Jambiday.com, JAMBI – Ancaman aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus Level III atau Siaga dinilai harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat ketahanan konektivitas Jawa–Sumatera.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jambi yang juga Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh menunggu terjadinya krisis terlebih dahulu untuk menyiapkan jalur transportasi alternatif.
Ivan menyatakan sependapat dengan pandangan Wakil Ketua Umum Bidang Ekosistem Transportasi Jalan MTI, Dr. Benny Nurdin Yusuf, yang sebelumnya menyoroti kerentanan konektivitas Jawa–Sumatera akibat tingginya ketergantungan terhadap lintasan Merak–Bakauheni.
“Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga harus menjadi peringatan untuk memperkuat ketahanan sistem transportasi nasional. Ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan momentum melakukan mitigasi sebelum terjadi gangguan yang lebih besar,” tegas Ivan, Minggu (6/9/26).
Menurutnya, saat ini penyeberangan Merak–Bakauheni memang masih beroperasi. Namun, kondisi normal tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai ketahanan sistem transportasi nasional. Justru, kata Ivan, ketahanan sebuah sistem harus diuji dari kemampuannya tetap berfungsi ketika jalur utama mengalami gangguan.

“Ketahanan sesungguhnya terlihat dari kemampuan sistem tetap bekerja ketika jalur utamanya terganggu. Alternatif yang masih berada dalam satu kawasan risiko Selat Sunda belum sepenuhnya menjadi cadangan yang tangguh,” ujarnya.
Merak–Bakauheni Tetap Tulang Punggung
Ivan menegaskan, gagasan membangun gerbang alternatif bukan berarti mengurangi peran Merak–Bakauheni.
Lintasan tersebut tetap harus dipertahankan dan diperkuat sebagai tulang punggung konektivitas Jawa–Sumatera. Namun, Indonesia juga membutuhkan tulang punggung kedua yang berada di luar kawasan risiko yang sama.
Dalam konteks tersebut, Ivan mendorong agar koridor laut Jakarta–Jambi atau Marunda–pesisir Jambi dikaji secara serius sebagai bagian dari konsep multiple gateway Jawa–Sumatera.
Gagasan ini, menurutnya, bukan sekadar membangun pelabuhan baru. Lebih jauh, konsep tersebut merupakan upaya menata kembali arsitektur transportasi dan logistik nasional agar tidak terlalu bergantung pada satu pintu.
“Jambi tidak sedang meminta proyek semata. Jambi menawarkan solusi untuk menjaga konektivitas nasional, mengurangi ketergantungan pada satu pintu, menekan beban jalan dan ODOL, serta memperkuat ketahanan logistik nasional,” jelasnya.
Dua Langkah Harus Berjalan Bersamaan
Ivan menilai pemerintah harus mengambil dua langkah secara bersamaan. Pertama, segera menyiapkan protokol kontinjensi Merak–Bakauheni yang jelas dan terukur. Protokol tersebut harus mencakup batas operasional berdasarkan rekomendasi PVMBG, BMKG dan otoritas pelayaran, jalur komando, skema pengalihan kendaraan, lokasi penampungan, sistem informasi bagi pengguna jasa, hingga mekanisme perlindungan distribusi pangan dan logistik.
“Jangan sampai ketika pelabuhan ditutup, persoalan justru berpindah menjadi kemacetan panjang di jalan raya. Kita harus punya skenario sebelum kondisi darurat terjadi,” katanya.
Langkah kedua, pemerintah diminta segera memulai studi kelayakan koridor Jakarta–Jambi.bKajian tersebut harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari survei asal-tujuan barang dan kendaraan, kedalaman alur, keselamatan pelayaran, kebutuhan kapal, waktu tempuh, tarif, potensi muatan, kesiapan jaringan jalan penghubung, dampak lingkungan, hingga kelayakan ekonomi dan investasi.
Ivan juga menekankan agar penentuan lokasi gerbang baru tidak dilakukan berdasarkan kepentingan administratif.
Sejumlah kawasan seperti Ujung Jabung, Muara Sabak, Kuala Jambi maupun Nipah Panjang dapat dikaji, tetapi keputusan akhirnya harus berdasarkan data dan kajian teknis.
“Penentuan lokasi harus berdasarkan kajian, bukan kepentingan administratif. Kita harus mencari lokasi yang paling layak secara teknis, ekonomi, keselamatan, lingkungan dan konektivitas,” tegasnya.
Jambi Bisa Menjadi Central Sumatera Gateway
Sebagai Ketua MTI Wilayah Jambi, Ivan mendorong Pemerintah Provinsi Jambi bersama Kementerian Perhubungan, Bappenas, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, pelaku usaha dan MTI untuk mulai menyusun position paper dan peta jalan Central Sumatera Gateway. Menurutnya, posisi geografis Jambi yang berada di bagian tengah Pulau Sumatera memberikan peluang besar untuk dikembangkan sebagai simpul distribusi baru.
Jika konektivitas laut Jakarta–Jambi terwujud, sebagian pergerakan barang dan kendaraan dapat dialihkan dari perjalanan darat jarak jauh ke jalur laut. Setelah tiba di Jambi, distribusi dapat diteruskan melalui jaringan Lintas Timur, Lintas Tengah maupun Lintas Barat Sumatera. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan transportasi. Ivan melihat peluang terbentuknya pusat distribusi, pergudangan, kawasan industri, cold storage, UMKM, hingga lapangan kerja baru di Jambi.
“Jambi tidak hanya menawarkan pelabuhan baru, tetapi solusi nasional melalui multiple gateway, koridor laut dan sistem transportasi yang lebih tangguh, efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Jangan Menunggu Pintu Utama Tertutup
Ivan kembali mengingatkan bahwa pembangunan sistem transportasi yang tangguh harus dilakukan sebelum krisis terjadi. Menurutnya, aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa risiko dapat muncul sewaktu-waktu. Karena itu, kebijakan transportasi nasional tidak boleh hanya berorientasi pada kapasitas saat kondisi normal, tetapi juga harus memperhitungkan resiliensi ketika terjadi gangguan.
“Jangan menunggu Merak–Bakauheni benar-benar terganggu baru kita mencari alternatif. Keselamatan adalah prioritas, kesiapsiagaan adalah kewajiban, dan Jambi harus mulai dipersiapkan sebagai salah satu gerbang strategis Jawa–Sumatera,” pungkas Ivan.
Dengan konsep multiple gateway, kata dia, Indonesia tidak hanya membangun jalur alternatif, tetapi sedang membangun sistem transportasi yang tidak mudah lumpuh hanya karena satu pintu mengalami gangguan. (OYI)








Discussion about this post