Thursday, October 29, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Jambi Masih Dihantui Karhutla: Hotspot Tinggal 5, Luas Terbakar 2.960 Hektare, Ivan Wirata Soroti Ketergantungan OMC

by Redaksi
13/09/2026
in NASIONAL
0
Oplus_16908288

Oplus_16908288

1
VIEWS
PostTweetShareScan

Jambiday.com, JAMBI — Penurunan drastis titik panas (hotspot) di Provinsi Jambi dalam beberapa hari terakhir menjadi kabar baik di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih membayangi. Namun, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, mengingatkan pemerintah dan seluruh Satgas Karhutla agar tidak menjadikan penurunan hotspot sebagai alasan untuk menurunkan kewaspadaan.

Berdasarkan Situasi Karhutla Provinsi Jambi per Sabtu, 12 September 2026 hingga pukul 19.00 WIB, tercatat hanya 5 hotspot pada periode pukul 00.00–16.00 WIB. Angka tersebut turun 73,7 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 19 titik.

Bacajuga

Ombudsman RI Soroti Layanan Tanah, Bencana dan Pelayaran: Pengawasan Harus Diperketat

Karhutla Jambi Tak Kunjung Tuntas, 4.852 Hektare Terbakar & 7.291 Kasus ISPA

Pigai: Suku Anak Dalam Berhak atas Pendidikan, Kesehatan, dan Pengakuan Negara

Keadilan Jangan Hanya Milik Orang Berduit, Ini Penegasan Menteri HAM Pigai

118 Pekebun dari Tiga Kabupaten di Jambi Belajar Cara Panen Sawit yang Benar

Mahasiswa Beri Waktu 5 Hari: Jambi Bebas Asap atau Gubernur Mundur!!

Namun di sisi lain, akumulasi hotspot sepanjang 1 Januari hingga 12 September 2026 telah mencapai 7.541 titik. Lebih mengkhawatirkan lagi, estimasi luas lahan yang terbakar telah mencapai ±2.960,47 hektare, atau bertambah 88,76 hektare dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat ±2.871,71 hektare.

“Lima hotspot tentu merupakan kabar baik, tetapi jangan sampai kita lengah. Hotspot turun, sementara luas terbakar justru sudah mendekati 3.000 hektare. Ini menunjukkan ancaman Karhutla belum selesai,” tegas Ivan, Minggu (13/9/26).

Tiga Hotspot Berada di Tebo

Dari lima hotspot yang terpantau pada 12 September, Kabupaten Tebo menjadi daerah dengan titik panas terbanyak, yakni 3 titik atau 60 persen. Sementara Bungo 1 titik (20 persen) dan Muaro Jambi 1 titik (20 persen). Sedangkan Batanghari, Merangin, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Kerinci, Kota Jambi dan Sungai Penuh tercatat nihil hotspot pada hari tersebut.

Tren harian menunjukkan hotspot sempat mencapai 354 titik pada 5 September, kemudian turun menjadi 198 titik pada 6 September, 189 titik pada 7 September, 134 titik pada 8 September, 166 titik pada 9 September, 19 titik pada 10 September dan kembali turun menjadi 5 titik pada 11 September sesuai periode pelaporan terakhir. Ivan menilai tren tersebut harus dijadikan momentum untuk memperkuat pencegahan, bukan mengurangi operasi lapangan.

“Jangan hanya melihat angka hari ini. Kita harus melihat tren, akumulasi, luas terbakar dan potensi kebakaran kembali. Api yang padam belum tentu bara di bawahnya benar-benar mati,” ujarnya.

Lima Kabupaten Menyumbang 84 Persen Hotspot Kumulatif

Jika dilihat secara kumulatif sepanjang 2026, hotspot Jambi terkonsentrasi di lima wilayah utama. Sarolangun menjadi daerah dengan hotspot tertinggi sebanyak 1.661 titik (22 persen), disusul Tanjung Jabung Barat 1.251 titik (16,6 persen), Batanghari 1.205 titik (16 persen), Tebo 1.195 titik (15,9 persen), dan Muaro Jambi 1.055 titik (14 persen).
Lima daerah tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 84,4 persen dari total 7.541 hotspot Jambi. Berikutnya, Merangin tercatat 504 titik, Tanjung Jabung Timur 314 titik, Bungo 275 titik, Kerinci 71 titik, Kota Jambi 9 titik dan Sungai Penuh 1 titik. Menurut Ivan, data tersebut seharusnya menjadi dasar penerapan penganggaran berbasis risiko.

“Kalau tingkat risikonya berbeda, maka intervensinya juga tidak boleh sama. Wilayah dengan hotspot tinggi, luas terbakar besar, kawasan gambut dan riwayat kebakaran berulang harus mendapat prioritas personel, anggaran, sumber air, patroli dan peralatan,” katanya.

Luas Terbakar Hampir 3.000 Hektare
Dari sisi luas lahan terbakar, Batanghari menjadi daerah dengan luasan terbesar, yakni 751,51 hektare atau 25,4 persen.
Kemudian Muaro Jambi mencapai 511,51 hektare (17,3 persen), Sarolangun 504,48 hektare (17 persen), Tanjung Jabung Barat 488,75 hektare (16,5 persen), Tebo 312,46 hektare (10,6 persen) dan Tanjung Jabung Timur 271,70 hektare (9,2 persen). Sementara Merangin tercatat 17,30 hektare dan Bungo 14 hektare. Kerinci, Kota Sungai Penuh dan Kota Jambi tercatat nihil luas lahan terbakar dalam laporan tersebut.

“Hotspot adalah indikator penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Kita harus melihat berapa hektare yang terbakar, apakah masih ada bara, apakah terjadi re-ignition, bagaimana kualitas udara dan apakah armada serta sumber air benar-benar siap,” kata Ivan.

Tebo Jadi Prioritas, ISPU Tembus 200

Kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan pemantauan pukul 08.00 WIB pada 12 September, ISPU Kabupaten Tebo mencapai 200 dan menjadi yang tertinggi, masuk kategori Tidak Sehat.
Muaro Jambi tercatat 178, Kota Jambi 124, dan Tanjung Jabung Timur 110. Keempat wilayah tersebut sama-sama berada dalam kategori Tidak Sehat.

“Kalau kualitas udara masih tidak sehat, maka penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman. Harus ada health response. Masyarakat harus mendapatkan informasi yang cepat dan kelompok rentan harus mendapat perlindungan,” ujarnya.

Ia meminta perhatian khusus terhadap anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang rentan terhadap dampak asap.

72 Kasus Karhutla, 14 Orang Tersangka

Dari aspek penegakan hukum, Satgas mencatat 72 kasus Karhutla, dengan rincian 59 kasus dalam tahap penyelidikan dan 13 kasus penyidikan. Dari penanganan tersebut terdapat 14 orang yang berstatus tersangka.
Ivan menegaskan penegakan hukum harus dikawal hingga tuntas dan tidak berhenti pada penetapan tersangka.

“Jangan berhenti pada angka 72 kasus dan 14 tersangka. Yang kita butuhkan adalah kepastian hukum dan efek jera. Kalau ada lokasi yang berulang kali terbakar, itu harus menjadi perhatian khusus,” tegasnya.

Armada Udara Harus Punya Sistem Cadangan

Kesiapan armada udara juga menjadi bagian penting dalam strategi penanganan Karhutla. Dalam laporan operasional 12 September, sejumlah pesawat dan helikopter tercatat beroperasi. Namun terdapat Heli Water Bombing RA-22840 berstatus pilot unfit, sementara Heli Water Bombing VN-B414 tercatat maintenance. Ivan meminta kondisi tersebut diantisipasi melalui sistem primary, backup dan ground response.

“Jangan sampai satu armada bermasalah lalu respons kita ikut melambat. Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak armada yang tercatat, tetapi berapa yang benar-benar siap ketika dibutuhkan,” katanya.

Jangan Terus Mengandalkan OMC

Ivan juga kembali menegaskan bahwa penanganan Karhutla Jambi tidak boleh bergantung pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) maupun water bombing.
Menurutnya, kedua instrumen tersebut tetap penting dalam kondisi tertentu, tetapi harus menjadi penguat, bukan fondasi utama sistem penanggulangan Karhutla.

“Kita jangan selalu mengandalkan OMC dan menunggu hujan. Yang harus diperkuat adalah kemampuan di darat: deteksi dini, sumber air, pembasahan gambut, patroli, Masyarakat Peduli Api, respons cepat, pendinginan sampai tuntas dan penegakan hukum. OMC dan water bombing adalah penguat ketika kondisi membutuhkan,” jelasnya.

Ivan menawarkan prinsip sederhana dalam penanganan Karhutla:
“Cegah sebelum api, padamkan sebelum besar, dinginkan sampai tuntas.”
Menurutnya, setiap hotspot harus segera diverifikasi. Jika ditemukan api, tim harus mampu bergerak sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

Sumber Air Harus Disiapkan Sebelum Api Muncul

Ivan meminta pemerintah melakukan audit terhadap seluruh sarana pendukung pemadaman, mulai dari embung, sumur bor, kanal dan tata air gambut, pompa, selang, akses menuju lokasi kebakaran hingga sistem komunikasi.

“Jangan baru mencari air ketika api sudah membesar. Sumber air harus dipetakan dan dipastikan tersedia sebelum musim kemarau. Ini harus menjadi bagian dari infrastruktur dasar pencegahan Karhutla,” katanya.

Khusus kawasan gambut, ia mendorong agar strategi diarahkan pada menjaga gambut tetap basah, bukan menunggu lahan terbakar kemudian dilakukan pemadaman.

MPA Harus Menjadi First Responder

Ivan juga meminta keberadaan Masyarakat Peduli Api (MPA) diperkuat. MPA, kata dia, tidak boleh hanya diposisikan sebagai tenaga tambahan ketika kebakaran sudah terjadi. MPA di kawasan rawan perlu mendapatkan pelatihan, peralatan dasar, sistem komunikasi, peta wilayah rawan dan SOP yang jelas sehingga dapat menjadi first responder di tingkat desa. Patroli pun harus dilakukan berdasarkan peta risiko, khususnya di kawasan yang memiliki riwayat kebakaran berulang.

Prioritas Penanganan: Tebo hingga Tanjung Jabung Timur

Terdapat enam wilayah yang ditetapkan sebagai prioritas penanganan berdasarkan kombinasi hotspot, luas terbakar, ISPU dan risiko. Prioritas pertama adalah Tebo, dengan ISPU 200, hotspot 3 titik dan luas terbakar 312,46 hektare, dengan rekomendasi Fire + Health Response. Prioritas kedua Muaro Jambi, dengan ISPU 178, hotspot 1 dan luas terbakar 511,51 hektare, dengan fokus pemadaman dan perlindungan masyarakat. Selanjutnya Batanghari menjadi prioritas ketiga dengan luas terbakar 751,51 hektare, meskipun hotspot harian 0; Sarolangun prioritas keempat dengan luas terbakar 504,48 hektare; Tanjung Jabung Barat prioritas kelima dengan luas terbakar 488,75 hektare; dan Tanjung Jabung Timur prioritas keenam dengan ISPU 110 serta luas terbakar 271,70 hektare.

“Data ini memperlihatkan bahwa wilayah yang perlu diawasi tidak selalu wilayah yang hari ini memiliki hotspot. Batanghari misalnya, hotspot hari ini nol, tetapi luas terbakar kumulatifnya paling besar. Jadi pendekatan kita harus berbasis risiko, bukan sekadar melihat angka harian,” jelas Ivan.

Dari Pemadaman Menuju Pencegahan Permanen

Ivan menilai momentum penurunan hotspot harus dimanfaatkan untuk mengubah paradigma penanganan Karhutla Jambi. Rantai penanganan yang dibangun, menurutnya, harus mencakup:
Deteksi dini → sumber air siap → gambut tetap basah → patroli dan MPA → respons darat cepat → pemadaman → pendinginan → water bombing/OMC sebagai penguat → penegakan hukum → pemulihan ekosistem → pencegahan kebakaran berulang.Ia menegaskan, target pemerintah tidak boleh hanya mengejar zero hotspot dalam satu hari.

“Target kita bukan hanya zero hotspot hari ini. Target yang lebih penting adalah zero fire, zero re-ignition, kualitas udara kembali sehat dan kawasan yang terbakar dipulihkan. Kita harus memutus siklus Karhutla agar tidak menjadi persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau,” ujarnya.

Ivan memastikan DPRD Provinsi Jambi akan terus mengawal kebijakan dan anggaran penanggulangan Karhutla, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak air yang berhasil dijatuhkan dari langit, tetapi berapa banyak kebakaran yang berhasil kita cegah. Api mungkin bisa dipadamkan, tetapi dampaknya tidak bisa dihapus begitu saja. Karena itu, pencegahan harus selalu lebih cepat daripada api,” pungkas Ivan. (OYI)

Previous Post

Hotspot Jambi Capai 7.541 Titik, Ivan Wirata: Jangan Andalkan OMC, Perkuat Pencegahan dari Darat

Next Post

Ketua SOKSI Jambi Tegas: Jangan Hakimi Misbakhun di Ruang Publik

Next Post

Ketua SOKSI Jambi Tegas: Jangan Hakimi Misbakhun di Ruang Publik

Pusakademia Rumuskan Lima Agenda Memperkuat Demokrasi dan Hak Sipil di Jambi

Oplus_16908288

Rp30 Miliar Dana Karhutla, Ivan Wirata: Jangan Habis untuk Rapat dan Seremonial

Kanwil Ditjenpas Jambi Irwan Rahmat Gumilar memimpin upacara sekaligus mengheningkan cipta sejenak sebagai wujud solidaritas sesama ASN yang gugur dalam tugas. FOTO: IST

Solidaritas Sesama ASN, Kanwil Ditjenpas Jambi Heningkan Cipta untuk ASN yang Gugur

Gubernur Jambi saat menyampaikan nota pengantar RAPBD perubahan 2026. FOTO: IST

RAPBDP Jambi 2026: Dari KUA-PPAS hingga Persetujuan 30 September, Ivan Wirata Beri Warning

Discussion about this post

Iklan

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK