Jambiday.com, MUARA SABAK- Di balik dinding tinggi dan pintu besi yang membatasi kebebasan, harapan itu ternyata masih tumbuh. Di Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak, secercah masa depan sedang diperjuangkan—bukan dengan pelarian, melainkan melalui pendidikan.
Suasana berbeda terasa ketika sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) duduk rapi, menatap lembar soal dengan penuh kesungguhan. Hari itu bukan hari biasa. Mereka tengah mengikuti Ujian Paket C—sebuah kesempatan yang mungkin dulu terasa jauh, namun kini menjadi jalan baru untuk memperbaiki hidup.
Program ini merupakan bagian dari komitmen pembinaan yang tak hanya menitikberatkan pada keamanan, tetapi juga pada pemulihan martabat manusia. Melalui kerja sama dengan PKBM Dendang, para warga binaan mendapatkan akses pendidikan kesetaraan setingkat SMA, yang dijalani dengan proses belajar penuh disiplin di dalam Lapas.
Setiap lembar jawaban yang mereka isi bukan sekadar jawaban akademik, tetapi juga simbol tekad untuk berubah. Bagi sebagian dari mereka, ini adalah kesempatan kedua yang tak ingin disia-siakan. Pelaksanaan ujian berlangsung tertib dan penuh pengawasan, memastikan integritas serta kualitas pendidikan tetap terjaga. Namun lebih dari itu, yang terlihat jelas adalah semangat—semangat untuk bangkit dari masa lalu.
Kepala Lapas Narkotika Muara Sabak, M Askari Utomo menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap individu, termasuk mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
“Di sini, kami tidak hanya menjaga, tetapi juga membina. Pendidikan menjadi jembatan penting agar mereka dapat kembali ke masyarakat dengan bekal yang lebih baik, lebih siap, dan lebih percaya diri,” ujarnya.
Sementara itu, pihak PKBM juga melihat sesuatu yang lebih dari sekadar proses belajar. Mereka menyaksikan langsung bagaimana semangat para warga binaan tumbuh dari waktu ke waktu.
“Antusiasme mereka luar biasa. Ini membuktikan bahwa ketika kesempatan diberikan, mereka mampu menunjukkan perubahan yang nyata,” ungkap perwakilan PKBM.
Ujian Paket C ini bukan hanya tentang memperoleh ijazah. Lebih dari itu, ini adalah tentang membangun kembali harapan, menata ulang masa depan, dan membuktikan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah. Di dalam ruang yang terbatas, mimpi-mimpi itu tetap hidup dan perlahan, mulai menemukan jalannya. (OYI)








Discussion about this post