Wednesday, June 10, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home OPINI

Pasca Pemilu, Mengapa Politik Identitas dan Konservatisme Makin Dominan

Oleh : Dr. Nuraida Fitri Habi, S Ag, M.Ag (Dosen Fakultas Syariah UIN STS Jambi dan Koordinator Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Jambi)

by Redaksi
21/11/2025
in OPINI
0
DR Nuraida Fitri Habi

DR Nuraida Fitri Habi

1
VIEWS
PostTweetShareScan

Pemilu presiden, legislatif, dan pilkada baru saja berlalu, namun yang muncul bukanlah ruang politik yang lebih tenang. Justru sebaliknya, Indonesia memasuki fase baru yang ditandai oleh menguatnya konservatisme politik, intensifikasi politik identitas, serta rekonstruksi ulang strategi partai politik. Pergeseran ini bukan sekadar rotasi elite, tetapi transformasi ideologis yang pelan namun pasti mengubah cara demokrasi bekerja di Indonesia.

Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pasca 2024, lanskap politik Indonesia bergerak menuju “konservatisme pragmatis,” yaitu kombinasi antara retorika moral, tuntutan ketertiban, dan narasi sejarah yang dijadikan pilar legitimasi politik. Hemay (2024) menjelaskan bahwa politisasi agama yang meningkat sejak 2019 tidak mereda, melainkan berubah menjadi ekspresi konservatisme yang diterima publik sebagai jaminan stabilitas sosial. Hidayah (2025) memperkuat kesimpulan ini dengan menunjukkan pergeseran dari populisme religius menuju populisme otoritarian, yaitu model politik yang menggunakan simbol moral sekaligus ketegasan negara untuk memobilisasi dukungan.

Bacajuga

Bedah Gaya Public Speaking Seskab vs Sesneg

Hilirisasi Sawit dan Jalan Besar Transformasi Ekonomi Jambi

Dampak Ekonomi Pengembangan UMKM Desa Penyangga Wisata

Kampus dan Libidus: Krisis Legitimasi Moral

​Bilik Suara Pendidikan sebagai Akar Demokrasi, Catatan Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Racun Digital: Segera Sediakan Rumah sakit Khusus

Dalam dinamika ini, politik identitas menjadi instrumen yang semakin efektif dan terstruktur. Studi Tabina (2024) menunjukkan bahwa partai-partai yang memainkan simbol agama dan etnis memperoleh keuntungan mobilisasi di tingkat akar rumput, terutama dalam kontestasi lokal. Sementara riset Unair Dialektika (2024) memperingatkan bahwa keberlanjutan politik identitas dalam pilkada menciptakan segregasi politik yang memengaruhi kohesi sosial antar-komunitas. Polarisasi ini diperburuk oleh ekosistem digital yang membentuk echo chambers, sebagaimana digambarkan dalam penelitian Rakhmani dan Saraswati (2023–2024), yang menegaskan bahwa algoritma media sosial mempercepat penyederhanaan identitas sekaligus memperlebar jurang antarkelompok.

Fenomena di tingkat nasional juga memperlihatkan tren penguatan narasi-narasi negara yang lebih konservatif. Lorch (2025) mencatat bahwa kemunduran demokrasi di Asia Tenggara—termasuk Indonesia—berjalan seiring melemahnya kapasitas masyarakat sipil menghadapi ekspansi kontrol pemerintah. Perspektif ini sejalan dengan kritik Habermasian dalam Wisdom Journal UGM (2025), yang menilai bahwa ruang publik Indonesia kini menghadapi tekanan akibat melemahnya rasionalitas komunikatif dan menguatnya dominasi narasi elite.

Di tingkat lokal, dampak politik identitas bersifat lebih beragam. Jurnal Wacana Politik (2025) mencatat bahwa di beberapa daerah identitas menjadi alat pragmatis untuk menciptakan stabilitas dan konsensus elektoral, sementara di daerah lain memperdalam fragmentasi yang menghambat pembangunan sosial-politik. Temuan BRIN (2024–2025) memperlihatkan bahwa lemahnya kaderisasi partai membuat kontestasi lokal bergantung penuh pada figur, yang pada akhirnya mendorong penggunaan identitas sebagai alat mobilisasi cepat, bukan sebagai landasan kebijakan substantif.

Dalam situasi demikian, strategi partai politik pun berubah. Anugrah (2024) menjelaskan bahwa partai-partai besar kini menggunakan dua jalur paralel: narasi moral untuk memperkuat basis identitas, dan agenda kesejahteraan untuk menarik pemilih moderat. Namun sebagaimana diingatkan Petlach (2025), populisme yang tidak diimbangi akuntabilitas publik cenderung menghasilkan konsolidasi kekuasaan yang melemahkan mekanisme checks and balances. Hal ini membuka peluang bagi penyempitan ruang sipil, sebagaimana sering ditekankan dalam laporan Amnesty International (2025) mengenai situasi kebebasan berekspresi di Indonesia.

Apabila tren ini tidak dibarengi perbaikan kelembagaan dan penguatan masyarakat sipil, Indonesia berisiko mengalami stagnasi demokrasi. Demokrasi akan tetap prosedural—pemilu berjalan, kalah-menang terjadi—namun substansi kebijakan publik ditentukan oleh narasi identitas dan moralitas, bukan kebutuhan warga. Tantangan terbesar demokrasi Indonesia saat ini bukanlah konflik elite, melainkan bagaimana mengembalikan arena politik ke orientasi kebijakan, bukan identitas. Penguatan pendidikan kewargaan, literasi digital, transparansi proses politik, serta keberanian elite moderat untuk menawarkan narasi alternatif yang inklusif menjadi kunci perbaikan arah demokrasi ke depan.

Dengan demikian, pertanyaan utama hari ini bukan lagi apakah politik identitas dan konservatisme meningkat. Keduanya jelas sedang dominan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu mengarahkan energi politik ini ke jalur demokrasi yang lebih matang, atau justru terjebak dalam spiral polarisasi yang semakin menekan ruang kebebasan publik. Masa depan demokrasi Indonesia kini ditentukan oleh bagaimana negara, masyarakat sipil, partai politik, dan pemilih menghadapi pertarungan ideologis pasca gelombang pemilu ini. (***)

Daftar Pustaka

Aspinall, E., & Warburton, E. (2020). Democracy Regression in Indonesia: Anatomy of a Backslide. Journal of Contemporary Asia, 50(1), 1–27. https://doi.org/10.1080/00472336.2019.1673206

Aspinall, E., Fossati, D., Muhtadi, B., & Warburton, E. (2020). Elites, Masses, and Democratic Decline in Indonesia. Democratization, 27(6), 1–22. https://doi.org/10.1080/13510347.2020.1744019

Aspinall, E., & Mietzner, M. (2022). When Identity Politics Deepens: Indonesia’s Democratic Dilemma. Pacific Affairs, 95(2), 189–210. https://doi.org/10.5509/2022952189

Berenschot, W., & van Klinken, G. (2021). Claim-Making and Brokerage in Authoritarian Democracies: Evidence from Indonesia. Governance, 34(3), 701–719. https://doi.org/10.1111/gove.12547

Fossati, D. (2020). The Resurgence of Conservative Islam in Indonesia. Journal of East Asian Studies, 20(2), 157–181. https://doi.org/10.1017/jea.2020.8

Haris, S. (2023). Kelas Menengah, Polarisasi, dan Konsolidasi Politik Identitas di Indonesia. Jurnal Penelitian Politik (LIPI/BRIN), 20(1), 1–20. https://doi.org/10.14203/jpp.v20i1.

Hadiz, V. R. (2020). Populisme Islam dan Politik Otoritarian Baru. Critical Asian Studies, 52(2), 192–209. https://doi.org/10.1080/14672715.2020.1734085

Mietzner, M. (2020). Authoritarianism and Democratic Decline in Indonesia. Democratization, 27(2), 1–20. https://doi.org/10.1080/13510347.2019.1700112

Mietzner, M. (2021). Polarization, Democratic Stress, and the 2024 Elections in Indonesia. Contemporary Southeast Asia, 43(3), 345–368. https://doi.org/10.1355/cs43-3b

Muhtadi, B. (2020). The Politics of Religious Mobilization: Indonesia’s Rising Conservatism. Asian Survey, 60(5), 857–880. https://doi.org/10.1525/as.2020.60.5.857

Muhtadi, B., & Sihombing, A. (2021). Money Politics and Voter Behavior in Indonesia. Electoral Studies, 72, 102351. https://doi.org/10.1016/j.electstud.2021.102351

Pepinsky, T. B., & Sances, M. W. (2020). Identity, Polarization, and Democracy in Southeast Asia. Comparative Politics, 52(4), 523–542. https://doi.org/10.5129/001041520X15724401842045

Power, T. J. (2022). Indonesia’s Democratic Malaise: Elite Fragmentation and Identity Politics. Journal of Democracy, 33(2), 95–109. https://doi.org/10.1353/jod.2022.0035

Robison, R., & Hadiz, V. R. (2020). Reorganizing Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Populism. Routledge.

Slater, D., & Simmons, E. (2022). Democratic Backsliding and the Middle-Income Trap in Indonesia. Perspectives on Politics, 20(4), 1231–1245. https://doi.org/10.1017/S1537592721001537

Warburton, E. (2023). Oligarki dan Efeknya terhadap Kebijakan Publik Indonesia. Indonesian Journal of Governance, 8(1), 15–32. https://doi.org/10.31002/jppgs.v8i1

Wilson, I. (2020). Militia Politics and Indonesia’s Democratic Deficit. Critical Asian Studies, 52(1), 34–52. https://doi.org/10.1080/14672715.2019.1706360

Previous Post

Ivan Wirata Dukung Gakkum ODOL Lewat Pos Terpadu dan Kebijakan Serentak Kepala Daerah

Next Post

Ketika Prosedur Dilanggar, Negara Hukum Kehilangan Wibawa

Next Post

Ketika Prosedur Dilanggar, Negara Hukum Kehilangan Wibawa

Bupati Fadhil Arief Sambut Kafilah MTQ: Tekankan Semangat, Ikhtiar, dan Generasi Qur’ani

Oplus_16908288

Kanwil Kemenham Jambi Dorong Komunitas Jadi Agen Perubahan dalam Pemajuan HAM

Batang Hari Super Tangguh Expo 2025 Resmi Menggema

Ketua PDBI Jambi, Ivan Wirata Saat Membuka Acara Rakerprov PDBI Tahun 2025. FOTO: UCUP

Rapat Kerja Provinsi PDBI Jambi Dimulai, Ivan Wirata Ajak Pengurus Bersatu Menyongsong Agenda Besar Drum Band Jambi

Discussion about this post

Iklan

Kalender

June 2026
SMTWTFS
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930 
« May    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK