Jambiday.com, JAKARTA — Kreativitas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Jambi kembali menunjukkan hasil positif. Produk batik hasil karya Warga Binaan mendapat perhatian dan apresiasi dalam rangkaian Rapat Koordinasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 yang berlangsung di Jakarta. Apresiasi tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pembinaan kemandirian di lingkungan Pemasyarakatan. Batik yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan, tetapi menjadi gambaran proses pembinaan yang mendorong Warga Binaan untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, produktivitas sekaligus menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, bersama jajaran Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan Jambi turut memperkenalkan dan menyerahkan batik kreasi Warga Binaan LPP Kelas IIB Jambi.
Momen tersebut juga terlihat dalam dokumentasi kegiatan, ketika jajaran Kanwil Ditjenpas Jambi bersama para Kepala UPT membawa serta memperkenalkan produk batik karya Warga Binaan. Dan tidak hanya batik, terdapat pula kreatifitas dalam bentuk makanan. Di mana hasil karya ini mendapat apresiasi sebagai produk hasil pembinaan yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Kembali ke batik, yang menariknya adalah dalam batik karya Warga Binaan LPP Jambi tampil dengan karakter visual yang kuat. Dominasi warna hitam berpadu dengan ornamen kuning keemasan dan merah, dihiasi motif yang tersusun berulang serta ornamen pada bagian tepian kain, memberikan kesan khas dan elegan. Serta terdapat logo Pemasyarakatan dengan motto griya winaya janma wimarga laksa dharmmesti dengan nuansa kuning keemasan


Kepala LPP Kelas IIB Jambi, Meita Eriza, juga terlihat memperlihatkan langsung kain batik tersebut, termasuk motif dan corak yang menjadi ciri khas hasil kreativitas Warga Binaan binaannya.
Menurut Meita, proses menghasilkan batik tersebut merupakan bagian dari pembinaan yang diarahkan agar Warga Binaan tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki pengalaman menghasilkan sebuah produk yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi.
“Batik ini merupakan hasil kreativitas dan kerja keras Warga Binaan dalam mengikuti program pembinaan. Kami ingin keterampilan yang mereka miliki terus berkembang, sehingga ketika kembali ke masyarakat nantinya mereka memiliki bekal dan kepercayaan diri untuk berkarya,” ujar Meita, Senin (21/9/26).
Ia menjelaskan, pihak LPP Jambi akan terus mendorong pengembangan produk hasil karya Warga Binaan, baik dari sisi motif, kualitas, desain maupun nilai jual.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya dilihat dari kemampuan Warga Binaan mengikuti pelatihan, tetapi juga dari sejauh mana keterampilan tersebut dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan memiliki peluang untuk diterima masyarakat.
“Kami tentu berharap karya-karya seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan pembinaan di dalam Lapas. Dengan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, produk Warga Binaan bisa semakin dikenal, memiliki pasar dan memberikan nilai tambah,” katanya.
Dari Keterampilan Menjadi Produk Bernilai
Apresiasi terhadap batik LPP Jambi juga memperlihatkan bahwa pembinaan kemandirian di Pemasyarakatan mulai diarahkan pada pendekatan yang lebih produktif. Keterampilan membatik dapat menjadi salah satu bekal bagi Warga Binaan untuk membangun aktivitas ekonomi setelah menyelesaikan masa pidana. Karena itu, proses pembinaan idealnya tidak berhenti pada pelatihan teknis, tetapi dilanjutkan dengan peningkatan kualitas, pengemasan produk, branding, pemasaran hingga membuka akses pasar.
Kakanwil Ditjenpas Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, menilai apresiasi terhadap karya Warga Binaan menjadi dorongan bagi jajaran Pemasyarakatan untuk semakin serius mengembangkan program pembinaan yang kreatif dan produktif.
“Apresiasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mendorong pembinaan kemandirian. Karya Warga Binaan harus terus dikembangkan sehingga memiliki kualitas, nilai ekonomi dan mampu menjadi bagian dari proses reintegrasi sosial,” ujar Irwan.
Ia menambahkan, pengembangan hasil karya Warga Binaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia usaha, pelaku UMKM, komunitas maupun masyarakat dapat mengambil peran dalam membuka ruang promosi dan pemasaran produk-produk hasil pembinaan.
Dengan demikian, hasil pembinaan tidak berhenti sebagai aktivitas di dalam Lapas, melainkan dapat berkembang menjadi produk yang memiliki daya saing dan memberikan manfaat nyata.
Batik Menjadi Cerita Perubahan
Batik kreasi Warga Binaan LPP Kelas IIB Jambi pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai kain, motif dan warna. Di balik setiap corak terdapat proses pembelajaran, ketekunan dan kesempatan bagi Warga Binaan untuk membangun kembali kepercayaan dirinya. Dari tangan Warga Binaan, selembar kain kemudian berubah menjadi produk bernilai. Dari sebuah program pembinaan, lahir karya yang dapat diperkenalkan hingga ke tingkat nasional.
Hal inilah yang menjadi semangat Pemasyarakatan dalam menghadirkan pembinaan yang PRIMA, produktif dan berorientasi pada reintegrasi sosial.
Apresiasi yang diterima di Jakarta diharapkan menjadi momentum bagi Lapas lingkup Kanwil Ditjenpas Jambi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi Warga Binaan untuk berkarya.
Sebab, ketika sebuah karya Warga Binaan mendapat tempat dan penghargaan, yang sesungguhnya diapresiasi bukan hanya produknya, tetapi juga proses perubahan dan harapan untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat. (OYI)








Discussion about this post