Jambiday.com, JAMBI — Kematian ikan keramba dalam jumlah besar di sepanjang Sungai Batanghari harus menjadi alarm serius bahwa persoalan sungai terbesar di Jambi tersebut tidak lagi dapat dilihat sebatas masalah pencemaran air atau kerugian petani ikan. Tekanan yang terjadi menunjukkan adanya persoalan yang lebih luas, mulai dari perubahan tata air, sedimentasi, erosi, degradasi tutupan lahan, pencemaran, menurunnya kualitas air, hingga berkurangnya fungsi floodplain dan kawasan resapan.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, mendorong agar penanganan Batanghari dinaikkan dari pendekatan sektoral menjadi pemulihan Megasistem DAS Batanghari secara terpadu dari hulu hingga hilir melalui Grand Design Penyelamatan Megasistem DAS Batanghari 2026–2045. Dorongan itu disampaikan setelah Ivan melihat langsung kondisi keramba jaring apung masyarakat di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi.
Di wilayah Jaluko, keramba masyarakat antara lain tersebar di Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut dan Pematang Jering. Petani melaporkan tingginya tingkat kematian ikan dalam beberapa bulan terakhir, bahkan jumlah ikan mati disebut mencapai puluhan ton.
Menurut Ivan, kematian ikan tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan di hilir.
“Ikan yang mati jangan hanya kita lihat sebagai persoalan keramba. Itu adalah alarm bahwa daya dukung Sungai Batanghari sedang mengalami tekanan. Kalau yang kita tangani hanya ikan mati atau titik sungainya, kita hanya mengobati gejalanya, sementara sumber penyakitnya berada dalam sistem DAS dari hulu sampai hilir,” kata Ivan politisi Golkar Dapil Muaro Jambi-Batang Hari, Senin 10/8/26).
Qmax/Qmin hingga Sediment Yield Jadi Indikator Penting
Dalam rancangan besar tersebut, kondisi DAS Batanghari akan dibaca melalui sejumlah indikator hidrologi dan ekologis. Salah satunya adalah Qmax/Qmin, yakni perbandingan debit maksimum dan minimum. Jika berdasarkan data historis AWLR (Automatic Water Level Recorder) rasio Qmax/Qmin menunjukkan kecenderungan meningkat, hal itu perlu menjadi alarm adanya ketidakseimbangan tata air antara musim hujan dan musim kemarau. Selain Qmax/Qmin, Grand Design juga menempatkan baseflow, sediment yield, TSS/NTU, DO, BOD/COD, erosi tebing, tutupan vegetasi, kapasitas floodplain, mortalitas ikan, kualitas air serta risiko banjir dan kekeringan sebagai indikator utama.
Dalam target besar 2045, arah pemulihan yang hendak dicapai adalah Qmax/Qmin membaik dan lebih stabil, baseflow meningkat, sediment yield menurun, kualitas air membaik, biodiversitas pulih, serta risiko banjir dan kekeringan menurun. Ivan menilai pemerintah bersama Balai Wilayah Sungai, perguruan tinggi dan lembaga penelitian perlu melakukan audit hidrologi DAS Batanghari secara komprehensif. Data curah hujan, debit, Qmax/Qmin, baseflow, sedimentasi, erosi, batimetri, TSS, NTU, kualitas air, perubahan tutupan lahan serta morfologi sungai harus dibaca dalam satu sistem, bukan secara terpisah. Kekeruhan Air Baku Juga Jadi Alarm
Persoalan kualitas air juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan dari perusahaan air minum, tingkat kekeruhan air baku disebut mencapai sekitar 1.400 NTU, jauh di atas kondisi pengolahan normal yang disebut berada pada kisaran 250–300 NTU. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Batanghari tidak hanya berdampak terhadap ikan dan ekosistem, tetapi juga berpotensi mengancam ketahanan air baku masyarakat. Karena itu, kawasan intake air baku/PDAM menjadi salah satu zona penting dalam Grand Design, dengan pendekatan berupa pra-sedimentasi, peningkatan kapasitas intake, adaptive coagulation serta reservoir air baku.
12 Zona Penanganan dari Hulu hingga Muara
Dalam flyer Grand Design Penyelamatan Megasistem DAS Batanghari 2026–2045, penanganan dibagi menjadi 12 zona strategis, yakni:
- Recharge Area/Hulu DTA
- Sub-DAS Prioritas
- Koridor Sungai Utama Hulu
- Batanghari Tengah
- Kawasan Keramba dan Perikanan
- Intake Air Baku/PDAM
- Floodplain/Rawa dan Oxbow
- Perkotaan dan Permukiman Sungai
- Hilir Batanghari
- Muara–Estuari
- Monitoring DAS
- Tata Kelola DAS
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa Batanghari tidak diperlakukan hanya sebagai badan sungai, tetapi sebagai satu kesatuan ekosistem, mulai dari kawasan tangkapan air di hulu, anak-anak sungai, badan sungai, floodplain, kawasan perkotaan, hilir hingga muara.
Hulu Harus Menyimpan Air, Sungai Mengalirkan, Floodplain Menahan
Pada kawasan hulu dan recharge area, intervensi diarahkan pada rehabilitasi lahan, konservasi tanah dan air, check dam, embung, pengendalian erosi, serta agroforestry.
Untuk Sub-DAS prioritas, penanganan diarahkan pada sediment trap, check dam, riparian restoration, pengendalian PETI, revegetasi dan pengendalian sumber pencemaran. Sementara koridor sungai utama membutuhkan stabilisasi tebing, river training yang selektif, pengendalian sedimentasi, restorasi sempadan serta monitoring kualitas air secara real-time. Di kawasan floodplain, rawa dan oxbow lake, fungsi ekologisnya harus dikembalikan sebagai ruang retensi alami.
“Hulu harus mampu menyimpan air, sungai harus mampu mengalirkannya secara sehat, floodplain harus kembali menjalankan fungsi retensinya, dan hilir harus mampu menerima debit serta sedimen secara terkendali. Ini satu sistem, tidak boleh ditangani sendiri-sendiri,” ujar Ivan.
Kawasan Keramba Masuk Prioritas
Persoalan masyarakat yang menggantungkan hidup pada Sungai Batanghari juga ditempatkan sebagai bagian penting dari rancangan tersebut.
Pada kawasan keramba dan perikanan, indikator yang dipantau antara lain DO, suhu, pH, NH3, TSS, NTU, debit dan mortalitas ikan.

Intervensinya berupa early warning kualitas air, zonasi kawasan keramba, adaptasi budidaya serta sistem peringatan dini. Dengan demikian, ketika kualitas air mulai mengalami perubahan ekstrem, petani dapat memperoleh peringatan lebih awal sebelum terjadi kematian ikan dalam jumlah besar.
Floodplain dan Oxbow Lake Jangan Dianggap Lahan Kosong
Ivan juga menyoroti pentingnya memulihkan kawasan floodplain, rawa dan danau tapal kuda atau oxbow lake.
Dalam Grand Design, kawasan ini diarahkan menjadi bagian dari sistem retensi alami, dengan program restorasi floodplain, retention area, wetland restoration dan reconnecting oxbow.
“Jangan sampai kawasan yang sebenarnya berfungsi sebagai ruang penyimpan air justru terputus dari sistem sungai atau berubah fungsi. Ketika floodplain kehilangan kapasitas retensinya, beban banjir akan semakin besar,” katanya.
Digital Watershed Batanghari
Untuk memastikan seluruh program berbasis data, Grand Design juga mengusulkan Digital Watershed Batanghari. Sistem ini mengintegrasikan AWLR, data curah hujan, kualitas air, sedimentasi, perubahan tutupan lahan, citra satelit dan sistem peringatan dini dalam satu dashboard. Dengan sistem tersebut, kondisi DAS dapat dipantau secara lebih cepat dan terukur.
“Jangan sampai kita baru mengetahui kondisi Batanghari setelah banjir, air sudah keruh atau ikan sudah mati. Kita membutuhkan sistem monitoring real-time dan early warning,” ujar Ivan.
Quick Wins 2026–2028 Jangan Menunggu
Ivan menegaskan, Grand Design 2026–2045 tidak boleh membuat pemerintah menunggu hingga seluruh dokumen selesai baru bergerak. Karena itu, diperlukan Quick Wins 2026–2028, terutama untuk persoalan yang sudah dirasakan masyarakat. Langkah cepat tersebut meliputi monitoring kualitas air dan DO secara intensif, perlindungan petani ikan terdampak, pengamanan sumber air baku PDAM, pengendalian PETI dan sumber pencemar, optimalisasi AWLR serta pembangunan sistem peringatan dini. Sementara transformasi jangka panjang 2026–2045 dilakukan melalui penyusunan Grand Design, pemodelan hidrologi-hidraulik-sedimen, masterplan per Sub-DAS dan segmen sungai, SID/DED hingga konstruksi dan restorasi ekosistem.
Menuju Program Strategis Nasional
Grand Design tersebut juga memuat tahapan menuju Program Strategis Nasional (PSN) DAS Batanghari.
Tahapannya dimulai dari persiapan dan penguatan data serta kelembagaan, dilanjutkan Quick Wins dan penguatan monitoring, penyusunan masterplan/strategi pengelolaan DAS secara terintegrasi, penetapan SDI/DED dan prioritas kritis, hingga konsolidasi bertahap menuju penetapan Megasistem DAS Batanghari sebagai program strategis nasional. Ivan menilai status strategis nasional penting agar penanganan Batanghari mendapatkan skala kelembagaan dan pembiayaan yang sebanding dengan persoalan yang dihadapi. Skema pembiayaan dapat melibatkan APBN, APBD, KPBU/kerja sama pemerintah dan badan usaha, CSR serta hibah dan pendanaan internasional.
One Watershed, One Plan, One Data, One Management
Menurut Ivan, salah satu persoalan terbesar Batanghari adalah fragmentasi kewenangan. DAS Batanghari melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah kabupaten/kota, BWS, sektor kehutanan, lingkungan hidup, pertambangan, perikanan, air minum, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat. Karena itu, prinsip pengelolaan yang harus dibangun adalah: One Watershed – One Plan – One Data – One Management. Pengelolaan juga harus ditopang oleh lima faktor pendukung utama, yakni data terintegrasi, kolaborasi lintas wilayah, pendanaan berkelanjutan, partisipasi masyarakat dan penegakan hukum.

“Batas ekologis DAS harus menjadi dasar pengelolaan, bukan sekadar batas administrasi. Kalau masing-masing daerah berjalan sendiri, persoalan di hulu bisa menjadi beban bagi wilayah di tengah dan hilir,” tegasnya.
Target Besar 2045
Grand Design menetapkan sasaran besar hingga 2045, yaitu: Qmax/Qmin membaik dan lebih stabil. Baseflow meningkatz Sediment yield menurun, Kualitas air membaik, Biodiversitas pulih, Risiko banjir dan kekeringan menurun. Ekonomi masyarakat meningkat. Indikator pemulihan juga diarahkan pada penurunan TSS/NTU, peningkatan DO hingga memenuhi kebutuhan mutu air dan biota, penurunan BOD/COD, peningkatan tutupan vegetasi DTA, penurunan erosi tebing, pemulihan kapasitas floodplain, penurunan kejadian mortalitas ikan serta minimalisasi gangguan air baku.
Batanghari Bukan Beban, tetapi Investasi
Ivan menegaskan, penyelamatan DAS Batanghari tidak boleh dianggap semata-mata sebagai belanja lingkungan.
Batanghari merupakan sumber air baku, perikanan, pertanian, transportasi, pengendalian banjir, ketahanan pangan, biodiversitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, investasi untuk memperbaiki fungsi DAS pada dasarnya merupakan investasi untuk mengurangi risiko kerugian ekonomi dan ekologis di masa depan.
“Jangan lagi kita mengobati Sungai Batanghari hanya ketika banjir, air keruh, sungai dangkal atau ikan mati. Yang harus kita pulihkan adalah fungsi seluruh DAS-nya,” tegasnya.
Ia menambahkan, Batanghari harus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai sumber kehidupan dan kekuatan ekonomi Jambi.
“Hulu menyimpan air, sungai mengalirkannya, floodplain menahan dan meresapkannya, hilir-muara menerimanya secara terkendali. Batanghari harus diselamatkan sebagai satu megasistem—dari hulu sampai muara, dalam satu rencana dan satu tata kelola,” pungkasnya. (OYI)








Discussion about this post