Monday, September 28, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home PARLEMEN

Ivan Wirata Dorong Hilirisasi Lima Produk Unggulan Jambi, UMKM Harus Jadi Pelaku Utama

by Redaksi
19/09/2026
in PARLEMEN
0
Peta hilirisasi produk unggulan di Provinsi Jambi. FOTO: IST

Peta hilirisasi produk unggulan di Provinsi Jambi. FOTO: IST

1
VIEWS
PostTweetShareScan

Jambiday.com, JAMBI – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, mendorong pemerintah daerah membangun ekosistem hilirisasi yang lebih terarah untuk mengembangkan lima produk unggulan Jambi, yakni kopi, pinang, kayu manis, Batik Jambi dan pangan olahan.
Gagasan tersebut menempatkan hilirisasi bukan sekadar sebagai proses mengolah bahan mentah, tetapi sebagai strategi untuk menciptakan nilai tambah, memperluas pasar, meningkatkan omzet usaha, membuka lapangan kerja dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Melalui konsep “Dari Bahan Mentah Menuju Nilai Tambah, Pasar Luas dan Kesejahteraan”, Ivan mendorong agar komoditas Jambi tidak berhenti dijual dalam bentuk bahan baku. Produk harus dikonsolidasikan, diolah, distandardisasi, dikemas, diberi merek dan dihubungkan langsung dengan pasar.

Bacajuga

Bukan Sekadar Larangan Tanam Sawit, Ivan Wirata Dorong Regulasi Karhutla yang Lebih Komprehensif

Karhutla Jambi: 9.536 Hotspot, 3.416 Hektare Terbakar, 79 Kasus Ditangani

80 Persen CPO Masih Dijual Mentah, DPRD Jambi Dorong Percepat Hilirisasi Sawit

Belajar ke Jakarta, DPRD Jambi Dorong Hubungan Pangan dan UMKM Terhubung Pasar Nasional

62 Persen Sekolah Rusak, Jambi Tertinggi di Sumatera, Ivan Wirata Desak Revitalisasi Dipercepat

Sulteng Jadi Benchmark, Ivan Wirata Dorong Jambi Bangun Ekosistem “Cerdas 13+”

“Jambi tidak boleh terus-menerus hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Komoditas kita harus diolah, dikemas, diberi merek dan dipasarkan dari Jambi. Dengan demikian, nilai tambah dan lapangan kerja juga tinggal di Jambi,” kata Ivan, Sabtu (19/9/26).

Lima Komoditas, Lima Jalur Hilirisasi

Dalam peta hilirisasi yang disusun, kopi Jambi diarahkan berkembang dari produk dasar menuju komoditas bernilai tinggi. Rantai pengolahannya mencakup green bean premium, roasted bean dan bubuk kopi, kemudian dikembangkan menjadi produk siap konsumsi seperti drip bag, cold brew dan kopi siap minum.
Kopi Kerinci, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai biji kopi, tetapi sebagai produk yang membawa identitas daerah.

Peta hilirisasi produk unggulan di Provinsi Jambi. FOTO: IST

“Jangan hanya menjual biji kopi. Kita harus menjual kualitas, cita rasa, identitas asal, merek dan pengalaman. Di situlah nilai tambah yang lebih besar berada,” ujar Ivan.

Untuk pinang Jambi, hilirisasi diarahkan melalui pengeringan dan grading, kemudian dikembangkan menjadi bubuk dan ekstrak tanin serta bahan baku industri non pangan. Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk memperluas pilihan pasar dan mengurangi ketergantungan pada perdagangan bahan mentah. Pengembangan produk turunan pinang, menurut Ivan, tetap harus berbasis penelitian serta memperhatikan ketentuan kesehatan dan keamanan produk.

Sementara kayu manis Jambi, khususnya dari Kerinci, tidak hanya diarahkan untuk dijual dalam bentuk batang maupun bubuk. Peta hilirisasi mencakup pengembangan minyak atsiri dan oleoresin, yang selanjutnya dapat digunakan untuk teh, aromaterapi dan kosmetik.

“Kalau bahan bakunya kuat, maka kita harus membangun kemampuan mengolahnya. Hilirisasi kayu manis bisa mempertemukan petani dengan industri pangan, kosmetik, UMKM dan pasar yang lebih luas,” katanya.

Batik Jambi Tak Sekadar Kain

Pada sektor ekonomi kreatif, Batik Jambi diarahkan menjadi produk dengan nilai ekonomi sekaligus membawa identitas budaya daerah. Hilirisasinya mencakup pengembangan kain dan motif khas, kemudian menjadi busana dan seragam, hingga aksesori, dekorasi, suvenir serta produk wisata kreatif. Ivan menilai kekuatan Batik Jambi bukan hanya pada kain, tetapi juga pada motif, cerita budaya dan kreativitas para perajinnya.

“Batik Jambi mempunyai nilai budaya sekaligus nilai ekonomi. Kekuatan kita berada pada motif, kreativitas, cerita budaya dan kualitas produk. Ini harus menjadi bagian dari identitas ekonomi Jambi,” tegasnya.

Penguatan pasar dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, perlindungan kekayaan intelektual, regenerasi perajin, pengembangan desain serta perluasan akses pasar.

Pangan Olahan Jadi Ruang Besar bagi UMKM

Komoditas kelima adalah pangan olahan. Sektor ini dinilai memiliki ruang besar bagi keterlibatan UMKM karena bahan bakunya dapat berasal dari berbagai sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Produk dapat dikembangkan menjadi bumbu, tepung, produk beku, makanan siap masak, makanan siap saji dan oleh-oleh, termasuk produk dengan kemasan yang lebih modern dan memiliki daya saing pasar.

Namun, peningkatan kelas UMKM pangan membutuhkan dukungan terhadap sortasi dan pengemasan, standardisasi mutu, legalitas, pengujian umur simpan serta fasilitas produksi.
Karena itu, rumah produksi bersama, fasilitas pengemasan dan cold storage menjadi bagian penting dari ekosistem hilirisasi.

UMKM Bukan Sekadar Penerima Pelatihan

Menurut Ivan, inti dari hilirisasi adalah memastikan UMKM menjadi pelaku utama, bukan hanya menjadi peserta pelatihan atau penerima bantuan peralatan. Ekosistem tersebut dalam peta hilirisasi diperkuat sedikitnya melalui enam unsur, yakni koperasi dan BUMD, rumah produksi, standardisasi dan sertifikasi, kemasan dan merek, pembiayaan serta kontrak pasar.Koperasi dapat berfungsi mengonsolidasikan bahan baku dan memperkuat posisi tawar petani. Rumah produksi menjadi tempat pengolahan bersama, sementara UMKM berperan mengembangkan produk dan merek. Di sisi lain, BUMD dapat diarahkan untuk memperkuat fungsi agregasi, distribusi dan akses pasar.

“Bantuan peralatan jangan diberikan tanpa audit kebutuhan dan kepastian pasar. Mesin harus digunakan, rumah produksi harus mempunyai volume usaha, dan sertifikasi harus diikuti transaksi,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kontrak pasar. Dengan adanya kepastian pembeli, produksi UMKM dapat disusun berdasarkan kebutuhan pasar, bukan semata-mata berdasarkan program pelatihan atau kegiatan pameran.

Roadmap Hilirisasi 0–5 Tahun

Ivan mengusulkan hilirisasi dilaksanakan melalui tahapan yang terukur. Pada 0–1 tahun, pemerintah diarahkan fokus pada data, legalitas, peningkatan mutu dan kemasan. Tahap ini menjadi fondasi agar produk yang akan dikembangkan memiliki basis data dan standar yang jelas. Pada 1–3 tahun, program bergerak menuju penyediaan mesin pengolahan, rumah produksi, cold storage, fasilitas penyulingan, roasting dan penggilingan, sekaligus memperluas akses pasar.
Kemudian pada 3–5 tahun, hilirisasi diarahkan menuju pengembangan produk antara, industri pengolahan, kontrak perdagangan dan ekspor.Dengan tahapan tersebut, hilirisasi diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi berkembang menjadi rantai ekonomi yang menghasilkan transaksi secara berkelanjutan.

Keberhasilan Harus Bisa Diukur

Ivan menilai ukuran keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya berdasarkan jumlah pelatihan, peserta kegiatan atau jumlah bantuan peralatan yang disalurkan. Ada sejumlah indikator yang perlu diukur, antara lain: Bahan mentah yang berhasil diolah di Jambi. Jumlah UMKM yang naik kelas. Peningkatan omzet dan tenaga kerja, Nilai serta jumlah kontrak pembelian. Peningkatan ekspor produk olahan, Peningkatan harga yang diterima produsen.

“Indikatornya harus jelas: berapa banyak bahan mentah yang diolah di Jambi, berapa UMKM yang naik kelas, berapa omzet dan tenaga kerja yang bertambah, berapa nilai kontrak pembelian, serta berapa peningkatan ekspor produk olahan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar kebijakan hilirisasi dapat dievaluasi berdasarkan dampak ekonomi yang nyata, bukan sekadar jumlah kegiatan yang dilaksanakan. Pada akhirnya, konsep yang didorong Ivan menempatkan rantai ekonomi secara utuh, mulai dari komoditas, agregasi, pengolahan UMKM, standardisasi, merek, kontrak pasar hingga kesejahteraan.

“Arah kebijakannya adalah komoditas unggulan dikonsolidasikan melalui koperasi, diolah oleh UMKM, diperkuat dengan standardisasi dan merek, lalu dihubungkan dengan kontrak pasar. Dengan begitu, transaksi meningkat, nilai tambah tinggal di Jambi dan kesejahteraan masyarakat ikut naik,” pungkasnya. (OYI)

Previous Post

Jambi Bangga! Enam Atlet Wakili Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Next Post

Muaro Jambi dan Tebo Gigit Jari, Tak Masuk Penerima Bantuan Karhutla Padahal Jadi Wilayah Penyumbang Asap

Next Post
Edaran dari Mendagri terkait dana bantuan Karhutla di Provinsi Jambi. FOTO: IST

Muaro Jambi dan Tebo Gigit Jari, Tak Masuk Penerima Bantuan Karhutla Padahal Jadi Wilayah Penyumbang Asap

Oplus_19005440

80 Persen CPO Masih Dijual Mentah, DPRD Jambi Dorong Percepat Hilirisasi Sawit

Oplus_16908288

Presiden (Juga) Pendidik

Oplus_16908288

Karhutla Jambi: 9.536 Hotspot, 3.416 Hektare Terbakar, 79 Kasus Ditangani

Kanwil Ditjenpas Jambi Irwan Rahmat Gumilar didampingi Kepala UPT saat memberikan hasil kreasi warga binaan kepada Dirjen Pemasyarakatan. FOTO: IST

Batik dan Kreativitas Warga Binaan Jambi Dapat Apresiasi Dirjenpas, Irwan Rahmat Gumilar Dorong Pembinaan Naik Kelas

Discussion about this post

Iklan

Kalender

September 2026
SMTWTFS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930 
« Aug    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK