Jambiday.com,JAMBI — Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST., MM., MT., menyambut positif gagasan Wakil Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bidang Ekosistem Transportasi Jalan, Dr. Drs. Benny Nurdin Yusuf, A.Md.LLAJ., MH., mengenai penataan ulang konektivitas Jawa–Sumatera melalui konsep multiple gateway dan pengembangan alternatif koridor Jakarta–Jambi.
Menurut Ivan, gagasan tersebut tidak semata berbicara tentang pembangunan pelabuhan baru, tetapi menyangkut perubahan cara pandang terhadap sistem transportasi nasional. Jawa–Sumatera, kata dia, membutuhkan jaringan yang lebih terintegrasi, efisien, resilien dan tidak bergantung pada satu koridor utama. Ivan menyampaikan pandangan tersebut dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, sekaligus sebagai Ketua MTI Provinsi Jambi.
“Saya menyambut baik gagasan Pak Benny. Ini bukan sekadar wacana membangun pelabuhan baru, tetapi bagaimana kita menata ulang sistem konektivitas Jawa–Sumatera. Merak–Bakauheni tetap harus diperkuat, tetapi Indonesia membutuhkan lebih dari satu gerbang. Jambi harus berani menawarkan diri sebagai bagian dari solusi konektivitas nasional,” kata Ivan, Sabtu (29/8/26).
Ketergantungan pada Merak–Bakauheni Perlu Diantisipasi
Dalam matriks strategis yang menjadi bahan gagasan tersebut, sedikitnya terdapat 35 aspek strategis yang dipetakan, mulai dari ketergantungan terhadap Merak–Bakauheni, pertumbuhan mobilitas, kemacetan koridor darat, biaya logistik, keselamatan, kerusakan jalan, konektivitas pelabuhan, hingga digitalisasi, kelembagaan, pembiayaan dan ketahanan jaringan.
Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah arus Jawa–Sumatera yang terlalu terkonsentrasi pada satu gerbang utama. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi terus meningkatkan mobilitas.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai berupa antrean, ketidakpastian waktu perjalanan, meningkatnya biaya BBM dan operasional kendaraan, kelelahan pengemudi hingga tekanan terhadap infrastruktur jalan. Karena itu, konsep multiple gateway dinilai penting untuk menciptakan redundansi jaringan.
“Jangan mempertentangkan Jakarta–Jambi dengan Merak–Bakauheni. Yang kita bangun adalah jaringan yang saling menopang. Merak–Bakauheni tetap menjadi gerbang utama, tetapi kita menyiapkan alternatif untuk perjalanan menuju Sumatera bagian tengah dan wilayah lainnya,” ujar Ivan.
Jakarta–Jambi Bisa Menjadi Sea Bypass
Salah satu gagasan yang dinilai menarik adalah pengembangan Long Distance Ferry (LDF) Jakarta–Jambi. Konsep ini memungkinkan sebagian perjalanan kendaraan, khususnya angkutan barang jarak jauh, yang selama ini menggunakan koridor jalan darat secara penuh untuk dialihkan melalui jalur laut. Dalam desain tersebut, Jakarta–Jambi diproyeksikan sebagai gerbang alternatif, dengan kawasan Ujung Jabung/Muara Sabak sebagai salah satu kandidat yang perlu dikaji lebih mendalam. Jalur tersebut bahkan berpotensi dikembangkan sebagai sea bypass Jawa–Sumatera, sehingga perjalanan menuju Sumatera bagian tengah tidak seluruhnya bertumpu pada jalur darat dan gerbang Merak–Bakauheni.
“Kalau sebagian perjalanan panjang bisa dipindahkan dari jalan ke laut, manfaatnya bukan hanya mengurangi beban jalan. Kita juga bisa menekan biaya logistik, mengurangi kelelahan pengemudi, meningkatkan keselamatan dan menciptakan kepastian perjalanan,” jelasnya.
Bukan Sekadar Pelabuhan, Tetapi Sistem Logistik
Ivan menegaskan, gagasan tersebut tidak boleh berhenti pada pembangunan dermaga atau pelabuhan. Dalam matriks yang disusun, konsep Central Sumatera Gateway diarahkan menjadi simpul yang menghubungkan pelabuhan dengan jalan nasional, jalan provinsi, pusat produksi, kawasan industri, pergudangan dan jaringan distribusi Sumatera. Persoalan first mile dan last mile juga menjadi perhatian. Akses menuju pelabuhan harus dibangun dari pusat komoditas dan kawasan produksi, sementara dari pelabuhan harus tersedia koneksi yang efisien menuju jaringan distribusi.
“Kalau hanya membangun pelabuhan, kita belum membangun sistem. Pelabuhan harus terkoneksi dengan jalan, pusat produksi, kawasan industri, pergudangan dan jaringan distribusi. First mile dan last mile harus selesai dalam satu desain,” tegasnya.
Ujung Jabung, Muara Sabak hingga Kuala Jambi Perlu Dikaji
Dalam pemetaan strategis tersebut, sejumlah kawasan pesisir Jambi disebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kandidat gateway. Ujung Jabung dinilai memiliki potensi dengan dukungan lahan dan posisi strategis. Muara Sabak memiliki infrastruktur yang relatif lebih matang, sedangkan Kuala Jambi/Nipah Panjang memiliki potensi regional, meskipun masih menghadapi tantangan akses dan kesiapan kawasan. Namun, Ivan menekankan pemilihan lokasi tidak boleh berdasarkan pertimbangan administratif semata.
“Lokasi harus dipilih berdasarkan kajian teknis, ekonomi, lingkungan, konektivitas dan demand. Jangan sampai kita menentukan lokasi terlebih dahulu, kemudian baru mencari muatan,” katanya.
Demand Harus Dihitung Sebelum Infrastruktur Dibangun. Karena itu, Ivan mendorong dilakukannya Feasibility Study (FS) dan Origin–Destination Survey sebelum gagasan tersebut masuk ke tahap pembangunan. Kajian harus menghitung secara konkret arus penumpang dan barang, jenis komoditas, kendaraan yang berpotensi berpindah dari jalan ke laut, waktu tempuh, biaya operasional, tarif pelayaran, kebutuhan kapal, kesiapan pelabuhan hingga dampak ekonomi dan lingkungan. Matriks strategis tersebut juga mendorong penghitungan VOC (Vehicle Operating Cost), VOT (Value of Time), BCR (Benefit Cost Ratio) dan EIRR (Economic Internal Rate of Return) untuk mengukur kelayakan serta manfaat ekonomi dari alternatif koridor Jakarta–Jambi.
“Kita harus berbicara dengan data. Berapa kendaraan yang menuju Jambi, Riau, Sumatera Barat dan wilayah lainnya? Komoditasnya apa? Berapa yang bersedia beralih ke laut? Berapa tarif yang ekonomis? Semua harus dihitung,” jelasnya.
Sejalan dengan RUU Sistranas
Ivan menilai gagasan multiple gateway juga memiliki relevansi kuat dengan semangat RUU Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) yang menempatkan transportasi sebagai sebuah sistem terintegrasi. Menurutnya, regulasi transportasi ke depan harus mampu menyatukan kebijakan jalan, laut, pelabuhan, angkutan, logistik, digitalisasi, pembiayaan serta tata kelola antarmoda.
“Selama ini kita terlalu sering melihat jalan sebagai urusan jalan, pelabuhan sebagai urusan pelabuhan dan angkutan sebagai urusan masing-masing moda. Padahal barang tidak mengenal batas kewenangan. Barang bergerak dari kebun, pabrik atau gudang, masuk jalan, menuju pelabuhan, naik kapal dan kembali ke jaringan darat. Itu yang harus kita lihat sebagai satu sistem,” paparnya.
Bisa Menjadi Bagian Solusi Zero ODOL
Konsep tersebut juga dinilai dapat mendukung kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Over Loading). Ivan mengatakan, penanganan ODOL tidak cukup hanya melalui penindakan terhadap kendaraan. Pemerintah juga harus menyediakan sistem distribusi yang memungkinkan dunia usaha tetap mendapatkan efisiensi logistik tanpa membebani kendaraan dan infrastruktur jalan.
“Zero ODOL jangan hanya berarti timbang, tilang dan larangan. Negara juga harus menyediakan alternatif logistik. Laut, kereta api dan sistem multimoda harus mengambil peran,” tegasnya.
Dalam matriks kebijakan, skema Zero ODOL + multimoda diarahkan menghasilkan angkutan yang lebih sesuai daya dukung, menurunkan kerusakan jalan dan pada akhirnya mendorong infrastruktur yang lebih berkelanjutan.
Jambi Jangan Lagi Sekadar Daerah Lintasan
Bagi Ivan, peluang terbesar dari gagasan ini adalah mengubah posisi Jambi dari sekadar wilayah lintasan menjadi simpul strategis logistik Sumatera. Konsep Central Sumatera Gateway menempatkan Jambi sebagai titik distribusi yang dapat terhubung dengan Riau, Sumatera Barat, Lampung dan wilayah Sumatera lainnya. Bahkan dalam peta multiple gateway, selain Jakarta–Jambi, terdapat potensi pengembangan gerbang lainnya seperti Bengkalis/Dumai, Padang dan Enggano–Bengkulu, sesuai dengan perkembangan demand.
“Jambi memiliki posisi geografis yang strategis. Jangan sampai kendaraan hanya lewat, sementara nilai ekonominya dinikmati daerah lain. Kita harus menangkap fungsi distribusi, investasi, industri, UMKM dan lapangan kerja dari konektivitas tersebut,” kata Ivan.
Menurut Ivan, konektivitas modern tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik. Matriks strategis juga memasukkan digitalisasi, booking, tracking, e-manifest, integrasi data dan sistem pembayaran multimoda sebagai bagian penting dari ekosistem transportasi. Dengan demikian, pengguna jasa dapat memperoleh kepastian layanan dari titik asal hingga tujuan, sementara pemerintah dan pelaku usaha memiliki data yang lebih baik untuk mengendalikan arus barang dan kendaraan.
“Transportasi masa depan bukan hanya soal jalan dan kapal. Data juga menjadi infrastruktur. Kita membutuhkan sistem yang bisa melacak perjalanan barang, mengintegrasikan pembayaran dan memberikan kepastian layanan dari origin sampai destination,” ujarnya.
Jambi Harus Membawa Proposal, Bukan Sekadar Meminta Proyek
Ivan mendorong Pemerintah Provinsi Jambi, DPRD, pemerintah kabupaten terkait, MTI, perguruan tinggi dan dunia usaha mulai menyusun position paper dan roadmap Central Sumatera Gateway.
Selanjutnya, gagasan tersebut dapat dibawa ke pemerintah pusat untuk dilakukan kajian lintas kementerian dan lembaga. Menurut Ivan, pendekatan Jambi ke pemerintah pusat harus berubah. Jambi tidak datang sekadar meminta pembangunan infrastruktur, tetapi menawarkan solusi terhadap persoalan konektivitas nasional.
“Pesan kita harus jelas. Jambi tidak sedang meminta proyek. Jambi menawarkan solusi. Solusi untuk mengurangi konsentrasi Merak–Bakauheni, memperkuat ketahanan logistik, mendukung Zero ODOL dan membangun sistem multimoda Jawa–Sumatera yang lebih efisien dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menuju Redesain Konektivitas Jawa–Sumatera
Ivan merangkum gagasan tersebut dalam sebuah kerangka besar:
RUU Sistranas + Multiple Gateway Jawa–Sumatera + Long Distance Ferry Jakarta–Jambi + Zero ODOL + Integrasi Jalan–Laut–Logistik + Digitalisasi = Redesain Konektivitas Jawa–Sumatera.
Menurutnya, jika hasil kajian menunjukkan kelayakan secara teknis, ekonomi dan lingkungan, gagasan tersebut harus diperjuangkan menjadi agenda strategis nasional.
“Kalau kajiannya membuktikan layak, kita harus berani memperjuangkannya menjadi agenda nasional. Jambi jangan selamanya hanya menjadi tempat kendaraan lewat. Jambi harus naik kelas menjadi salah satu simpul strategis logistik Indonesia dan Central Sumatera Gateway,” pungkasnya.
Dengan pendekatan tersebut, manfaat yang diharapkan bukan hanya berupa kemacetan yang berkurang dan biaya logistik yang turun, tetapi juga peningkatan keselamatan, berkurangnya kerusakan jalan, tumbuhnya investasi dan industri, terbukanya lapangan kerja, menguatnya ketahanan logistik nasional serta semakin meratanya pertumbuhan ekonomi wilayah. (OYI)








Discussion about this post