Jambiday.com, JAMBI – Tembok yang rapuh perlahan diperbaiki. Atap yang sebelumnya bocor kembali kokoh. Rumah yang semula jauh dari kata layak, kini menjadi tempat tinggal yang lebih aman, sehat dan nyaman bagi keluarga yang membutuhkan.
Namun, ada kisah lain yang membuat Program Bedah Rumah yang dilaksanakan jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jambi ini menjadi istimewa. Di balik proses renovasi tersebut, ada tangan-tangan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang bekerja, berkeringat dan bergotong royong membantu membangun kembali rumah masyarakat.
Mereka tergabung dalam Pasukan Merah Putih Warga Binaan, sebuah program pemberdayaan yang memberikan ruang kepada WBP untuk menunjukkan bahwa masa lalu bukan akhir dari perjalanan hidup. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka diberi kesempatan untuk berkarya sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sepanjang April hingga Agustus 2026, Pasukan Merah Putih Warga Binaan di wilayah Ditjenpas Jambi berhasil menyelesaikan renovasi sembilan unit rumah masyarakat yang membutuhkan.
Sembilan rumah tersebut tersebar di berbagai wilayah, masing-masing melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan. Rumah pertama dibedah oleh Lapas Kelas IIB Muara Sabak, kemudian dilanjutkan oleh Lapas Kuala Tungkal, Lapas Sungai Penuh, Lapas Tebo, Lapas Bangko, Lapas Sarolangun, Lapas Bulian, Lapas Kelas IIA Jambi, dan rumah kesembilan melalui Lapas Muara Bungo.
Bagi keluarga penerima manfaat, renovasi tersebut bukan sekadar perubahan fisik bangunan. Rumah yang lebih layak berarti tempat berlindung yang lebih aman bagi anak-anak, ruang berkumpul yang lebih nyaman bagi keluarga, sekaligus menghadirkan kembali harapan yang mungkin sempat redup.
Di sisi lain, bagi para WBP yang terlibat, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang jauh lebih bermakna dari sekadar pekerjaan konstruksi.
Setiap bata yang disusun, setiap dinding yang diperbaiki dan setiap bagian rumah yang direnovasi menjadi bagian dari proses pembelajaran. Mereka dilatih untuk bekerja disiplin, bertanggung jawab, mandiri, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jambi Irwan Rahmat Gumilar menegaskan, Program Bedah Rumah merupakan bentuk nyata pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan kerja, tetapi juga membangun kepedulian sosial Warga Binaan.
Menurutnya, WBP harus diberikan ruang untuk menunjukkan potensi dan kemampuannya sehingga ketika kembali ke tengah masyarakat, mereka memiliki bekal keterampilan sekaligus rasa percaya diri untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Program ini menjadi wujud nyata bahwa Warga Binaan dapat diberdayakan untuk berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Irwan, Minggu (30/8/26).
Program ini juga menjadi bagian dari implementasi tujuan Sistem Pemasyarakatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yakni membangun proses pembinaan agar Warga Binaan mampu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, dan pada akhirnya dapat kembali diterima serta berkontribusi di tengah masyarakat.
“Keberhasilan sembilan bedah rumah tersebut tidak berdiri sendiri. Program dijalankan melalui kolaborasi dengan BAZNAS, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan,” tambah Irwan.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan penting, terutama dalam mendukung pembiayaan, koordinasi, hingga menentukan masyarakat yang menjadi penerima manfaat.
Di tingkat UPT, kepemimpinan para Kepala Lapas dan Kepala UPT juga menjadi faktor penting dalam menggerakkan Warga Binaan, membangun jejaring dengan berbagai pihak, serta memastikan setiap program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak. Lebih dari itu, Program Bedah Rumah menghadirkan wajah lain Pemasyarakatan.
Jika selama ini Warga Binaan identik dengan keterbatasan ruang gerak dan kehidupan di balik tembok, melalui Pasukan Merah Putih mereka justru diberikan kesempatan untuk hadir dengan karya.
Mereka tidak hanya dibina untuk menjadi lebih baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga diajak menjadi bagian dari kebaikan untuk orang lain. Sembilan rumah yang telah direnovasi menjadi bukti bahwa pembinaan dapat melahirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bagi keluarga penerima bantuan, yang tersisa mungkin adalah rasa syukur karena memiliki rumah yang lebih layak. Namun bagi para Warga Binaan, pengalaman itu dapat menjadi bekal penting bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik, bekerja, dan mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat.
Ke depan, tambah Kanwil Irwan, Ditjenpas Jambi berkomitmen melanjutkan dan memperluas Program Bedah Rumah dengan meningkatkan jumlah penerima manfaat. Kolaborasi dengan BAZNAS, pemerintah daerah, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya juga akan terus diperkuat.
“Setiap UPT didorong untuk mengembangkan program pembinaan yang produktif, inovatif dan memiliki dampak sosial nyata. Sebab, pada akhirnya, Pemasyarakatan bukan hanya tentang membina mereka yang pernah melakukan kesalahan, tetapi juga tentang membuka pintu kesempatan agar mereka mampu kembali menjadi manusia yang berguna,” pungkasnya.
Dan melalui sembilan rumah yang kini berdiri lebih kokoh, Pasukan Merah Putih Warga Binaan Jambi telah menunjukkan satu pesan sederhana namun kuat: Di balik tembok Pemasyarakatan, masih ada tangan-tangan yang ingin berkarya, masih ada hati yang ingin berbagi, dan masih ada harapan untuk kembali dipercaya oleh masyarakat. (OYI)








Discussion about this post