Friday, October 9, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home KHAZANAH BUDAYA

Jangan Lupakan Akar Budaya Minangkabau dan Melayu, Ekspansi Prodi ISI Padang Panjang Disorot

by Redaksi
09/10/2026
in BUDAYA, KHAZANAH
0
Suasana  Diskusi Ampadu Tanah dan Komunitas Seni Kuflet ke-6 Soroti Arah Pendidikan Seni di ISI Padang Panjang. FOTO: IST

Suasana Diskusi Ampadu Tanah dan Komunitas Seni Kuflet ke-6 Soroti Arah Pendidikan Seni di ISI Padang Panjang. FOTO: IST

1
VIEWS
PostTweetShareScan

Jambiday.com, PADANG PANJANG — Arah dan peran lembaga pendidikan seni kembali menjadi sorotan dalam Diskusi Publik Ampadu Tanah dan Komunitas Seni Kuflet ke-6 yang digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Kamis (8/10/2026), pukul 20.00 WIB.

Forum ini menjadi ruang refleksi untuk mengevaluasi kerangka utama pendidikan seni sekaligus mencermati dinamika kehidupan akademik di lingkungan kampus, termasuk pentingnya menjaga daya kritis, kebebasan berpikir, serta misi lembaga pendidikan seni.

Bacajuga

Dukung Arahan Wapres Gibran, DPRD Jambi Kawal Tuntas Relokasi Stockpile Batu Bara dari Kawasan Candi Muaro Jambi

Nyala Obor dan Doa Mengiringi Datangnya Tahun Baru Islam 1448 H

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah pada 21 Maret

Bangun Kepercayaan Publik, BAZNAS Kota Jambi Gandeng Media dalam Diskusi Isu Sosial Terkini

Sanlat Lapas Jambi Melahirkan Hafiz Qur’an dari Balik Jeruji

Semangat Berbagi di Bulan Ramadhan, Warga RT 01 Javana Garden Bagikan Takjil untuk Pengendara

Moderator diskusi, Wendy HS, S.Sn., M.A., mengatakan forum tersebut menjadi wadah untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan arah pendidikan seni dan perkembangan lingkungan akademik saat ini.

Sastrawan sekaligus sutradara teater, Sulaiman Juned, yang turut membacakan puisi berjudul “Seikat Mawar Takkan Mampu Membunuh Bau Busuk”, menegaskan pentingnya diskusi semacam ini dilaksanakan secara rutin.

Suasana Diskusi Ampadu Tanah dan Komunitas Seni Kuflet ke-6 Soroti Arah Pendidikan Seni di ISI Padang Panjang. FOTO: IST
Suasana Diskusi Ampadu Tanah dan Komunitas Seni Kuflet ke-6 Soroti Arah Pendidikan Seni di ISI Padang Panjang. FOTO: IST

Menurutnya, ruang dialog terbuka sangat diperlukan untuk membangun daya kritis dan kebebasan berpikir mahasiswa, khususnya dalam menyikapi kebijakan di lingkungan kampus.

“Penting pula keberanian bersikap dari kalangan akademisi muda. Begitu juga mahasiswa harus kritis,” tegas sutradara teater tersebut.

Salah seorang narasumber, Pandu Birowo, S.Sn., M.A., mengangkat pertanyaan mendasar mengenai mandat lembaga pendidikan seni yang dinilainya perlu kembali didudukkan dan dievaluasi.

“Kenapa mandat harus dikembalikan? Apakah sudah selesai atau perlu didudukkan kembali?” ujarnya.

Ia menjelaskan, terdapat tiga jalan utama manusia menuju kebenaran, yakni filsafat, sains, dan seni. Filsafat berupaya menciptakan pemahaman konseptual, sains berfokus pada fungsi praktis, sedangkan seni hadir untuk menciptakan pengalaman langsung yang berlandaskan rasa kebebasan nyata.

Senada dengan itu, Hamzah, S.Sn., M.Sn., turut membagikan pengalaman personalnya dalam berkesenian sekaligus menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi akademik saat ini.

“Sebagai pengkarya, saya merasa miris. Maka dari panggung ini saya akan sampaikan,” tegas perupa sekaligus dosen Seni Rupa Murni tersebut.

Sementara itu, budayawan sekaligus pensiunan dosen Karawitan ISI Padang Panjang, Drs. Hajizar, M.Sn., mengulas kembali sejarah berdirinya ISI Padang Panjang. Ia menekankan pentingnya ruang dialog terbuka bagi seluruh civitas akademika untuk membangun pemahaman bersama mengenai kemajuan kampus.

Suasana Diskusi Ampadu Tanah dan Komunitas Seni Kuflet ke-6 Soroti Arah Pendidikan Seni di ISI Padang Panjang. FOTO: IST

“Pertemuan ini dapat membantu dan membuka pikiran-pikiran kita terhadap kemajuan kampus,” paparnya.

Hajizar menambahkan, salah satu isu krusial yang mengemuka dalam forum tersebut adalah kebijakan ekspansi kelembagaan melalui pembentukan 22 program studi baru di bidang pendidikan serta sosial-humaniora.

Menurutnya, kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang oleh Senat lembaga agar tidak mengaburkan misi awal pendirian institusi, yakni membina dan melestarikan seni budaya Minangkabau serta Melayu.

Di sisi lain, peserta diskusi, Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.A., menyoroti tanggung jawab konstitusional kampus seni dalam memajukan kebudayaan nasional. Ia merujuk pada amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan pentingnya pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

Namun, menurutnya, sistem birokrasi dan administrasi yang kaku menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Sistem tersebut dinilai menyita energi para pendidik sekaligus mempersempit ruang gerak kreatif para seniman.

Kritik terhadap kondisi akademik juga disampaikan peserta diskusi lainnya, Caki. Ia menilai forum tersebut menjadi angin segar bagi mahasiswa yang merindukan ruang aspirasi dan kebebasan berpendapat di lingkungan kampus.

“Sebagai mahasiswa, saya berharap antusiasme dari kawan-kawan mahasiswa lainnya untuk dapat ikut hadir berdiskusi seperti ini sangat penting,” ucapnya.

Melalui diskusi tersebut, para peserta menekankan pentingnya mengembalikan peran seni pada posisi sejatinya agar ISI Padangpanjang tetap relevan sebagai benteng kebudayaan dan kemanusiaan.

Forum ini diharapkan dapat terus berlangsung secara berkala sebagai upaya menjaga tradisi berpikir kritis, memperluas ruang dialog, serta merawat kebebasan mengemukakan gagasan di lingkungan kampus. (DNA)

Previous Post

Target PAD Rp2,055 Triliun, Ivan Wirata Ingatkan Bapenda: Jangan Sekadar Kejar Angka, Buktikan Output

Discussion about this post

Iklan

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK