Monday, October 26, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home DAERAH

Perkuat SIPOL, KopiPede Tekankan Pentingnya Membangun Kapasitas Warga

by Redaksi
10/09/2026
in DAERAH
0
1
VIEWS
PostTweetShareScan

Jambiday.com, JAMBI — Demokrasi tidak cukup hanya dengan memastikan masyarakat datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana warga memahami hak politiknya, mampu menilai informasi, berani menyampaikan pendapat, ikut mengawasi kekuasaan, serta terus terlibat setelah pesta demokrasi berakhir. Gagasan itu menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Direktur KOPIPEDE, Bahren Nurdin, dalam pembahasan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Memperkuat Hak Sipil dan Politik (SIPOL): Meneguhkan Supremasi Sipil dan Checks and Balances” di Jambi.

Menurut Bahren, hak sipil dan politik atau SIPOL harus dipahami sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar persoalan Pemilu. Di dalamnya terdapat sejumlah unsur yang saling berkaitan, mulai dari supremasi sipil, checks and balances, media independen hingga ruang sipil yang memungkinkan masyarakat untuk berpikir, berbicara dan berpartisipasi.

Bacajuga

Fadhil Arief Kick Off Fun Football Pers Jambi, Batang Hari Unjuk Kekuatan

Malam Keakraban Insan Pers se-Jambi, Fadhil Arief: Sportivitas Bukan Hanya Soal Menang dan Kalah

Bupati Fadhil Dukung Fun Football Pers se-Jambi, Dorong Sportivitas dan Pergerakan UMKM

Budaya Hidup, Indonesia Berdaya, Wabup Bakhtiar Hadiri Closing Ceremony Hari Kebudayaan 2026

Bupati Fadhil Arief Hadiri Agenda Menteri HAM di UIN Jambi, Hak Masyarakat Adat Jadi Sorotan

Ketua DWP Batang Hari Meriana Rambe Ajak Perempuan Jadi Garda Terdepan Pencegahan Stunting

“Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah warga sudah memiliki hak, tetapi apakah warga juga memiliki kapasitas untuk menggunakan hak tersebut,” kata Bahren, Kamis (10/9/26).

Ia menilai, seseorang secara formal memang memiliki hak memilih. Namun, tanpa pengetahuan dan kemampuan untuk memahami pilihan, membandingkan informasi, menilai kandidat maupun kebijakan, hak tersebut berisiko berhenti sebagai hak formal semata. Hak Harus Diikuti Kapasitas
Bahren menegaskan bahwa voter education seharusnya menjadi jembatan antara hak politik dan keberdayaan politik warga. Pendidikan pemilih, kata dia, tidak boleh hanya berisi informasi teknis mengenai tahapan Pemilu, cara mencoblos, peserta pemilu atau surat suara. Lebih dari itu, warga perlu dibekali kemampuan untuk tahu, memahami, menilai dan kemudian bertindak.

Direktur KOPIPEDE, Bahren Nurdin saat menjadi nara sumber dalam FGD. FOTO: IST

“Voter education bukan sekadar sosialisasi Pemilu. Target akhirnya bukan hanya warga datang ke TPS, tetapi hadir sebagai warga negara,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, pendidikan pemilih harus diarahkan menjadi bagian dari civic capacity building, yakni membangun kemampuan warga untuk berpartisipasi secara sadar, kritis dan bertanggung jawab.

Dari Memilih hingga Mengawasi

Menurut Bahren, hak politik warga sebenarnya memiliki tahapan yang lebih luas. Tidak berhenti pada hak memilih, tetapi berkembang menjadi hak memperoleh informasi, hak menyampaikan pendapat, hak berpartisipasi dan hak mengawasi jalannya kekuasaan. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengecek sumber informasi, membandingkan klaim, membaca konteks, menguji rekam jejak, mengenali manipulasi informasi serta berani berbeda pendapat secara beradab.

“Pendidikan politik harus membuat warga semakin mampu menggunakan haknya. Bukan hanya menjadi pemilih yang datang ketika pemilu, tetapi menjadi warga yang kritis, peduli dan berani mengawasi,” jelasnya.

Melawan Hoaks Tak Cukup dengan Imbauan

Bahren juga menyoroti tantangan demokrasi di tengah derasnya arus informasi digital. Hoaks, disinformasi, politik identitas, politik uang, pencitraan tanpa rekam jejak, echo chamber hingga apatisme dapat memengaruhi kualitas keputusan politik masyarakat. Karena itu, pendidikan pemilih harus menjadi semacam “imunisasi nalar publik”. Warga tidak cukup hanya diberitahu bahwa sebuah informasi adalah hoaks. Mereka harus memiliki kemampuan untuk menemukan sumber, melakukan verifikasi dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.

“Kalau kita ingin warga tidak mudah dimobilisasi oleh informasi yang menyesatkan, maka yang harus dibangun adalah kemampuan berpikir kritis. Warga harus mampu memeriksa informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya,” katanya.

Pendidikan Politik Harus Berkelanjutan

Bahren menegaskan pendidikan politik juga tidak boleh muncul hanya menjelang Pemilu. KOPIPEDE, menurutnya, telah membangun berbagai kegiatan pendidikan politik dan ruang kewargaan sejak beberapa tahun terakhir, mulai dari gerakan pemilih cerdas, road show pendidikan politik, roadshow pemilih berintegritas, dialog publik hingga FGD.
Jejak kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan politik harus dilakukan secara konsisten melalui forum, literasi, dialog, partisipasi dan pengawasan.

“Pendidikan politik adalah investasi jangka panjang. Medianya boleh berubah, tetapi prinsipnya tetap: hadir, dengarkan, jelaskan, kritisi dan gerakkan,” tegas Bahren.

Kualitas Partisipasi Lebih Penting dari Sekadar Angka

Menurut Bahren, ukuran keberhasilan demokrasi juga tidak semestinya hanya dilihat dari persentase masyarakat yang datang ke TPS. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memahami pilihannya, apakah mereka bebas dari tekanan, apakah memperoleh informasi yang memadai, serta apakah tetap berpartisipasi setelah Pemilu.

“Jangan bertanya hanya berapa persen yang datang ke TPS. Tanyakan juga apakah mereka memahami pilihan, apakah mereka bebas dari tekanan, apakah mereka mampu memilah informasi, apakah mereka tahu cara mengawasi dan apakah mereka tetap terlibat setelah Pemilu,” ujarnya.

Dengan demikian, demokrasi perlu bergerak dari partisipasi kuantitatif menuju partisipasi bermakna. Sebab, kualitas demokrasi pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas partisipasi warga. Dirinya mendorong agar pendidikan pemilih dikembangkan menjadi pendidikan kewargaan demokratis dengan lima fondasi utama, yakni civic literacy, evidence literacy, digital civic space, youth democracy dan post-election watch.

Civic literacy dibutuhkan agar masyarakat memahami hak, lembaga, pemilu dan kebijakan. Evidence literacy membantu warga membaca data, berita, survei dan rekam jejak. Sementara ruang sipil digital dibutuhkan untuk melawan manipulasi tanpa mematikan kebebasan berbicara. Generasi muda perlu diberi ruang menjadi laboratorium demokrasi, sedangkan pengawasan pascapemilu penting agar janji politik tidak berhenti setelah suara diberikan.

“Tujuan akhirnya adalah membangun warga yang tidak mudah dimobilisasi, tetapi mampu mengorganisasi dirinya sendiri,” kata Bahren.

Dalam ekosistem tersebut, ia melihat KOPIPEDE dapat menjadi ruang temu antara pengetahuan, percakapan, jejaring dan aksi warga, dengan melibatkan KPU, Bawaslu, media, kampus, organisasi masyarakat sipil dan komunitas. Bahren akhirnya mengingatkan bahwa demokrasi tidak akan kuat hanya karena memiliki sistem Pemilu yang baik.
Demokrasi membutuhkan warga yang mengetahui haknya, memahami tanggung jawabnya, mampu menggunakan informasi secara kritis, berani menyampaikan pendapat dan konsisten mengawasi kekuasaan.

“Demokrasi tidak kekurangan pemilih. Demokrasi membutuhkan warga. Voter education harus menjadi investasi jangka panjang agar hak sipil dan politik tidak berhenti sebagai teks, tetapi menjadi kekuatan warga untuk memilih, berbicara dan mengawasi,” pungkasnya.

Dengan perspektif tersebut, pendidikan pemilih tidak lagi diposisikan sebagai program musiman menjelang pencoblosan, melainkan sebagai kerja kewargaan yang berlangsung sebelum, saat dan setelah Pemilu—demi membangun demokrasi yang lebih kritis, partisipatif, inklusif dan berkeadaban. (OYI)

Previous Post

Karhutla Jambi Belum Usai, Tebo Catat Hotspot Tertinggi dan ISPU Sangat Tidak Sehat

Next Post

Perkuat Ruang Sipil, Sukiman: Demokrasi Tak Boleh Kehilangan Ruang untuk Kritik

Next Post
Kanwil HAM Jambi saat menjadi narasumber via zoom pada kegiatan FGD yang digelar oleh Pusakademia. FOTO: OYI

Perkuat Ruang Sipil, Sukiman: Demokrasi Tak Boleh Kehilangan Ruang untuk Kritik

Pemasangan lilin di tugu pers oleh jurnalis. FOTO: IST

Jurnalis Jambi Gelar Doa Bersama untuk Rekan yang Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Oplus_16908288

Kalapas Jambi Klarifikasi Informasi Soal Kasur dan Dugaan Pungutan, Minta Publik Tak Terburu-buru Menyimpulkan

Bupati Batang Hari Membawa manajemen talenta ASN ke BKN. FOTO: LAN

Bupati Fadhil Bawa Manajemen Talenta ASN Batang Hari ke BKN, Birokrasi Profesional Jadi Target Utama

Keluarga besar Lapas Kelas II A Jambi dan warga binaan gelar sholat dan doa bersama mendoakan jurnalis dan ABK yang dinyatakan hilang saat liputan erupsi  gunung anak Krakatau. FOTO: DOC HUMAS Lapas.

Doa dari Balik Lapas Jambi untuk Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang di Gunung Anak Krakatau

Discussion about this post

Iklan

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK