Jambiday.com, JAMBI — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jambi menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jambi, Kamis (8/10/2026). Aksi tersebut menjadi bentuk desakan mahasiswa terhadap Pemerintah Provinsi Jambi untuk lebih transparan dalam pengelolaan anggaran sekaligus mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih berdampak terhadap masyarakat.
Mengenakan pakaian serba hitam dan membawa payung, massa memadati kawasan gerbang Kantor Gubernur Jambi. Sejumlah mahasiswa tampak mengangkat poster bergambar seorang pengendara motor dengan tulisan “NIREMPATI NORAK”, yang menjadi bagian dari ekspresi kritik dan simbol perlawanan yang dibawa massa dalam aksi tersebut.

Poster-poster serupa juga terlihat dipasang di pagar pembatas aksi. Di tengah kepulan asap dan kondisi udara yang menjadi sorotan, mahasiswa terus menyuarakan tuntutan mereka kepada pemerintah daerah. Aksi berlangsung dalam pengawalan ketat aparat kepolisian. Ratusan personel disiagakan di sekitar lokasi untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan serta menjaga agar penyampaian aspirasi tetap berlangsung kondusif.
Dalam aksinya, Aliansi Mahasiswa Jambi menyampaikan lima tuntutan utama yang sebagian besar berkaitan dengan transparansi anggaran dan penanganan Karhutla. Pertama, mahasiswa mendesak Pemerintah Provinsi Jambi melakukan audit secara terbuka dan transparan terhadap penggunaan bantuan pemerintah pusat sebesar Rp30 miliar yang dialokasikan untuk penanganan Karhutla.

Kedua, mahasiswa meminta Pemprov Jambi mempercepat pemulihan dampak karhutla, mulai dari penyediaan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, pengelolaan data melalui satu pintu, hingga langkah pembasahan lahan gambut guna mencegah meluasnya kebakaran. Ketiga, mahasiswa mendesak adanya penindakan tegas terhadap perusahaan atau korporasi yang terbukti melakukan pembakaran maupun lalai dalam menjaga areal konsesinya. Mereka meminta sanksi tegas, termasuk pencabutan izin usaha, serta keterbukaan data mengenai areal terbakar yang berada di dalam kawasan izin perusahaan.
Keempat, mahasiswa meminta Pemprov Jambi menyusun dan menerapkan langkah pencegahan yang konkret dan berkelanjutan, sehingga persoalan karhutla tidak terus berulang setiap tahun. Sedangkan tuntutan kelima menjadi desakan paling tegas. Mahasiswa meminta wilayah Jambi terbebas dari kabut asap dalam waktu 5×24 jam.
Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, massa mendesak Gubernur Jambi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik atas kondisi karhutla dan kabut asap yang terjadi. Aksi mahasiswa hingga berita ini diturunkan masih berlangsung. Massa tetap bertahan di depan Kantor Gubernur Jambi sambil menyampaikan berbagai aspirasi dan tuntutan mereka. (OYI)



Discussion about this post