Jambiday.com, MUARO JAMBI- Di balik tembok lembaga pemasyarakatan, harapan untuk menata kembali masa depan terus ditumbuhkan. Bukan hanya melalui pembinaan kepribadian, tetapi juga dengan memberikan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
Semangat itulah yang diwujudkan melalui kolaborasi Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Provinsi Jambi bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jambi. Sebanyak 30 warga binaan pemasyarakatan (WBP) mendapat pelatihan pertanian, mulai dari pembuatan pupuk organik, pembibitan hingga budidaya sayuran dengan pola hidroponik.
Widyaiswara Ahli Madya Bapeltan Jambi, Elly Sarnis, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata dalam memberikan keterampilan kepada warga binaan agar memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
“Kerja sama antara Lapas Jambi dan Bapeltan demi memberikan kontribusi nyata bagi warga binaan di bidang pelatihan pertanian,” kata Elly Sarnis di Muaro Jambi, Sabtu (8/7/26).
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu tidak sekadar memberikan teori. Peserta diajak langsung mempraktikkan setiap materi yang diberikan. Komposisinya, sekitar 30 persen teori dan 70 persen praktik. Materi yang diberikan meliputi teknik penanaman sayuran dengan sistem hidroponik, pembibitan serta pembuatan pupuk organik.
Sinergitas Lapas Jambi dan Bapeltan, berikan pelatihan dan praktek lapangan menanam bibit bagi warga binaan. FOTO: ISTSinergitas Lapas Jambi dan Bapeltan, berikan pelatihan dan praktek lapangan menanam bibit bagi warga binaan. FOTO: IST
Menariknya, dalam pembuatan pupuk organik, peserta diajarkan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang selama ini dianggap sebagai limbah. Air cucian beras dan kulit bawang merah dari aktivitas dapur umum Lapas diolah melalui proses fermentasi menjadi bahan yang bermanfaat untuk pertanian.
Bagi Elly, keterampilan tersebut bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu selama berada di Lapas. Lebih jauh, pelatihan itu diharapkan menjadi bekal nyata bagi WBP untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah bebas nanti.
“Ini untuk mengisi kegiatan di Lapas, supaya mereka memiliki pengetahuan. Saat keluar bisa menjadi bekal untuk dikembangkan di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap, keterampilan yang diperoleh dapat membuka peluang ekonomi bagi warga binaan sekaligus menumbuhkan kembali rasa percaya diri bahwa mereka tetap memiliki kemampuan untuk berkarya dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Harapan itu dirasakan langsung oleh salah seorang peserta pelatihan, Waluyo. Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dipahaminya.
Menurutnya, belajar langsung dari tenaga ahli membuat warga binaan lebih mudah memahami bagaimana tanaman dibudidayakan, termasuk cara membuat pupuk secara mandiri.
“Kita jadi mengerti cara membuat pupuk sendiri, wawasan kami jadi terbuka,” kata Waluyo.
Sementara itu, Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Jambi, Dentoro Abrilicto, mengatakan pelatihan tersebut diikuti 30 warga binaan sesuai dengan usulan yang diajukan kepada Bapeltan Jambi.
Tak berhenti pada pelatihan, hasil pertanian yang nantinya diproduksi warga binaan juga diarahkan memiliki nilai ekonomi. Produk hasil tanaman tersebut akan dipasarkan melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sekitar Lapas.
Pelatihan dari Bapeltan Jambi selama tiga hari. FOTO: OYI
“Kita sudah MoU dengan KDMP Bukit Baling, kita jual di sana. Program ini merupakan akselerasi kementerian mendukung ketahanan pangan,” jelas Dentoro.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus menjaga keberlanjutan program pertanian yang dikembangkan di Lapas.
Langkah ini juga menjadi bagian dari dukungan Lapas terhadap program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), khususnya dalam penguatan pembinaan kemandirian dan dukungan terhadap ketahanan pangan nasional menuju Asta Cita.
Warga Binaan dan tim Bapeltan Jambi beserta pejabat Lapas berfoto bersama usai praktek lapangan. FOTO: IST
Dari benih yang disemai, pupuk yang diracik dan sayuran yang ditanam, terselip pesan sederhana: bahwa masa lalu tidak harus menjadi akhir dari perjalanan seseorang.
Di tempat yang dibatasi tembok dan jeruji, para warga binaan justru sedang belajar menanam sesuatu yang lebih besar. Keterampilan, kemandirian, dan harapan untuk kembali menjadi bagian yang berguna bagi masyarakat. (OYI)
Discussion about this post