Jambiday.com, JAMBI — Di tengah kepulan asap dan ancaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali menguji keselamatan para pekerja media, rasa kemanusiaan dan solidaritas justru menguat di kalangan jurnalis Jambi. Sejumlah organisasi dan komunitas jurnalis di Provinsi Jambi menggelar Doa Bersama untuk Keselamatan Jurnalis yang Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Gunung Anak Krakatau, Kamis (10/9/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung di Tugu Pers Kota Jambi tersebut menjadi ruang bagi para jurnalis untuk sejenak menghentikan aktivitas jurnalistik, menundukkan kepala dan mengirimkan doa bagi rekan seprofesi yang tengah menghadapi situasi sulit. Doa bersama ini diinisiasi sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas insan pers Jambi. Sejumlah organisasi turut menguatkan kegiatan tersebut, di antaranya PWI Kota Jambi, AJI Kota Jambi, IJTI Jambi, JMSI Provinsi Jambi, SMSI Jambi dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jambi.

Kepala Biro Antara Jambi, Siri Antoni, menyampaikan bahwa profesi jurnalistik memiliki risiko yang tidak ringan. Di balik setiap berita yang sampai kepada masyarakat, terdapat kerja keras jurnalis yang kerap harus berada di lokasi-lokasi dengan tingkat risiko tinggi. Menurutnya, keselamatan harus tetap menjadi perhatian utama ketika jurnalis menjalankan tugas di lapangan. Solidaritas sesama wartawan juga menjadi kekuatan penting ketika seorang jurnalis menghadapi situasi darurat.
“Jurnalis memang memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Namun, di balik tugas itu ada keselamatan manusia yang harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, ketika ada rekan kita yang mengalami musibah atau hilang kontak saat menjalankan tugas, tentu kita semua ikut merasakan dan mendoakan. Dan kita juga berharap agar keluarga yang saat ini menunggu dengan ikhlas dan sabar diberikan kesehatan dan kekuatan,” ujar Siri Antoni.
Ia menilai, doa bersama bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi simbol bahwa dunia jurnalistik tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebelum memanjatkan doa, jurnalis membakar lilin yang menambah suasana syahdu seketika

“Kita berharap rekan kita diberikan keselamatan, segera ditemukan dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga serta rekan-rekan sejawat,” harapnya.
Suasana haru semakin terasa ketika jurnalis Husen memimpin pembacaan doa. Para jurnalis yang hadir bersama-sama menundukkan kepala, memanjatkan harapan agar seluruh jurnalis yang sedang menjalankan tugas di tengah kondisi erupsi senantiasa mendapatkan perlindungan. Doa itu juga menjadi pengingat bahwa di balik kamera, mikrofon, catatan dan berita yang ditulis, ada manusia yang memiliki keluarga dan orang-orang yang menunggu kepulangannya.
Bagi insan pers Jambi, malam itu bukan hanya tentang profesi. Ini tentang sesama. Tentang kepedulian. Tentang harapan agar setiap jurnalis yang berangkat menjalankan tugas dapat kembali dengan selamat. Pesan yang digaungkan pun sederhana namun dalam: satu doa, satu solidaritas.
Sebab bagi para jurnalis, menjalankan tugas untuk membawa kebenaran kepada publik memang merupakan panggilan profesi. Namun ketika seorang kawan berada dalam bahaya, solidaritas kemanusiaan menjadi berita paling penting yang harus disampaikan bersama. (OYI)








Discussion about this post