Jambiday.com, JAMBI – Terbitnya Surat Keputusan (SK) Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jambi Masa Bakti 2026–2029 menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi dalam menjawab berbagai persoalan transportasi di Provinsi Jambi.
Ketua MTI Wilayah Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, S.T., M.M., M.T., menegaskan bahwa terbitnya SK Pengurus Pusat MTI Nomor KEP-20/KU-MTI/VIII/2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 19 Agustus 2026, bukanlah akhir dari proses organisasi. Sebaliknya, SK tersebut menjadi awal dimulainya kerja nyata seluruh jajaran pengurus.
“Dengan terbitnya SK ini, fase pembentukan kepengurusan telah selesai. Sekarang waktunya kita bekerja,” tegas Ivan, Selasa (8/9/26).
Menurut Ivan, MTI Wilayah Jambi memiliki modal sumber daya manusia yang cukup kuat untuk menjalankan fungsi organisasi sebagai wadah insan transportasi sekaligus transportation think tank di Provinsi Jambi. Komposisi pengurus MTI Wilayah Jambi Masa Bakti 2026–2029 berjumlah 92 orang, dengan latar belakang pendidikan, keilmuan dan profesi yang beragam.
Dari jumlah tersebut, 68 orang atau sekitar 73,91 persen merupakan laki-laki, sementara keterwakilan perempuan mencapai 24 orang atau sekitar 26,09 persen. Dari sisi pendidikan, komposisi pengurus juga menunjukkan kapasitas akademik yang kuat. Terdapat 4 orang guru besar/profesor, 6 orang bergelar doktor (S3), 41 orang berpendidikan S2, 26 orang berpendidikan S1, serta 11 orang berpendidikan SLTA sederajat.
Dengan demikian, pengurus MTI Jambi didominasi oleh lulusan S2 sebanyak 41 orang atau sekitar 44,5 persen, disusul S1 sebanyak 28,2 persen, SLTA sederajat 11,9 persen, doktor 6,6 persen dan guru besar/profesor sekitar 4,3 persen. Komposisi tersebut semakin memperlihatkan bahwa MTI Wilayah Jambi memiliki kekuatan keilmuan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang profesi. Ivan menilai keberagaman tersebut merupakan kekuatan penting bagi MTI dalam mengkaji persoalan transportasi yang semakin kompleks.
“Struktur kita memiliki kekuatan besar. Kita memiliki akademisi, praktisi dan berbagai latar belakang keilmuan. Ini harus kita satukan menjadi kekuatan untuk menghasilkan kajian dan rekomendasi yang bermanfaat bagi pembangunan transportasi Jambi,” ujarnya.
Tak Sekadar Organisasi, MTI Jambi Harus Jadi Think Tank
Ivan meminta seluruh pengurus tidak berhenti pada aktivitas organisasi yang bersifat seremonial. Ia ingin MTI Jambi berkembang menjadi organisasi yang mampu memberikan kontribusi nyata melalui kajian, data, gagasan dan rekomendasi kebijakan.
“Kita bukan sekadar organisasi penyelenggara seminar. Setiap isu strategis transportasi Jambi harus kita kaji sehingga MTI mampu menghasilkan policy brief, rekomendasi kebijakan dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan transportasi tidak dapat dilihat secara parsial. Masalah jalan berkaitan dengan angkutan, keselamatan, logistik, tata ruang, transportasi perkotaan, konektivitas sungai dan laut, penerbangan hingga transportasi berkelanjutan. Karena itu, keberagaman latar belakang pendidikan dan profesi dalam kepengurusan harus menjadi kekuatan untuk membangun kajian yang komprehensif.
Target 100 Hari, Harus Ada Karya
Ivan juga memberikan target awal bagi kepengurusan baru. Dalam 100 hari pertama, MTI Wilayah Jambi ditargetkan menghasilkan sedikitnya lima capaian konkret, yakni konsolidasi seluruh pengurus, Rapat Kerja Wilayah, program kerja masing-masing bidang, pemetaan atau baseline persoalan transportasi Jambi, serta sejumlah policy brief awal mengenai isu transportasi strategis.
Setiap bidang juga diminta menyusun maksimal tiga program prioritas yang realistis, terukur, memiliki PIC, target waktu, indikator keberhasilan dan menghasilkan output nyata.
“Kita ingin mengubah pola kerja dari ‘kegiatan’ menjadi ‘hasil’,” katanya.
Ivan menegaskan, tidak boleh ada bidang yang hanya tercantum dalam SK tetapi tidak memiliki aktivitas dan target kerja.

Kekuatan Akademisi dan Praktisi Harus Berdampak
Dengan keberadaan empat guru besar, enam doktor dan puluhan pengurus berpendidikan magister, Ivan berharap kekuatan akademik tersebut dapat diterjemahkan menjadi kajian yang mampu memberikan masukan terhadap kebijakan transportasi di Provinsi Jambi.
Di saat yang sama, keterlibatan praktisi dari berbagai profesi diharapkan dapat memastikan kajian yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.
“Kita ingin kekuatan akademik dan pengalaman praktisi ini bertemu. Kajian harus berbasis data, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga memastikan keterwakilan perempuan menjadi bagian dari komposisi kepengurusan MTI Jambi. Dengan 24 perempuan atau sekitar 26 persen dari total 92 pengurus, Ivan berharap semakin banyak perspektif yang dapat dihadirkan dalam pembahasan berbagai persoalan transportasi.
Membangun Agenda Strategis Transportasi Jambi
Selanjutnya, masing-masing bidang diminta segera memetakan persoalan transportasi sesuai bidangnya, mulai dari transportasi jalan, perkeretaapian, laut dan sungai, udara, digitalisasi, transportasi perkotaan, keselamatan, logistik dan multimoda hingga transportasi berkelanjutan.
Hasil pemetaan tersebut akan menjadi salah satu dasar untuk menyusun Agenda Strategis Transportasi Jambi 2026–2029.
Ivan juga mendorong penguatan komunikasi dengan Dewan Penasehat dan Dewan Pakar. Menurutnya, keberadaan unsur pemerintah daerah, DPRD, kepolisian, BPTD, perguruan tinggi, operator, Organda, Kadin serta para pakar merupakan modal besar untuk membangun kolaborasi.
“Potensi ini harus kita hidupkan menjadi forum kolaborasi, bukan sekadar susunan nama dalam SK,” katanya.
Di tengah kebutuhan kolaborasi tersebut, Ivan mengingatkan seluruh pengurus agar tetap menjaga independensi dan integritas. MTI, katanya, dapat menjadi mitra pemerintah, dunia usaha, akademisi maupun masyarakat, namun setiap kajian dan rekomendasi harus tetap profesional, objektif dan berorientasi pada kepentingan publik.
Masyarakat Harus Melihat Karya MTI
Ivan menegaskan, keberadaan 92 pengurus dengan latar belakang akademik dan profesi yang beragam merupakan amanah yang harus diwujudkan dalam bentuk kerja nyata.
“SK ini bukan akhir dari proses organisasi, tetapi awal dari tanggung jawab kita. Nama kita sudah tercantum dalam SK; sekarang masyarakat harus melihat karya kita,” harap Ivan.
Ia pun berharap MTI Wilayah Jambi tidak hanya dikenal karena seminar dan rapat, tetapi karena mampu menghasilkan kajian dan rekomendasi yang memberi solusi terhadap persoalan transportasi.
“Saya tidak ingin MTI Wilayah Jambi hanya dikenal karena seminar dan rapat. Saya ingin MTI dikenal karena kajiannya, datanya, gagasannya, rekomendasinya dan solusi yang diberikan bagi persoalan transportasi Jambi,” tambah Waka I DPRD Provinsi Jambi ini.
Dengan komposisi pengurus yang mengakomodasi keterwakilan perempuan, didominasi lulusan S2 serta diperkuat guru besar, doktor, akademisi dan berbagai profesi, MTI Wilayah Jambi diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat transportasi dan pembangunan Provinsi Jambi.
Ivan berharap seluruh potensi tersebut dapat bermuara pada satu tujuan: menghadirkan transportasi Jambi yang semakin aman, terintegrasi, efisien, berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Semoga keberadaan MTI Wilayah Jambi dapat memberikan manfaat bagi Provinsi Jambi,” pungkasnya. (OYI)







Discussion about this post