Monday, June 22, 2026
  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan
No Result
View All Result
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
Bacaan Online Negeri Jambi
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Bacaan Online Negeri Jambi
No Result
View All Result
Home OPINI

Menyoal Keazaman Moral, Cita-cita Keadilan dan Harapan NKRI 2026

Oleh: Rusli Abdul Roni (Dosen UNITEN & Pengamat Sosial)

by Redaksi
31/12/2025
in OPINI
0
Oplus_16908288

Oplus_16908288

1
VIEWS
PostTweetShareScan

2025 akan menutup tirainya beberapa jam lagi. Tahun 2026 pula akan hadir membuka sejuta harapannya. Dan sejatinya 2026 tidak semestinya dipahami sekadar sebagai kelanjutan siklus pembangunan atau peralihan administratif. Ia merupakan momentum evaluasi moral kebijakan publik, terutama bagi para pengambil keputusan yang memegang amanah kekuasaan. Demikian juga semua elemen bangsa yang bertuah ini.

Di tengah ketidakpastian global, tekanan ekonomi, dan meningkatnya kesadaran kritis masyarakat, kebijakan publik tidak lagi dapat dinilai hanya dari capaian angka dan indikator teknokratis, melainkan dari integritas nilai yang melandasinya.

Bacajuga

Bedah Gaya Public Speaking Seskab vs Sesneg

Hilirisasi Sawit dan Jalan Besar Transformasi Ekonomi Jambi

Dampak Ekonomi Pengembangan UMKM Desa Penyangga Wisata

Kampus dan Libidus: Krisis Legitimasi Moral

​Bilik Suara Pendidikan sebagai Akar Demokrasi, Catatan Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Racun Digital: Segera Sediakan Rumah sakit Khusus

Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukanlah hak Istimewa atau kemuliaan, melainkan amanah dan tanggung jawab moral yang akan dipersoalkan. Setiap keputusan kebijakan pada hakikatnya adalah bentuk kesaksian etis: apakah ia berpihak pada keadilan atau justru mengabadikan ketimpangan. Oleh karena itu, keazaman yang dibutuhkan pada 2026 bukan sekadar keazaman politik, melainkan keazaman moral iaitu keberanian untuk konsisten antara nilai yang dikemukakan dan tindakan yang dijalankan.

Salah satu tantangan terbesar dalam tata kelola hari ini adalah normalisasi penyimpangan etika. Ketika ketidakjujuran dipandang sebagai kelaziman, konflik kepentingan ditoleransi atas nama stabilitas, dan ketidakadilan dianggap sebagai biaya pembangunan, maka sesungguhnya arah kebijakan telah menjauh dari prinsip kemaslahatan. Dalam kerangka maqāṣid syarī‘ah, kondisi semacam ini berisiko merusak tujuan utama hukum dan kebijakan yang meliputi perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan (maruah), dan harta.

Cita-cita nasional kerap diterjemahkan dalam sasaran pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing, dan efisiensi sistem. Semua itu penting dan diperlukan. Namun, tanpa keadilan sosial dan akuntabilitas moral, capaian tersebut berpotensi menjadi kemajuan yang timpang. Islam memandang pembangunan sebagai proses memuliakan manusia, bukan sekadar mengoptimalkan sistem. Karena itu, keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari output, tetapi juga dari dampaknya terhadap martabat dan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

Oleh itu selayaknya para pembuat kebijakan perlu mengajukan pertanyaan reflektif yang jujur: Apakah kebijakan yang dirumuskan benar-benar melindungi kelompok rentan?

Apakah sistem yang dibangun memperkuat amanah dan kepercayaan publik, atau justru membuka ruang penyalahgunaan kuasa? Apakah generasi muda dipersiapkan sebagai insan berintegritas, atau sekadar sebagai pelaku dalam sistem yang miskin nilai?

Dalam akhlak Islam, keadilan adalah kewajiban, bukan opsi kebijakan. Ia tidak tunduk pada kepentingan jangka pendek atau kalkulasi elektoral. Oleh sebab itu, 2026 menuntut keberanian untuk mengambil keputusan yang benar meskipun tidak selalu populer. Termasuk di dalamnya komitmen nyata untuk memperkuat institusi, menutup celah ketirisan, dan menegakkan prinsip akuntabilitas tanpa kompromi.

Harapan masyarakat hari ini bukanlah harapan yang polos, melainkan harapan yang kritis dan rasional. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi ketulusan niat, kejujuran proses, dan konsistensi pelaksanaan. Dalam kerangka akhlak Islam, harapan tumbuh dari kejujuran (ṣidq) dan amanah, bukan dari retorika dan pencitraan.

Justru, jika dimensi moral terus diabaikan, maka ketidakpercayaan publik akan semakin mengeras dan berpotensi melemahkan legitimasi kebijakan. Sebaliknya, apabila 2026 dijadikan titik balik untuk mengembalikan amanah pada tempatnya, menegakkan keadilan secara tegas, dan mengutamakan kemaslahatan bersama, maka harapan akan pulih secara alami dan berkelanjutan.

Ingatlah, sejarah tidak akan mengingat seberapa banyak kebijakan dirancang, melainkan sejauh mana keberanian moral ditunjukkan dalam mengelola kekuasaan. Dalam neraca maqāṣid syarī‘ah, keberhasilan sejati adalah ketika kebijakan publik menghadirkan keadilan, mencegah kezaliman, dan membuka ruang kemaslahatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sememangnya, 2026 masih menyisakan ruang pilihan. Ia dapat menjadi tahun pengulangan pola lama, atau tahun pembaruan moral kebijakan. Pilihan tersebut terbentang luas dihadapan semua elemen bangsa, khususnya para pemegang amanah hari ini-dan dalam perspektif Islam, setiap pilihan itu tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada publik, tetapi juga kepada Allah. Wallahua a’lam.. (***)

Previous Post

KI Jambi Tutup 2025 dengan 32 Sengketa Informasi PBJ, Lahan, dan CSR

Next Post

Gunakan ID Card Palsu, Oknum Mengaku Jaksa Diamankan di Jambi

Next Post
Oplus_16908288

Gunakan ID Card Palsu, Oknum Mengaku Jaksa Diamankan di Jambi

Oplus_16908288

Kepegawaian Hingga Agraria, Ini Lima Besar Laporan ke Ombudsman Jambi 5 Tahun Terakhir

Sarolangun dan Jalan yang Selalu Tertinggal

Oplus_16908288

AS Serang Venezuela dan Tangkap Maduro, Ini Hukum Internasional yang Dilanggar

HAB Kemenag Batang Hari, Fadhil Arief Ajak Jaga Harmoni

Discussion about this post

Iklan

Kalender

June 2026
SMTWTFS
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930 
« May    
Bacaan Online Negeri Jambi

© 2021 PT Limo Konco Mandiri - Jalan Kapten Pattimura No 67, Telanaipura. Developed by Ara.

  • Jambiday
  • Disclaimer
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Perlindungan

Media Sosial

No Result
View All Result
  • INTERNASIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • JAMBI
    • KERINCI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • EKBIS
  • KESEHATAN
    • COVID-19
  • KHAZANAH
    • BUDAYA
    • RELIGI
    • SELOKO
  • KRIMINAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • ORGANISASI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
    • PEMKAB
    • PEMKOT
    • PEMPROV
  • PEMILU
    • BAWASLU
    • KPU
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
    • CALEG
    • PARTAI POLITIK