukar, tetapi momentum untuk membenahi struktur ekonomi daerah.
“Jambi harus mampu memanfaatkan situasi ini dengan memperkuat hilirisasi, mendorong investasi, melindungi UMKM, mengendalikan inflasi, dan memastikan kekayaan sumber daya alam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (OYI)








Discussion about this post